LombokPost – Mete merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Lombok Utara, bahkan memiliki potensi ekspor.
Kabupaten termuda di NTB ini bahkan telah dideklarasikan sebagai Kabupaten Devisa Mete.
Saat ini, Lombok Utara tidak lagi memfokuskan pengembangan dengan menjual mete dalam bentuk mentahan.
Mete dipacu menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi dengan pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Pertamina Jamin Stok BBM Di Lombok Utara Stabil
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pelatihan hilirisai produk olahan mete. Kegiatan ini melibatkan petani hingga pelaku usaha mete Lombok Utara.
“Kami telah menggelar pelatihan yang diikuti 30 petani dan pelaku usaha dari Kecamatan Tanjung dan Bayan pada 28-31 Juli 2026,” ujar Kepala Diskoperindag Lomboik Utara Haris Nurdin, Jumat (31/7).
Dijelaskannya, ada tiga langkah utama dipetakan untuk mengoptimalkan potensi mete lokal.
Pertama, pemanfaatan keunggulan kualitas mete premium yang memiliki rasa alami gurih, ukuran biji seragam, serta kualitas murni tanpa campuran.
Baca Juga: Neraca Dagang NTB Surplus, Tembus USD 1,24 Miliar
“Karakteristik ini menjadi daya pikat utama saat tampil di berbagai ajang pameran atau expo,” sambungnya.
Kedua, penghentian penjualan bahan mentah dengan mendorong petani agar tidak lagi menjual gelondongan mete ke luar daerah. Melainkan mengolahnya terlebih dahulu menjadi produk siap saji.
“Tujuannya, agar margin keuntungan tetap berputar di tingkat petani,” katanya.
Terakhir, perluasan penetrasi pasar lokal dan kawasan wisata yang difasilitasi oleh Pemkab KLU lewat penguatan jaringan pemasaran.
Khususnya menyasar ritel lokal serta ekosistem industri pariwisata yang masif di Lombok Utara.
Nurdin menegaskan, mete merupakan salah satu tulang punggung ekonomi warga selain kelapa, kakao, dan kopi.
Baca Juga: Incar Vinicius Junior dari Real Madrid, Arsenal Siapkan Kejutan Besar di Bursa Transfer
Khususnya masyarakat di wilayah Loloan, Bayan, dan Kayangan. Potensi mete Lombok Utara sangat besar dan kualitasnya tergolong premium.
“Ke depannya, pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan agar penetrasi pasar bisa maksimal, terutama ke kawasan pariwisata. Kita ingin petani mengolah dulu hasil panennya baru dijual, sehingga ada nilai tambah nyata bagi kesejahteraan mereka,” terang Haris.
Salah satu ekspotir Lombok Utara Nazri Al Ayubi menyebutkan, potensi hasil pertanian di KLU sebenarnya sangat besar. Namun selama ini belum diimbangi dengan akses pasar yang memadai.
“Semua hasil pertanian ada di Lombok Utara, hanya pasarnya yang masih terbatas,” ujar direktur PT Verda Nusadaya Agro ini.
Baca Juga: Persiapan PON 2028, ICF NTB Desak Pembenahan Meninting Bike Park
Kata Nazri, KLU memiliki semua potensi komoditas ekspor. Hanya saja saat ini tinggal memperkuat akses pasar dan jalur logistik. Pihaknya ingin membuka akses agar produk lokal bisa dikenal luas di dunia.
“Kami sudah buka jalur ekspor cengkeh ke Inggris, dan mete ke India menyusul. Semua potensi itu ada di sini tinggal bagaimana kita membuka pintu pasarnya,” tutupnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post