Cuan Manis dari Bisnis Budi Daya Melon

Ferial Ayu • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 05:25 WIB
MENANTI PANEN: Sopian Hadi merawat tanaman melon miliknya agar berbuah besar di lahan miliknya, beberapa waktu lalu. (SUPARDI/LOMBOK POST)
MENANTI PANEN: Sopian Hadi merawat tanaman melon miliknya agar berbuah besar di lahan miliknya, beberapa waktu lalu. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost – Di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, ada kisah inspiratif dari wirausahawan muda.

Namanya Sopian Hadi, salah satu petani generasi Z (Gen Z) yang sukses mengembangkan budi daya melon.

Kisah sukses Sopian bermula dari rasa penasaran yang terlintas saat berselancar di media sosial.

“Saya cuma nonton tutorial di YouTube dan TikTok. Karena penasaran, akhirnya saya coba langsung di lahan,” ujar Sopian.

Baca Juga: Kebakaran Landa Kandang Sapi Warga di Kuta Mandalika, Damkartan Lombok Tengah Bergerak Cepat Padamkan Api

Langkah awalnya tak mulus. Pada percobaan pertama, seluruh tanamannya ludes diserang hama hingga ia menelan kerugian sekitar Rp 5 juta.

Namun, penderitaan itu tak membuat mentalnya ciut. Sopian kembali bersekolah di media sosial (medsos) untuk mempelajari teknik meracik pestisida mandiri dan penanganan penyakit tanaman.

Formulasi baru itu ia terapkan pada musim tanam kedua. Saat serangan hama kembali datang di usia tanaman satu bulan, pemuda gigih ini sudah siap tempur.

Racikan obat buatannya terbukti ampuh mengembalikan kesegaran kebun melonnya hingga panen tiba.

Baca Juga: Akhirnya, Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Dikabarkan Menikah 15 Agustus di Madeira

Tak berhenti di situ, tantangan pemasaran sempat membingungkannya. Kreativitasnya kembali diuji saat memanfaatkan lalu lintas pengunjung rumah makan milik sang kakak.

Halaman parkir disulap menjadi konsep agrowisata mini. Pengunjung bisa memilih, memetik, dan menimbang melon langsung dari pohonnya.

“Kalau pemasaran di sawah langsung, pembeli petik sendiri. Harganya Rp 15 ribu per kilogram,” kata dia.

Dari lahan terbatas di area parkir tersebut, Sopian kini mampu mengantongi keuntungan bersih berkisar Rp 5-7 juta dalam sekali panen.

Tak berpuas diri di lahan sempit, Sopian kini bersiap mengepakan sayap bisnisnya.

Ia tengah berburu lahan baru yang lebih luas. Itu demi mewujudkan mimpi besarnya menjadi pemasok utama buah melon untuk toko-toko buah di Lombok Timur hingga ke penjuru lain Pulau Lombok. 

Baca Juga: Proyek Infrastruktur Berjalan Lambat, Serapan DAK Fisik di NTB Semester I Baru 7,82 Persen

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post Online
Wirausahawan muda budi daya melon petani muda BISNIS Gen Z