LombokPost – Desa Andalan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, tak lagi hanya menjadi tempat memanen biji kopi.
Di tangan Rismadi, menjadi sebuah peluang cuan yang menguntungkan. Kebun tersebut berkembang menjadi tiga sumber pendapatan sekaligus. Penjualan kopi olahan, pasar kedai dan kafe, serta wisata kopi.
Konsep sederhana itu membuat komoditas perkebunan memiliki nilai ekonomi berlapis. Kopi yang tumbuh di kebun tidak langsung dijual sebagai hasil panen.
Melainkan diolah, dikemas, diperkenalkan kepada wisatawan, hingga menjadi pengalaman yang bisa dikonsumsi pengunjung.
Baca Juga: PEKKA Lobar Ubah Lahan Kosong Jadi Mesin Cuan
Rismadi merupakan penggagas Kopi Andalan Pawang Tenun. Ia mulai serius membenahi proses produksi sejak 2017 dengan menerapkan pemetikan selektif.
Hanya buah kopi berwarna merah yang dipetik, sementara buah yang masih hijau dibiarkan hingga matang.
Menurutnya, kualitas tidak cukup ditentukan dari tanaman. Penanganan setelah panen menjadi bagian penting untuk menghasilkan cita rasa yang konsisten.
Kopi kemudian melalui proses pencucian, penjemuran, hingga pengolahan menggunakan penumbukan maupun mesin pulper. Dari proses tersebut lahir tiga karakter kopi, yakni natural, honey dan wine.
Baca Juga: Korwil SPPG Dicopot Karena Abaikan Aturan Acuan, Pembelian dari Peternak Tetap Rp 26.500 Per Kg
Varian wine menjadi produk dengan harga tertinggi. Prosesnya membutuhkan waktu lebih panjang karena biji kopi dalam kondisi basah difermentasi sekitar satu bulan, kemudian dijemur selama satu bulan sebelum diproses lebih lanjut.
Hasilnya, kopi memiliki aroma menyerupai wine, tetapi tetap menghadirkan cita rasa kopi. “Dari tiga varian rasa, kalangan penikmat kopi bilang enak,” ujar Rismadi.
Untuk harga, varian natural dan honey dijual kisaran mulai dari Rp 35 ribu, sedangkan varian wine mulai dari Rp 40 ribu.
Pasar Kopi Andalan pun berkembang. Produk tersebut telah dikenal penggiat kopi di Lombok Utara dan Mataram.
Sejumlah kafe dan kedai menjadi konsumen karena proses produksinya mampu menghasilkan kopi tanpa bagian yang terbuang.
Namun, Rismadi tidak berhenti pada penjualan produk. Ia melihat kebun sebagai aset wisata.
Baca Juga: KPP Mataram Timur Tanamkan Kesadaran Pajak ke Siswa SMAN 1 Kediri
Bekerja sama dengan mitra dari Mataram yang sebelumnya menjalankan program Anak Tangguh di Desa Andalan, kebun kopi tersebut dikembangkan menjadi lokasi study tour.
Wisatawan diajak berkeliling kebun sambil mempelajari cara merawat tanaman. Termasuk teknik sambung pucuk agar pohon kopi tetap produktif tanpa tumbuh terlalu tinggi.
Setelah berkeliling, wisatawan disuguhi Kopi Andalan. Mereka juga mendapat satu sachet kopi sebagai buah tangan.
Menariknya, pemberian sampel justru menjadi strategi pemasaran yang efektif. Banyak wisatawan memilih membeli kembali setelah mencicipinya.
Baca Juga: Gubernur NTB dan Komisi VII DPR RI Perkuat Transformasi Ekonomi NTB
“Kita berikan satu sachet kopi gratis, tapi malah mereka banyak yang beli lagi,” katanya.
Wisatawan yang datang pun semakin beragam. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari Amerika dan Vietnam. Sebagian bahkan membawa Kopi Andalan untuk dinikmati di negara asal mereka.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post