Desa Berdaya Jadi Jalan UMKM NTB Tembus Pasar Global

Ferial Ayu • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 05:50 WIB
DORONG EKSPOR: Sejumlah produk UMKM NTB yang dipajang di etalase Bale KITA NTB, Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)
DORONG EKSPOR: Sejumlah produk UMKM NTB yang dipajang di etalase Bale KITA NTB, Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di NTB didorong tidak berhenti pada pasar domestik.

Program Desa Berdaya Desa Ekspor dinilai bisa menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk menembus pasar internasional, sekaligus membangun reputasi NTB di kancah global.

Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal mengatakan peluang tersebut terbuka karena banyak produk unggulan daerah memiliki kualitas yang mampu bersaing.

Namun, keberanian masuk pasar ekspor harus diikuti kemampuan menjaga mutu dan memenuhi permintaan secara konsisten.

Baca Juga: Ekspor Menurun, Ruang Fiskal NTB Ikut Tertekan

“Peluang ekspor bagi produk-produk unggulan NTB sangat terbuka, tetapi harus dibarengi dengan kemampuan menjaga kualitas dan memenuhi permintaan pasar secara konsisten,” ujarnya.

Menurut Sinta, salah satu persoalan yang masih dihadapi UMKM adalah anggapan bahwa ekspor merupakan proses yang rumit.

Padahal ketika pendampingan dan akses pasar tersedia, pelaku usaha memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami tahapan perdagangan internasional.

“Masih banyak pelaku UMKM yang ragu memasuki pasar ekspor karena menganggap prosesnya rumit dan belum memahami mekanisme yang harus ditempuh,” sambungnya.

Baca Juga: NTB Kejar Data Ekonomi Presisi

Program Desa Berdaya menjadi momentum untuk mengubah keraguan tersebut menjadi keberanian.

 Produk yang terpilih tidak hanya didorong untuk memenuhi persyaratan awal.

Tapi juga dipersiapkan menghadapi tuntutan pasar setelah kerja sama ekspor berjalan.

“Jangan berhenti di sudah terpilih sebagai produk yang dibina dan akan diberangkatkan ekspornya,” katanya.

Bagi Sinta, justru fase setelah produk diterima pasar luar negeri merupakan tantangan terbesar.

Pelaku UMKM harus mampu mempertahankan kualitas ketika jumlah pesanan meningkat.

Baca Juga: RESMI: Patrick Vieira Ditunjuk Jadi Pelatih Kepala Baru Timnas Senegal

“Tetapi menjaga kualitas, menjaga semangatnya, mempertahankan apa yang sudah didapat. Itu PR yang paling besar,” tegas Sinta.

Pengalaman mendampingi berbagai penugasan diplomatik gubernur NTB ke sejumlah negara juga menjadi gambaran penting.

Sinta menyebut calon pembeli luar negeri umumnya memberikan apresiasi terhadap kualitas produk Indonesia ketika pertama kali melihat dan mencobanya.

“Banyak calon buyer luar negeri memberikan apresiasi terhadap kualitas produk Indonesia pada awal kerja sama,” bebernya.

Baca Juga: Nakes Hingga Ambulans Dikerahkan ke NTT

Namun, kepercayaan tersebut dapat menurun apabila kualitas barang berubah ketika volume permintaan meningkat.

Karena itu, konsistensi produksi menjadi modal yang sama pentingnya dengan kualitas produk.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspor bukan sekadar soal mendapatkan pembeli pertama.

UMKM harus membangun sistem produksi, kontrol kualitas, kapasitas pasokan dan manajemen usaha agar mampu memenuhi kontrak secara berkelanjutan.

“Kita harus menjaga apa yang sudah didapat dan mempertahankan kepercayaan pasar,” katanya.

“Saya berharap para pelaku UMKM di NTB berani memperluas pasar,” pungkasnya.

Baca Juga: Pau Cubarsi Ungguli Yamal dan Diomande dalam Perburuan Golden Boy 2026

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
UMKM desa berdaya produk lokal global ekspor