LombokPost – Laju inflasi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menembus batas aman yang ditetapkan pemerintah.
Setelah sempat mengalami deflasi pada Juli, tekanan harga kembali menguat pada Agustus 2026.
Kondisi ini menjadi alarm bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, NTB mengalami inflasi bulanan sebesar 0,57 persen pada Agustus 2026.
Baca Juga: Mimpi NTB: Gili Mas Jadi Gerbang Cruise Asia
Angka tersebut berbalik cukup tajam setelah pada Juli daerah ini mencatat deflasi sebesar 0,35 persen.
“Pada bulan Juli kita mengalami deflasi minus 0,35 persen. Di bulan Agustus terjadi inflasi sebesar 0,57 persen,” kata Wahyudin.
Secara tahunan, tekanan harga juga semakin perlu diwaspadai. Inflasi year on year atau tahunan NTB tercatat 4,03 persen.
Sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,35 persen. Angka tahunan tersebut telah berada di atas sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Baca Juga: Legend is Back, Freelander 8 EREV Launching Awal September 2026
“Inflasi year on year kita 4,03 persen. Ini sudah di atas range yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Wahyudin menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama.
Sebab, rentang inflasi yang diharapkan pemerintah berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
“Ini merupakan warning bagi kita semua, baik TPID, anggota TPID maupun kabupaten dan kota. Harapan kita inflasi tetap terkendali dan tidak berada di bawah 1,5 persen ataupun di atas 3,5 persen,” tegasnya.
Tekanan harga pada Agustus terjadi cukup merata.
Dari 11 kelompok pengeluaran yang menjadi komponen penghitungan inflasi, seluruhnya mengalami inflasi.
Baca Juga: UD Sasaki, Dari Dapur Sederhana Lahirkan Cemilan Kekinian
Meski tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga, mayoritas komoditas pembentuk kelompok pengeluaran menunjukkan peningkatan.
“Dari sebelas kelompok pengeluaran yang kita hitung, semuanya mengalami inflasi,” jelas Wahyudin.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi sumber tekanan terbesar.
Inflasinya mencapai 1,13 persen dengan andil 0,42 persen terhadap inflasi umum NTB yang sebesar 0,57 persen.
Baca Juga: Range Rover GT, Kemewahan Sedan Fastback Bertemu DNA SUV
Kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu pemicu utama.
Kebutuhan ayam meningkat seiring kembali beroperasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah.
Di saat bersamaan, momentum bulan Maulid juga ikut mendorong permintaan pangan masyarakat.
Di sisi pasokan, NTB masih harus mendatangkan sebagian kebutuhan daging ayam ras dari luar daerah.
Ketergantungan tersebut membuat harga mudah terpengaruh ketika permintaan meningkat.
“Produsen daging ayam ras kita belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan NTB sehingga masih harus mendatangkan dari luar, seperti Surabaya atau Jawa Timur,” jelasnya.
Baca Juga: 4.886 PPPK Paro Waktu Lotim Diusulkan Digaji Pusat
Selain ayam ras, cabai rawit turut menyumbang inflasi.
Penurunan produksi akibat kondisi alam menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga.
Harga ikan layang, ikan benggol dan tongkol juga ikut terdorong.
Kondisi gelombang laut yang kurang bersahabat memengaruhi hasil tangkapan nelayan sehingga pasokan ke pasar berkurang.
Baca Juga: Gubernur Iqbal dan Urgensi Reformasi Birokrasi di NTB
Menariknya, tekanan inflasi masih tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga.
Tomat dan bawang merah menjadi beberapa komoditas yang membantu meredam laju inflasi.
“Harapan kita inflasi ini tetap terkendali dan berada dalam range yang sudah ditetapkan pemerintah,” tandas Wahyudin.
Inflasi NTB yang menembus 4,03 persen secara tahunan menjadi sinyal peringatan bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Perwakilan TPID NTB Nana Oktutiana mengatakan, pihaknya segera memperkuat konsolidasi bersama TPID kabupaten/kota, terutama daerah yang menjadi wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK).
“Ini merupakan early warning bagi kami di TPID. Kami akan segera melakukan konsolidasi dengan teman-teman TPID di kabupaten/kota,” kata Analis Kebijakan di Biro Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB ini.
Baca Juga: Pemprov NTB Perjuangkan Kepastian SHM Warga Transmigrasi
Menurutnya, pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui rapat, tetapi harus turun langsung ke pasar.
TPID juga akan memperkuat pasar murah, khususnya komoditas penyumbang inflasi seperti ikan dan daging ayam ras.
“Kami berharap kenaikan ini hanya terjadi bulan ini karena Maulid, sehingga bulan depan bisa kembali dalam range target nasional,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post