LombokPost – Stabilitas sistem keuangan menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Karena itu, Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB terus memperkuat sinergi antarlembaga untuk menghadapi dinamika global sekaligus memastikan roda ekonomi daerah tetap bergerak.
Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam Media Briefing Forum KSSK NTB Triwulan III 2026 di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTB, Selasa (15/9).
Forum ini melibatkan Bank Indonesia (BI) NTB, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, DJPb NTB, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Nusa Tenggara, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Regional II.
Baca Juga: Karcis Masuk Gili Balu Diprotes Dewan KSB, Ini Penjelasan Kepala Dislutkan NTB
Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Ignatius Adhi Nugroho mengatakan, kondisi global masih perlu dicermati, terutama terkait perkembangan rantai pasok.
Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, perekonomian NTB menunjukkan kinerja positif.
Pada triwulan II 2026, ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang ekspor hasil pengolahan smelter dan konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, tekanan harga tetap menjadi perhatian. Inflasi NTB pada Agustus 2026 tercatat 0,57 persen secara bulanan dan 4,03 persen secara tahunan.
Baca Juga: Mataram Jadi Daerah Siaga Stroke Kedua di Indonesia
Menghadapi periode Maulid, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat pengendalian harga melalui Gerakan Pangan Murah, pemantauan pasokan, gerakan tanam cabai, hingga dukungan sarana dan prasarana pertanian.
Dukungan terhadap ekonomi masyarakat juga diarahkan pada sektor riil.
BI mendorong pengembangan desa wisata, UMKM, komoditas unggulan, serta digitalisasi pembayaran.
Program tersebut menyasar Desa Berdaya, termasuk Sembalun Bumbung dan Tetebatu di Lombok Timur.
Bantuan sarana pertanian juga diberikan untuk komoditas strategis seperti bawang putih, bawang merah, cabai, dan kopi.
Baca Juga: Makin Mewah, Lexus LS Terbaru Dibekali Teknologi REDS
Sementara itu, OJK mencatat penyaluran kredit perbankan di NTB mencapai Rp 80,25 triliun atau tumbuh 4,65 persen yoy.
Dari sisi fiskal, penyaluran KUR hingga 31 Agustus mencapai Rp 4,82 triliun kepada 108.995 debitur.
Penerimaan pajak hingga Juli 2026 juga mencapai Rp 1.665,78 miliar, tumbuh 17,85 persen.
LPS Regional II memastikan hingga 31 Agustus belum terdapat bank di NTB yang dilikuidasi.
Ke depan, Forum KSSK NTB akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperluas akses pembiayaan, investasi, dan pengembangan usaha.
Baca Juga: Harga Rp 120 Jutaan, Toyota Glanza Terbaru Dibekali Mesin Super Irit
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi NTB tetap inklusif dan berkelanjutan.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post