LombokPost - Monumen Reog dan Museum Peradaban Ponorogo memang sudah diresmikan, tetapi belum sepenuhnya selesai. Baru mulai ramai tiga bulan terakhir, terutama karena banyak yang penasaran dengan status patung tertinggi memecahkan rekor Garuda Wisnu Kencana di Bali.
DESA/Kecamatan Sampung berjarak sekitar 16,3 kilometer dari pusat Kota Ponorogo, Jawa Timur. Lumayan jauh. Namun, saat momen libur tahun baru lalu, sempat terjadi kemacetan panjang di sana.
Pengunjung dengan berbagai kendaraan, dari mobil pribadi, bus, hingga kereta kelinci, berjubel di Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) yang berlokasi di desa tersebut. Bangunan paling ikoniknya adalah Patung Reog, patung tertinggi di Indonesia.
“Kemacetannya sampai sekitar lima kilometer,” kata Ketua Paguyuban Masmorogo Wijang Susanto kepada Radar Ponorogo Grup Jawa Pos, Minggu (11/1).
Keramaian itu seperti menjawab pertanyaan banyak orang tentang nasib MRMP. Sebab, proyek yang menghabiskan biaya Rp 73,87 miliar tersebut sempat dikaitkan dengan kasus hukum Sugiri Sancoko, bupati nonaktif Ponorogo yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus suap pengurusan jabatan dan proyek RSUD pada 9 November 2025.
Proyek tersebut memang telah diresmikan pada Agustus tahun lalu, tetapi masih ada sejumlah fasilitas yang belum dibangun. Apalagi, setelah diresmikan, jumlah pengunjung tergolong minim.
Dari 26 lantai museum, misalnya, baru terbangun betonnya. Musala dan toilet umum, contohnya, masih nihil di lokasi. Selama ini, para pengunjung memanfaatkan toilet yang disewakan warga.
Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Dwi Santoso menyebut, pihaknya menanti arahan pimpinan terkait kelanjutan proyek di atas lahan seluas 29 hektare tersebut. “Potensi MRMP memang luar biasa, kelihatan di lapangan banyak kunjungannya,” kata Dwi.
Menurut Wijang, potensi tersebut terlihat dalam tiga bulan terakhir. “Baru tiga bulan ini, setelah kami buat semacam live music dan kegiatan, banyak pengunjung yang datang,” kata Wijang.
Setiap hari, ratusan hingga ribuan warga berkunjung untuk menjawab rasa penasaran terhadap monumen yang dibangun di kawasan gunung gamping itu. Pelancong juga datang dari luar Ponorogo, seperti Ngawi, Magetan, Pacitan, Surabaya, hingga Malang. Kunjungan melonjak pesat pada akhir pekan.
Ricky Hermawan, misalnya. Pengunjung asal Madiun, Jawa Timur, itu penasaran dengan informasi di dunia maya tentang terpecahkannya rekor patung tertinggi Garuda Wisnu Kencana di Bali setinggi 121 meter oleh Patung Reog di Ponorogo yang tingginya 126 meter.
Sesampainya di lokasi, Ricky tidak dapat langsung naik ke atas monumen. Kendati demikian, dia bersama keluarga mengaku puas. Apalagi ada UMKM yang berjajar di sepanjang area serta pasar malam sebagai hiburan.
“Anak-anak senang, aksesnya juga mudah, hanya ditarik parkir seikhlasnya. Jadi, cukup worth it,” ungkapnya.
Dampak ke Masyarakat
Ramainya wisatawan berdampak langsung terhadap perekonomian warga setempat. Wijang mencatat, lebih dari 50 penduduk sekitar membuka lapak UMKM di sekitar monumen. Jumlah tersebut bahkan meningkat dua kali lipat saat event dan akhir pekan.
“Untuk pedagang dari paguyuban diprioritaskan warga lokal. Dari luar boleh berjualan saat ada event saja. Seperti sekarang ada pasar malam, jumlahnya banyak, sekitar 50 lebih yang datang,” jelasnya.
Lapak UMKM diprioritaskan untuk warga setempat bukan tanpa alasan. Wijang menyatakan, kebijakan tersebut diberlakukan setelah adanya temuan pedagang nakal.
Mereka yang berasal dari luar daerah mematok harga dagangan lebih mahal dari harga normal. Kondisi tersebut dinilai merugikan citra pedagang lokal yang sehari-hari menggantungkan hidup dari berjualan.
Disinggung mengenai kelanjutan pembangunan MRMP, paguyuban mendukung proyek tersebut untuk dilanjutkan. Para pedagang siap berhenti berjualan sewaktu-waktu jika proyek kembali dijalankan.
“Sebab, dampak ekonomi telah dirasakan warga. Sekarang jadi ramai, tentu masyarakat senang,” kata Wijang. (*/kid/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji