Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Lalu Deni Anak Buruh Galian Pasir yang Lulus Jadi Polisi

Administrator • Selasa, 3 Maret 2020 | 18:31 WIB
MENGHARUKAN: L Deni Hamtarmiozi mencium kening ibunya, Sri Gading usai resmi menjadi anggota polisi di SPN Belanting, Lombok Timur, Senin (2/3).(Harli/Lombok Post)
MENGHARUKAN: L Deni Hamtarmiozi mencium kening ibunya, Sri Gading usai resmi menjadi anggota polisi di SPN Belanting, Lombok Timur, Senin (2/3).(Harli/Lombok Post)

Lalu Deni Hamtarmiozi lahir dari keluarga  kurang mampu. Ayahnya seorang buruh angkut di galian pasir. Namun dengan tekad dan semangatnya yang  kuat, kini dia menjadi anggota polisi. Berikut kisahnya.



SUHARLI, BELANTING


-------------------------------------------------------------------------------------------

Isak tangis haru menyelimuti suasana penutupan pembentukan Bintara Polri tahun ajaran 2019/2020 di SPN Belanting Polda NTB. Lalu Deni berlari mencari ibu dan ayahnya dari tengah lapangan.


Terlihat dia sudah rindu karena tujuh bulan tak bertemu. Matanya memindai ribuan orang di lapangan.


Hingga akhirnya pemuda kelahiran 23 Agustus 2000, itu melihat ibunya, Sri Gading  dan ayahnya L Tarmizi sedang duduk berteduh di bawah pohon. ”Ibu,” panggil Deni menghampiri.


”Anakku,” timpal Sri dengan penuh semangat. Sri terlihat bahagia. rasa rindu itu akhirnya terbayarkan.


Deni langsung menyalami ibunya. Menciumnya. Lalu memeluknya dengan erat. Suasana pun pecah.


Isak tangis mewarnai pertemuan itu. ”Terimakasih ibu. Terimakasih telah membimbingku,” kata Deni.


Tarmizi yang melihat situasi itu juga tak mampu menahan tangis. Tak terasa air matanya menetes ambil mengelus-elus punggung Deni.


Usai memeluk Ibu, Edi kembali menyalami bapaknya. Dia juga berterimakasih kepada sang ayah. ”Saya bisa seperti sekarang berkat doa bapak. Terimakasih pak,” kata Deni sambil memeluk erat ayahnya.


”Kebahagian ini, susah diungkapkan dengan kata-kata,” kata Deni.


 Kondisi ekonomi keluarganya memang tak seberuntung orang lain. Ayahnya hanya sebagai buruh angkut pasir. Ibunya hanya seorang penjual gorengan. ”Penghasilan orang tua memang tak seberapa,” jelasnya.


Penghasilan orang tuanya yang menjadi buruh tambang pasir tak menentu. Terkadang membawa uang pulang hanya Rp 20 ribu. Kadang juga tidak. ”Syukur ada ibu yang membantu,” ujarnya.


Dia menjual gorengan dan kue. Dia bisa menghasilkan paling banyak Rp 50 ribu. ”Itu pun kalau ramai,” jelasnya.


Deni malu untuk meminta uang saku lebih banyak. Setiap sekolah dia hanya meminta uang saku Rp 10 ribu.  ”Dari uang itu, terkadang saya tabung Rp 2 ribu,” ungkapnya.


”Saya tidak ingin menyusahkan orang tua,” kata pemuda kelahiran Kampung Bugis, Taliwang  Sumbawa Barat itu.


Setelah lulus SMA dua tahun lalu, dia mendaftar sebagai anggota Polri. Tetapi, gagal. ”Saya tidak lulus saat pertama mendaftar,” ujarnya.


Karena gagal, dia tak punya pilihan lain. Hanya ikut menjadi penambang pasir seperti ayahnya. ”Tetapi, ayah saya melarang,” ujarnya.


”Saya masih ingat perkataan ayah, beliau bilang tidak usah  kamu seperti ayah (tambang pasir) yang hanya bisa menjual tenaga. Jangan cepat putus asa. Coba lagi,” ingatnya.


Dari kalimat orang tuanya itulah, Deni kembali bangkit. Dia belajar dari kegagalan. Dia fokus mempersiapkan diri. ”Saya harus lebih selangkah dari orang tua,” ujarnya.


Dia yakin, meski dengan keterbatasan apapun dia pasti bisa lulus. Saat itu, Deni yang memiliki uang Rp 50 ribu, lalu membeli buku tes kompetensi dasar. ”Buku itu yang terus saya pelajari hingga malam,” jelasnya.


Untuk latihan fisik, dia belajar sendiri. Tanpa menggunakan mentor. ”Saya tanamkan dalam hati. Pokoknya saya harus menjadi pemutus rantai kemiskinan di keluarga saya,” kata Deni.


Dengan tekad yang kuat, Deni akhirnya diterima dan lulus sebagai anggota polisi. Dengan pangkat Bripda. (*/r2)

Editor : Administrator
#polda ntb #Headline #Lalu Deni Hamtarmiozi #SPN Belanting