Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Pepadu di Tanah Karang Bagu: Kepala Kerbau Syarat Membuka Bale Kodeq (2)

Miq Ade • Selasa, 7 November 2023 | 21:29 WIB
Asmuni memperlihatkan huruf jejawan yang tertulis di lontar kuno yang disimpannya.
Asmuni memperlihatkan huruf jejawan yang tertulis di lontar kuno yang disimpannya.

 

Setidaknya ada dua bukti Karang Bagu dulunya kampung dengan budaya luhur dan tradisi yang tinggi. Bale Kodeq dan lontar kuno. Sayang, keduanya perlahan ditinggalkan generasi pemuja zaman.

 

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

 

 

SALAH satu bukti Karang Bagu memiliki nilai budaya tinggi adalah keberadaan Bale Kodeq atau rumah kecil.

“Itu letaknya di RT 2,” tutur Asmuni.

Di dalam bale kodeq tersimpan piagam dalam bentuk lontar-lontar yang ditulis menggunakan huruf jejawan atau aksara Sasak.

Asmuni meyakini, lontar itu menyimpan petunjuk tentang kehidupan masa lampau.

Termasuk juga menguatkan bukti Karang Bagu pertama kali ditempati para jawara yang loyal pada kerajaan di masa Anak Agung. 

“Cuma memang tidak bisa dibuka sembarangan (bale kodeq),” ucapnya.

Membuka bale kodeq yang menyimpan cerita masa lampau itu harus melalui ritual khusus.

Salah-salah membukanya, malah dapat membuat kesurupan. 

“Dibukanya pada waktu bulan petangan saat maulid,” jelasnya.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum gembok bale kodeq yang melambari tingginya budaya dan tradisi Karang Bagu dibuka.

Salah satunya yakni ritual persembahan satu ekor kerbau.

“Harus dipotongin kerbau,” ungkapnya menggambarkan betapa sakral dan wingitnya tempat itu.

Belakangan menurut juru kunci syarat satu ekor kerbau dapat ‘dinegosiasikan’.

“Kalau dulu satu ekor kerbau masih bisa diperoleh dan biayanya tidak terlalu mahal, tapi sekarang yang penting ada kepala kerbau. Sekadar memenuhi syarat,” kata pria keturunan Pejanggik itu.

Itu saja syaratnya?

Ternyata masih ada lagi.

Ritual membuka bale kodeq dilengkapi dengan syarat persembahan lain atau dalam istilah Sasak: andang-andang.

“Ada santan, santan kuning, beras, kelapa, telur, ayam, benang kataq (benang mentah, Red),” jelasnya.

Setelah berbagai syarat itu terpenuhi barulah upacara bisa dilangsungkan.

Kemudian benda-benda kuno bersejarah di dalam bilik itu dapat dikeluarkan tapi bukan untuk dibawa pulang.

“Benda-benda itu bukti bahwa dulu di Karang Bagu ini pernah ada tradisi dan budaya yang tinggi,” ujarnya.

Selain benda yang tersimpan di dalam bale kodeq itu, Asmuni juga menyimpan satu lontar di rumahnya.

Benda itu disimpan dalam gegandek (tas dari anyaman bambu) besar yang telah lusuh, menghitam dan berdebu, serta dipenuhi jaring laba-laba.

Pada kesempatan itu, Asmuni  mengeluarkan takepan atau lontar untuk diperlihatkan pada Lombok Post.

Asmuni tidak mengetahui persis apa isi dari lontar itu. “Yang jelas sejarah yang berharga,” tekannya.

Tapi bale kodeq dan lontar lusuh itu kini nyaris menjadi benda kuno belaka.

Tidak lagi menjadi sumber pelajaran nilai memperteguh jati diri.

Asmuni mengungkapkan kegelisahannya pada pudarnya penghargaan generasi masa kini.

Mereka tidak mau lagi mempelajari dan meneladani nilai di dalam benda-benda bersejarah itu.

“Mereka bilang ini kuno, zaman sudah berubah, tidak bisa dipakai lagi,” ujarnya.

Wajah Asmuni berubah. Kepalanya yang tegak sedikit tertunduk.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya pada nilai dan budaya luhur yang diwariskan pendahulu, terancam terputus dan tak terwarisi oleh generasi berikutnya.

Pengelinsir (tokoh sepuh) sudah tidak ada semua, tinggal saya saja,” ujarnya dalam.

Ia bukannya tidak mau mengader generasi penerus.

“Persoalannya tidak ada yang mau,” katanya dengan raut wajah berkerut.

Padahal saat ini banyak nilai luhur yang mulai pudar di sekitarnya.

“Contoh saja pada saat begawe (pesta, Red) dulu setiap pemuda tegep (lengkap) menggunakan pakaian adat, mulai dodot, kereng, sapuq,” sebutnya.

Begitu juga adat dan tradisi sorong serah aji krame atau semacam prosesi seserahan dalam pernikahan.

Semuanya perlahan memudar atas nama zaman telah modern.

“Kalau menurut saya, zaman boleh berubah tetapi apa yang menjadi budaya luhur harus kita pertahankan sebagai identitas kita,” ungkapnya.

Jangankan pada budaya pernikahan yang lebih rumit, pada sisi yang lebih sederhana semisal budi pekerti banyak warga yang tidak memegang teguh lagi.

“Dulu kalau kita lewat di depan orang tua selalu bilang nurge atau tabeq walar,” ujarnya.

Tapi sekarang nyaris tidak ada lagi yang mau melakukan itu.

Lagi-lagi atas nama kemajuan zaman dan tudingan budaya tidak relevan lagi.

Asmuni mengatakan, lunturnya nilai budaya dan budi pekerti itu secara drastis terjadi pada sekitar tahun 2000-an.

“Nyaris tidak ada lagi yang mau mempertahankan, jati diri kita hilang,” ungkapnya masygul.

Pada titik ini ia mengatakan tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Karang Bagu dulu dengan Karang Bagu sekarang banyak yang berubah.

Asmuni tidak tahu siapa yang salah. Apakah 17 Jawara yang dulu membuka tanah Kepah Tanaq Malit yang menjadi cikal bakal Karang Bagu bangga atau bersedih dengan kondisi masyarakat Karang Bagu saat ini. 

“Saya hanya bisa berharap suatu ketika akan datang masa di mana warga Karang Bagu, kembali menjunjung tinggi keluhuran budi, menghargai budaya dan tradisi sebagai identitas diri. Kepuasan ekonomi bukanlah semata-mata tujuan kita di dunia ini,” ungkapnya dalam. (*)

Editor : Prihadi Zoldic
#Karang Bagu #Nilai #ritual #tradisi #lontar #kuno #Asmuni #jawara #budaya #kampung