LombokPost--Ojek gabah dan jagung banyak digeluti masyarakat Desa Perigi, Kecamatan Suela.
Kondisi geografis lahan-lahan pertanian yang berada di ketinggian, membuat para transporter ini kerap banjir orderan saat panen tiba. Berikut ulasannya.
--------------------------
Puluhan sepeda motor jenis CB terparkir rapi di sepanjang jalan menuju salah satu bukit di Desa Perigi.
Mereka layaknya sebuah komunitas motor yang hendak touring melewati jalan berbatu dan terjal di pegunungan.
Terlihat tidak ada satu orang pun yang menggunakan alat pelindung, apalagi helm dan jaket.
Pengendaranya hanya mengenakan sandal jepit, celana panjang dan kaos berlengan panjang.
Bahkan beberapa orang terlihat tidak mengenakan baju.
Mereka merupakan para transporter. Mengangkut jagung dan gabah dari lahan-lahan petani di atas bukit menuju ke rumah pemiliknya.
Kondisi geografis Desa Perigi yang berbukit membuat ojek pengangkut gabah banjir orderan.
Jalan menuju sawah petani tidak memungkinkan untuk dilewati mobil.
Miftahul Hadi, ketua ojek jagung menceritakan, hampir sebagian besar laki-laki di Desa Perigi berprofesi menjadi ojek jagung.
Profesi ini sudah puluhan tahun digeluti. Satu kelompok ojek beranggotakan 10-25 orang.
”Saya mulai jadi ojek jagung dan gabah sejak tahun 2010 lalu. Pekerjaan ojek pengangkut jagung adalah pekerjaan musiman kami di sini,” terang Hadi saat ditemui Lombok Post, Minggu (21/4).
Tingginya orderan mengangkut hasil panen, membuat ia bekerja hingga larut malam.
Jalan berbatu, licin, dan terjal, bisa dengan mudah dilahapnya.
Upah mengangkut jagung maupun gabah bervariasi. Tergantung jarak dan medan yang dilalui.
Mulai dari Rp 25 ribu-Rp 50 ribu per karung. Bisa juga lebih, jika jalannya makin terjal dan jauh.
Dalam sehari upah yang didapatkan mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta. (supardi/lotim)
Editor : Kimda Farida