LombokPost--Berawal dari motivasi agar generasi muda mengetahui jejak sejarah benda-benda kuno, Latief Putra Angga tertarik mengoleksi ratusan bahkan ribuan benda klasik.
Rumahnya di Jalan Ahmad Yani, Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Lombok Barat tak ubahnya seperti museum. Penuh oleh barang-barang antik.
--------------------
Begitu menjejakkan kaki di ruang tamu, pengunjung langsung disuguhkan pemandangan langka berupa ratusan benda klasik.
Barang-barang antik itu memenuhi sudut-sudut ruangan. Mayoritas berupa barang elektronik yang kini sudah tidak diproduksi lagi.
Ada radio berbagai merek, televisi, lampu petromaks, lampu derek, senter, mesin ketik, kamera, serta lampu duduk. Ada juga telepon rumah jadul, kipas angin, piano, setrika, jam dinding, hingga gramofon lengkap dengan vinyl atau piringan hitamnya.
Semua benda itu terawat dengan baik. Ada yang ditempel memenuhi tembok, tergantung di atap plafon serta diletakkan di rak-rak bersusun yang berdesak-desakan.
"Tempatnya sudah nggak nampung saking banyaknya," kata Latief Putra Angga sang pemilik rumah, Kamis (10/10).
Lombok Post menyaksikan langsung bagaimana benda-benda kuno itu tersimpan di rumah Latief di Dusun Lekong Dendek, Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada.
Bayangkan, bangunan seluas 200 meter persegi (m2) itu penuh sesak oleh barang-barang lawas tersebut.
Latief dan istrinya hanya menyisakan satu ruangan ukuran 3x3 meter buat kamar tidur mereka.
"Selebihnya buat barang-barang ini. Biarlah kami mengalah terpojok di kamar ini," ujarnya lalu tertawa.
Ini baru satu rumah. Latief bahkan menyimpan harta karunnya itu di lima tempat yang terpisah.
Yaitu dua rumah plus satu gudang miliknya. Dia juga mengungsikan benda-benda kuno itu di dua rumah milik saudaranya di Narmada.
"Karena rumah nggak cukup lagi makanya saya pinjam rumah saudara untuk menyelamatkannya. Sayang sekali kalau tidak disimpan," tutur ayah dua anak itu.
Saking banyaknya, Latief sendiri tidak tahu persis jumlah koleksinya.
Tapi dia memperkirakan jumlah keseluruhan bisa mencapai ratusan bahkan ribuan unit.
Untuk satu jenis barang saja, jumlahnya bisa sampai puluhan.
Lampu petromaks, contohnya, jumlahnya lebih dari 100 unit. Radio, senter, setrika masing-masing sekitar 50 unit. Belum lagi benda yang lain.
Selain benda elektronik, pria itu juga menyimpan barang klasik lainnya. Seperti koin kuno sebanyak 500 keping, uang kertas mulai zaman kemerdekaan, mainan anak-anak zaman dulu hingga perlengkapan perang tentara zaman penjajahan.
Bahkan ada juga mobil jadul. Seperti Daihatsu Hi Jet S 37 pabrikan tahun 1957.
Latief juga memiliki mobil Jeep CJ-7 keluaran tahun 1980.
Dia membeli mobil yang diproduksi di Amerika Serikat itu 20 tahun yang lalu.
Jeep itu pernah ditawar Rp 250 juta padahal dulu dia membelinya tidak sampai Rp 20 juta.
"Tapi saya nggak mau lepas. Karena masih suka," ujarnya.
Latief juga mengoleksi benda-benda kuno yang berhubungan dengan tradisi dan peradaban masyarakat suku Sasak.
Seperti tempat pengingang, alat untuk memotong pengingang, pelocok (alat untuk menghaluskan pengingang), dulang, piring zaman dulu serta guci.
Menariknya, Latief Putra Angga bukan warga asli Lombok.
Dia adalah warga pendatang kelahiran Kediri, Jawa Timur.
Pada 1996 dia merantau ke Lombok seorang diri. Sampai akhirnya dia menikah dengan warga lokal bernama, Fatmawati, sehingga menetap sampai sekarang.
Kendati bukan warga asli Lombok, Latief berupaya untuk tetap mencintai adat dan tradisi masyarakat Bumi Gora.
Selain gemar mengoleksi benda-benda kuno khas Lombok dia juga aktif mengenakan pakaian adat suku Sasak dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
"Bisa jadi anak-anak muda zaman sekarang tidak tahu barang-barang kuno ini. Makanya saya simpan sebagai jejak untuk dilihat anak cucu. Disimpan dan dirawat supaya nggak punah," paparnya.
Ketertarikan Latief dalam mengoleksi benda-benda lawas itu muncul sejak 2017.
Saat itu dia mulai mengumpulkan barang-barang langka secara bertahap.
Dorongan itu muncul karena dia prihatin banyak barang-barang antik yang berakhir menjadi barang rongsokan. Itu terlihat di Pasar Cakranegara, Sweta dan Ampenan.
Daripada berakhir menjadi rongsokan, Latief berinisiatif untuk memilikinya.
Benda-benda itu sebagian ada yang dibeli dan sebagian lagi didapat dengan cara dibarter dengan benda lain.
Dia juga mendapat banyak koleksi dari pemilik rumah-rumah kuno di Kota Tua Ampenan.
Lambat laun sebagai orang dengan cepat mengenal Latief sebagai pembeli barang lawas.
Sejumlah orang atau pedagang datang langsung ke rumah Latief untuk mengantar barang tersebut.
"Karena mereka sudah tahu saya mau beli. Sebagian lagi saya barter dengan barang yang lain," tuturnya.
Kini, meski sudah mengoleksi ribuan benda kuno, Latief tetap merendah.
Dia tidak mau disebut sebagai kolektor.
"Saya merasa belum pantas disebut kolektor. Karena di atas langit masih ada langit lagi. Kalau di Lombok mungkin terbanyak (koleksi, Red). Tapi kalau di tempat lain kan banyak yang lebih dari saya," ujar pria 56 tahun itu.
Pria berkacamata itu pun memiliki ambisi untuk mendirikan galeri khusus yang representatif. Semua koleksinya disimpan secara mandiri di galeri itu.
Nah, ke depan masyarakat umum, khususnya generasi muda masa kini bisa mengunjungi sebagai media pembelajaran sejarah, seni dan budaya Lombok.
"Ini aset dan kekayaan sejarah Lombok. Saya simpan semua. Suatu saat pasti akan berguna untuk generasi yang akan datang," ungkapnya.
Fatmawati, istri Latief, mengaku sangat mendukung hobi suaminya. Sejak awal, ibu dua anak itu juga memang menyukai barang-barang klasik.
Dia juga ikut membersihkan benda-benda antik tersebut. Seperti membersihkan dari debu.
"Daripada disuruh masak lebih saya bersih-bersih barang ini. Saya senang ikut merawat," ujarnya lalu tersenyum.
Namun sebagai istri, Fatmawati tetap manusia biasa. Ada kalanya muncul rasa cemburu.
Naluri perempuannya kadang bergejolak.
Bagaimana tidak. Suaminya terlalu asyik merawat benda-benda koleksinya. Hingga lupa untuk merawat dan memperhatikan dirinya.
"Termasuk kalau merawat mobil-mobil tua. Sampai dilap dengan bersih. Lha saya juga mau dong diperhatikan suami," cetus perempuan 45 tahun itu lalu tertawa. (Umar Wirahadi/r5)
Editor : Kimda Farida