Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Produksi Paving Blok dari Sampah Plastik di TPST Sandubaya : Olah Sampah Jadi Berkah

Redaksi Lombok Post • Kamis, 24 Oktober 2024 | 15:25 WIB

Koordinator TPST Sandubaya Kamarudin (kiri) menunjukkan paving blok dari sampah plastik hasil olahan TPST Sandubaya, kemarin (23/10).
Koordinator TPST Sandubaya Kamarudin (kiri) menunjukkan paving blok dari sampah plastik hasil olahan TPST Sandubaya, kemarin (23/10).
Bagi pekerja di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, tumpukan sampah tidak lagi menjadi barang yang kotor, bau dan menjijikkan. Bagi mereka sampah adalah berkah. Sebab bisa menjadi sumber cuan setelah diproduksi menjadi paving blok dengan kualitas tinggi.

 

UMAR WIRAHADI, Mataram

 

Suara mesin menderu begitu memasuki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, kemarin (23/10). Puluhan orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mereka sama sekali tidak peduli dengan bau busuk sampah yang menusuk hidung.

Para pekerja ada yang menimbang sampah, memilah tumpukan sampah lalu memasukkannya ke dalam mesin pencacah.

Sedikitnya ada delapan mesin dalam ruangan besar itu. Setiap mesin punya fungsi masing-masing. Seperti menggugurkan sampah serta memilah sampah organik dan anorganik. Awalnya sampah dimasukkan dalam mesin utama bernama conveyor belt. Selanjutnya aliran sampah masuk ke gibrik screw untuk proses pencacahan.

Nah, sampah plastik atau anorganik dimasukkan ke dalam mesin bernama stage dan extruder. Di sini sampah plastik tadi dihancurkan dan dilelehkan. Plastik yang sudah meleleh pun keluar dari lubang cerobong. Bentuknya seperti tepung halus yang menggumpal. "Tapi bedanya ini warna hitam," kata Kamarudin kepada Lombok Post, kemarin.

Gumpalan sampah yang sudah hancur dan meleleh tadi lantas dimasukan ke dalam mesin cetakan. Namanya paving hidrolik. Setelah didiamkan selama dua menit, mesin diangkat dan keluarlah benda keras berwana hitam. Agar tidak panas lagi, benda itu direndam sejenak dalam bak berisi air. "Nah ini paving blok sudah jadi," jelas Kamarudin saat mengangkat paving dari dalam air.

Bentuknya seperti paving blok pada biasanya. Ukurannya 5x10 sentimeter. Yang berbeda, paving blok dari sampah plastik itu memiliki rongga di bagian bawah. Juga ada tonjolan di bagian atas. Sehingga bisa difungsikan sebagai alat terapi pijat refleksi telapak kaki. "Ada yang sudah pesan. Memang dipakai untuk depan rumah untuk refleksi terapi kaki," tuturnya.

Kamarudin ditugasi sebagai koordinator TPST Sandubaya. Dia membawahkan 105 pekerja di sana. Mulai dari petugas bidang operator  penimbangan, bagian pemilihan sampah, mengurus pupuk, mengurus budi daya maggot serta pembuatan paving blok.

Disampaikan, pekerja sama sekali tidak merasakan hal aneh dengan pengolahan sampah. Meskipun sampah terkesan bau, kotor bahkan menjijikkan. "Kami sudah anggap sampah ini sebagai berkah. Baunya jadi harum karena bisa menjadi sumber cuan," ujar pria 52 tahun itu lalu tertawa.

Kini, TPST Modern Sandubaya sudah menjadi jujugan sejumlah daerah untuk studi  banding. Baik pemda dari NTB maupun dari luar provinsi NTB. Pemerintah daerah terakhir yang datang adalah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Bogor, Jawa Barat. Mereka berkunjung pekan lalu. Para pejabat yang hadir mulai dari

Kepala dinas, kepala bidang dan kepala seksi. "Mereka tertarik dan pelajari tentang pembuatan paving dari amalan plastik ini," tutur Kamarudin yang juga menjabat sebagai direktur bank sampah lingkungan dengan sampah nihil (Lisan) DLH Kota Mataram itu.

Bukan hanya pembuatan paving blok. Di TPST Sandubaya juga ada kegiatan lain bernilai ekonomi. Yaitu budi daya maggot. Di sana mampu menghasilkan panen maggot  200 kilogram per hari. Target ke depan mencapai 500 kg per hari. "Kami jual Rp 6 ribu per kilogram," tuturnya.

Saat ini, para peternak unggas dan ikan di Kota Mataram sedang melirik maggot sebagai pakan alternatif. Itu untuk Melan biaya serta mempercepat masa panen ternak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi berharap  dengan adanya TPST Sandubaya, persepsi masyarakat tentang sampah bisa berubah. Sebab sampah plastik yang dibuang masyarakat bisa diolah menjadi barang yang sangat berguna dan memiliki nilai ekonomi tinggi. "Bisa diubah jadi paving blok yang bisa dijual," tuturnya.

Dengan adanya mesin pengolah paving blok itu, dia berharap tidak ada lagi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Tapi semua dikirim ke TPST Sandubaya untuk diolah. Baik sebagai pupuk organik, makanan maggot hingga diolah menjadi paving. "Karena sampah ini bisa diproduksi dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat," papar Denny.

Tapi sejauh ini pemkot belum bisa menjual secara komersial. Pasalnya DLH belum memiliki payung hukum berupa peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang penjualan paving blok hasil produksi TPST Sandubaya. "Ke depan kami pasti akan siapkan perda agar ada payung hukum sebagai dasar untuk menjual secara komersial," jelasnya.

Saat ini, paving blok hasil produksi TPST Sandubaya bisa diberikan secara gratis. Jika ada masyarakat yang membutuhkan DLH siap memfasilitasi. Seperti untuk pembuatan jalan lingkungan. "Ini bisa dipakai masyarakat. Bisa dipesan gratis," tandas Denny. (*/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Kota Mataram #TPST Sandubaya #olah sampah