Ibu Hadiun merupakan salah satu pemulung di TPST Sandubaya. Menopang hidup dari sampah. Bahkan, ia berharap bisa menemukan beras dan sisa buah untuk dimakan di tumpukan sampah tersebut.
Tumpukan sampah menggunung di TPST Sandubaya. Satu alat berat terparkir di depan tumpukan sampah.
Sejumlah pemulung sibuk mengais sampah. Saat hujan turun, mereka berlari berteduh. Diantara para pemulung, berdiri Ibu Hadiun. Dia menghampiri anaknya yang masih balita.
Meski berada di dekat sampah, anak dan dirinya tidak mengeluh dengan bau dan kotornya kawasan tersebut. ”Sudah terbiasa dengan bau sampah,” kata Hadiun.
Ibu asal Peresak, Narmada, Lombok Barat (Lobar) itu sudah menjadi pemulung sejak tahun 2018. Dia meneruskan pekerjaan suaminya.
”Kalau suami saya sudah istirahat sekarang,” bebernya.
Dia tidak memiliki pilihan lain selain menekuni pekerjaan tersebut. Sebab, mau menjadi pegawai tidak memiliki ijazah.
”Hanya lulus SD (Sekolah Dasar),” terangnya.
Menjadi pemulung merupakan pilihan. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa menjamin pendapatan kesehariannya.
”Hanya bermodalkan tangan dan alat pengais sudah bisa mengumpulkan uang,” kata dia.
Hadiun harus berjuang menghidupi dua anaknya yang masih menjadi tanggungannya. ”Saya punya empat anak. Dua sudah menikah. Tinggal dua anak yang menjadi tanggungan,” ujarnya.
Usia anak nomor tiga baru 9 tahun.
Yang terakhir berusia dua tahun.
Anaknya selalu setia menemaninya untuk mengais sampah di TPST Sandubaya.
”Mereka ini sudah biasa dengan bau. Ini saja anak yang nomor tiga sejak kecil di sini. Sekarang sudah besar,” tuturnya.
Hadiun tidak takut dengan penyakit. Asalkan bisa menghasilkan cuan untuk menghidupi keluarganya.
”Syukur bisa tetap sehat saja meskipun bekerja mengais sampah,” ujarnya.
Yang dipikirannya, bagaimana bisa bertahan hidup. Dia tetap pasrah dengan apa yang sudah ditentukan.
“Allah itu tidak tidur. Pasti tetap memberikan rezeki,” kata dia penuh optimis.
Dirinya yang mengais sampah pun masih bisa makan. Di balik sampah itu selalu ada rejeki.
“Saat saya mengais sampah saja terkadang ada beras dan sisa makanan lainnya yang didapatkan. Itu yang kita masak,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Hadiun pun terkadang menemukan sisa buah. Itu dicucinya untuk dimakan.
“Ada sisa buah dari umat hindu yang menjadi sampah itu kita temukan di sini. Kalau kita temukan, itu yang dimakan. Ya, pasti kita cuci dulu,” kata dia.
Itu pun juga dimakan oleh anaknya. Meski makan dari sampah, anaknya tidak sakit.
”Itu bukti, Allah juga tetap memberikan kesehatan,” ungkapnya.
Hadiun mengatakan, yang dicari dari sampah itu adalah sampah yang bisa dijual. Seperti, botol bekas, besi, tembaga, dan aluminium.
”Itu kita jual ke tempat rombengan,” kata dia.
Sehari bisa mengumpulkan empat sampai lima kilogram per hari. Per kilogram harganya Rp 2.000.
”Kalau ramai bisa mengumpulkan botol bekas. Bisa dapat Rp 70 ribu per hari. Tetapi, pendapatan kita tidak menentu. Yang penting bisa untuk makan,” ujarnya.
Sehingga, setiap mengais sampah Hadiun berharap bisa mendapatkan sisa beras dan buah. ”Supaya bisa menutupi biaya makan,” pungkasnya. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post