LombokPost-Setelah buahnya dipanen, batang pisang sering dibuang begitu saja menjadi limbah.
Tapi di tangan Baiq Siti Suriani, limbah itu berubah menjadi sajian yang enak dan gurih.
Rasa kriuk keripik gedebog pisang yang diciptakannya sudah menggoyang lidah orang-orang Eropa.
--------------------
KESIBUKAN terlihat di teras sebuah rumah di Jalan Altis, kompleks Perumahan Griya Asri Senteluk, Batulayar, Lombok Barat, Jumat (22/11).
Pekerja yang semuanya perempuan itu sibuk dengan tugas masing-masing.
Ada yang mengelupas batang pisang atau gedebog pisang lalu dibersihkan.
Gedebog pisang yang sudah dikelupas tadi kemudian dipotong memanjang.
Potongan itu lalu diiris kecil-kecil dengan membentuk kotak persegi empat. Setelah diiris benda itu pun dijemur hingga kering.
"Harus kering sampai kandungan kadar air batang pisang hilang," kata Ana Mardiana, salah seorang pekerja.
Selain itu, sebagian pekerja juga sibuk membersihkan jantung pisang. Susunan daun pelindung dikupas satu per satu. Putik bunganya diambil lalu dijemur hingga kering.
Aktivitas pekerja tidak hanya di teras. Di bagian dapur juga tidak kalah sibuknya.
Mereka menggoreng berbagai olahan.
Bau bumbu langsung menyeruak menusuk hidup.
"Ini kami sedang produksi olahan snack keripik gedebog pisang," tutur Baiq Siti Suriani kepada Lombok Post.
Perempuan dengan pembawaan kalem itu adalah pemilik usaha itu. Namanya Kelompok Wanita Tani (KWT) Sasak Maiq. Usaha itu didirikan sejak 2013.
Semula makanan yang dibuatnya berbahan olahan rumput laut. Seperti tortila rumput laut, kopi rumput laut, rengginang rumput laut serta dodol rumput laut.
"Nah sekarang kami berinovasi dengan olahan dari bahan gedebog pisang," ujarnya.
Apakah gedebog pisang enak dikonsumsi? Sepintas memang terdengar asing.
Tapi berkat tangan dingin Baiq Siti Suriani, olahan dari batang pisang itu berhasil diracik menjadi kudapan yang enak, gurih dan lezat.
Sedikitnya ada enam jenis sajian yang dibuat dari bahan dasar batang pisang. Yaitu keripik gedebog pisang, keripik ares gedebog pisang, krispi jantung pisang, abon vegetarian jantung pisang, kerupuk bongkol pisang dan abon bongkol pisang.
"Enam varian ini semuanya dari batang pisang," jelas Suriani.
Dengan demikian, tidak ada bagian batang pisang yang dibuang begitu saja. Mulai dari kulit batang pisang, jantung pisang hingga bagian bongko
Selain rasanya yang gurih, penciptaan olahan itu juga ada maksud tertentu. Seperti olahan berupa abon vegetarian jantung pisang.
Olahan itu diproduksi untuk mengakomodir orang-orang yang tidak memakan daging alias vegetarian.
Menurut Suriani, dirinya hanya melakukan inovasi saja. Keripik ares, misalnya, dia hanya mengubah sayur ares menjadi olahan keripik.
"Ini sayuran khas Lombok. Kalau ada acara begawe kan biasa ada sayur berupa ares. Nah saya bikin jadi keripik," tuturnya.
Diceritakan Suriani, olahan gedebog pisang diproduksi saat Covid-19 melanda pada 2020 silam.
Saat itu pasaran olahan makanan berbahan dasar rumput laut agak meredup. Di sisi lain, banyak sekali batang pisang yang dibuang begitu saja oleh warga sekitar.
Apalagi daerah Batulayar, Lombok Barat, banyak sakali kebun pisang. Setelah buahnya dipanen, batang pisang ditebang dan dibuang begitu saja.
Suriani pun berpikir keras akan dikemanakan batang pohon pisang itu. Sangat disayangkan kalau hanya berakhir menjadi sampah dan limbah.
Di sisi lain, batang pohon pisang juga tidak pernah habis dimakan oleh hewan ternak seperti sapi.
Memang sejauh ini batang pisang menjadi pakan ternak yang kaya nutrisi bagi hewan ternak.
"Saking berlimpahnya banyak yang nggak habis dimakan sapi," tuturnya lalu tertawa.
Padahal, tutur dia, batang pisang itu punya nilai jual yang tinggi. Baik menjadi kerajinan hingga olahan makanan.
"Karena merasa prihatin itu saya berfikir masak akan begini terus. Maka saya mulai mencari inovasi untuk bisa memanfaatkan batang pisang ini," tutur ibu dua anak itu.
Bagaimana proses munculnya ide pembuatan olahan makanan gedebog pisang?
Dia bilang, ide itu muncul secara sederhana saja.
Bahwa sapi saja yang memakan batang pohon pisang tidak apa-apa. Misalnya tidak sampai keracunan.
"Sapi makan tidak apa-apa kok. Artinya manusia juga bisa. Tentu dengan diolah dengan cara yang baik dan higienis," cetusnya.
Memang tidak mudah bagi Suriani menemukan resep yang tepat untuk olahan gedebog pisang itu.
Dia harus mencoba berulang-ulang kali. Mulai dari cara menggoreng hingga menemukan bumbu yang tepat. Sehingga rasanya klik dengan lidah orang Indonesia. Khususnya warga Lombok.
"Saya mencoba resep ini berkali-kali. Untuk mendapatkan rasa yang pas ini sering gagal. Gagalnya tidak terhitung saking banyaknya," tutur Suriani lalu tersenyum.
Tapi perempuan kelahiran 11 Januari 1969 itu tipikal orang yang pantang menyerah.
Sampai pada uji coba yang kesekian kalinya ketemulah resep yang tepat. Yaitu perpaduan rasa gurih, pedas, dan kriuk.
Pertama, batang pisang yang sudah diiris itu dijemur hingga kering. Itu untuk menghilangkan kadar air yang terkandung pada kulit pisang.
Batang pisang yang sudah kering tadi lalu dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi adonan bumbu. Yaitu berupa tepung dan bumbu pelecing khas Lombok.
"Dari situlah baru pas rasanya. Makanya pada 2020 saya sudah mulai produksi massal untuk dijual," tutur perempuan 55 tahun itu.
Kini, usaha olahan snack gedebog pisang miliknya berkembang dengan cepat.
Olahan ini banyak dicari oleh wisatawan yang datang ke Lombok. Baik wisatawan domestik maupun turis asing.
Bahkan produk itu sudah memasuki pasar luar negeri.
Produk olahan gedebog pisang hasil kreasi Baiq Siti Suriani sudah diekspor ke berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam hingga sejumlah negara di Eropa. Seperti Inggris dan Belanda.
Omzetnya pun terus melonjak. Saat ada event besar MotoGP Mandalika, omzet bisa mencapai Rp 150 juta per hari.
Omzet meningkat juga ketika masa high season kunjungan wisatawan ke Lombok.
"Tapi kalau hari biasa seperti saat ini omzet berkisar Rp 50 juta sampai Rp 60 juta per hari," ungkapnya.
Seiring dengan usaha yang terus berkembang, jumlah pekerja juga meningkat.
Saat ini Suriani sudah mempekerjakan 20 karyawan dari warga sekitar Batulayar. Semuanya merupakan ibu-ibu rumah tangga.
KWT Sasak Maiq juga menerima puluhan siswa SMK yang sedang mengikuti tugas akhir dari sekolahnya. Khususnya dari jurusan tata boga.
"Mereka mengikuti uji praktik di sini," katanya.
Dalam waktu yang tidak lama usaha rumahan itu akan menempati lokasi yang lebih luas dari tempat saat ini.
"Kami akan menambah jumlah tenaga sampai 50 pekerja lagi," tandas perempuan yang sudah memiliki dua cucu itu. (umar wirahadi/r5)
Editor : Kimda Farida