Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stan Smith: Dari Juara Wimbledon 1972 hingga Raja Sepatu Kets Dunia

Rury Anjas Andita • Kamis, 10 Juli 2025 | 19:24 WIB
Stan Smith di kejuaraan tahun 1974
Stan Smith di kejuaraan tahun 1974

Sepatu Legendaris, Nama yang Terlupakan

STAN Smith, nama yang mungkin lebih dikenal sebagai sepatu kets Adidas Stan Smith ketimbang seorang juara Wimbledon.

Padahal, pria asal Amerika ini pernah mengangkat trofi bergengsi tersebut pada Wimbledon 1972, mengalahkan Ilie Nastase dalam laga lima set yang penuh drama.

“Kecuali Anda berusia 60 tahun ke atas, atau Anda benar-benar suka tenis, mengapa Anda tahu siapa saya?” ujar Stan Smith dengan nada santai dilansir dari wimbledon.com.

Meski telah menjuarai turnamen akbar, nama Stan Smith lebih sering terdengar dari sepatu yang ia wariskan kepada dunia mode dan gaya hidup.

Sepatu Stan Smith bahkan telah terjual lebih dari 100 juta pasang di seluruh dunia.

Dari Lapangan Rumput ke Sepatu

Pada masa kejayaannya di tahun 70-an, Stan Smith adalah simbol atlet tenis Amerika.

Ia memenangkan AS Terbuka 1971, dan tahun berikutnya merebut gelar Wimbledon 1972.

Namun kini, bahkan di arena Wimbledon, sebagian besar penggemar muda mengenalnya hanya sebagai merek sepatu, bukan legenda tenis.

Di tengah suasana mewah Royal Box Wimbledon, aktor Inggris Hugh Grant pernah menyapa Smith dengan ucapan menggelitik.

Stan Smith (kiri) bersama Roger Federer (tengah) dan Novak Djokovic (kanan).
Stan Smith (kiri) bersama Roger Federer (tengah) dan Novak Djokovic (kanan).

"Saya memakai sepatu Anda saat pertama kali mencium seorang gadis," kata Hugh Grant.

Sepatu Stan Smith: Dari Lapangan ke Runway

Ketika pertama diluncurkan, sepatu Stan Smith adalah inovasi di dunia tenis.

Dibuat dari kulit putih, sepatu ini menggantikan kanvas yang kala itu umum digunakan para pemain.

“Sekarang sepatu ini sama sekali tidak dianggap sebagai sepatu performa,” ungkap Smith.

Salah satu cerita menarik datang dari keponakannya yang tinggal di London.

Saat diminta gurunya mengganti sepatu karena dianggap sepatu fesyen, si keponakan membalas.

“Paman saya menang Wimbledon pakai sepatu itu. Dan sang guru pun luluh,” kata Stan.

Nostalgia Wimbledon: Makan Roti Lapisan dan Cuci Sendiri

Wimbledon di tahun 70-an jauh berbeda. Tak ada layanan binatu, hanya satu tiket setiap dua hari, dan makanan yang ditentukan.

“Senin mungkin steak, Selasa ayam, Rabu domba… Kalau tidak suka, ya makan roti lapis mentimun,” kenangnya sambil tertawa.

Kemenangan atas Ilie Nastase di final 1972 juga menyimpan satu momen penting.

“Kedudukannya 5-5, servis saya tertinggal 0-30. Saya menjangkau passing shot dan bola saya menyentuh net, lalu jatuh ke lapangan dan menyentuhnya. Itu momen krusial,” kenyangnya lagi.

Masa Kini: Sepatu Legendaris dan Harapan untuk Tenis Amerika

Kini, Stan Smith juga dikenal sebagai penulis buku Winning Trust. Ia masih aktif berbicara tentang sepatu legendaris dan perkembangan tenis, terutama di Amerika.

Sudah 25 tahun sejak pria Amerika terakhir kali menjuarai Wimbledon—Pete Sampras pada 2000.

Namun ia optimistis, terutama pada pemain seperti Taylor Fritz, yang saat ini akan menghadapi Carlos Alcaraz di semifinal Wimbledon.

“Taylor punya senjata. Servisnya bagus, forehand kuat, backhand solid, dan dia bisa voli. Dia punya peluang,” tegas Smith.

Sepatu Stan Smith, Nama Abadi di Dunia Gaya dan Olahraga

Lebih dari setengah abad setelah menjuarai Wimbledon, nama Stan Smith tetap abadi—bukan hanya di sejarah tenis, tetapi juga di dunia fashion global lewat sepatu Stan Smith.

Stan Smith adalah bukti bahwa warisan seorang atlet bisa melampaui lapangan, menjelma ikon yang tak lekang oleh zaman.

Stan Smith (kiri) bersama Roger Federer (tengah) dan Novak Djokovic (kanan).
Stan Smith (kiri) bersama Roger Federer (tengah) dan Novak Djokovic (kanan).
Editor : Rury Anjas Andita
#wimbledon #Stan Smith