Nyalamaq Dilauk atau selamatan laut bukan sekedar event biasa yang kini diselenggarakan sebagai sebuah festival bahari.
Di balik itu semua, upacara adat ini menyimpan segudang catatan sejarah. Tak pernah ditinggalkan.
Bahkan di zaman penjajahan Belanda dan Jepang.
SEBELUM diarak keliling kampung, kerbau itu dimandikan dan diminyaki badannya dengan Minyak Bauq.
Di punggungnya diletakkan kain pusaka. Di lehernya digantung buah kelapa, pisang, dan ketupat. Proses menghias kerbau semakin terasa sakral dengan aroma kemenyan yang menyeruak dan puluhan perempuan dan laki-laki yang menari kesurupan.
Di pesisir Pantai Tanjung Luar, mereka berjalan beriringan. Itulah ritual ngaririk kerbau atau mengarak kerbau keliling kampung. Ritual itu mirip karnaval. Tapi yang ini bukan sembarang karnaval.
Melainkan ritual sakral. Ada pengalantik, ada sandro perempuan, bone-bone, pengiring kerbaua yang terdiri dari tujuh bujang yang membawa peralatan nelayan seperti dayung dan jaring.
Ada juga dara ayu yang membawa alat tenun, dan peralatan dapur. Tak lupa kelompok pasarone atau penabuh musik tradisional yang diikuti juga oleh warga kampung yang turut mengikuti rombongan.
Gambaran utuh tradisi nyalamaq dilauk terdapat dalam naskah berjudul ‘Nyalamaq Dilauk/Nyalamaq Palabuang’ yang disusun oleh Ketua Bidang Kebudayaan Lembaga Adat Desa Tanjung Luar Muhammad Saifullah, 83 tahun.
Naskah tersebut ia susun untuk disampaikan pada semimar simposium Lembaga Adat Indonesia yang diselenggarakan Internasional Collective in Support of Fishworkers 2009. Sebelumnya, pada 2007, naskah yang sama ia disampaikan pada seminar kearifan lokal di Lombok Timur.
Naskah tersebut diawali dengan penjelasan tentang tradisi upacara adat selamatan laut yang merupakan upacara masyarakat nelayan yang dapat ditemui di beberapa daerah pesisir di seluruh Indonesia.
Namanya bisa bermacam-macam. Semisal di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan ada upacara selamatan laut yang diselenggarakan oleh para nelayan yang disebut Mappanretasi. Upacara selamatan laut itu dilaksanakan oleh suku Bugis di Desa Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Mappanretasi berarti memberi makan laut.
Saifullah melanjutkan, upacara serupa disebut Festival Samboja yaitu tradisi selamatan laut para nelayan di Kuala Samboja, Provinsi Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimatan Timur. Nelayan Tegal Jawa Tengah menyebut upacara selamatan laut mereka dengan Sedekah Laut. Sedangkan nelayan Muncar Jawa Timur menyebut upacara selamatan laut mereka dengan Petik Laut. Di Nangro Aceh Darussalam selamatan lautnya disebut Kenduri Laot.
Selamatan laut nelayan Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur sendiri bernama tradisi nelayan di Desa Tanjung Luar sejak ratusan tahun silam. Upacara selamatan laut mereka disebut Nyalamaq Dilauk atau Nyalamaq Palabuang.
Dari Masa ke Masa
Masih dalam naskahnya, Saifullah menerangkan jika pada masa penjajahan Belanda upacara Nyalamaq Dilauk tetap diselenggarakan. “Bahkan para pembesar Belanda begitu antusias dengan acara ini.
Terutama pada saat siraman air laut. Mereka ikut disiram air laut. Mereka juga senang menonton acara pencak silat dengan iringan gendang pencak yang disebut Sarone. Irama Sarama, Pakanjaran, Talolo yang terkenal itu membuat mereka terhibur,” kata Saifullah sekaligus mengenang apa yang ia tulis dan apa yang ia saksikan di masa kecilnya.
Pada masa penjajahan Jepang, upacara yang mengumpulkan massa memang sempat banyak dilarang. Saat itu, Jepang khawatir akan muncul pengerahan massa yang menentang kehadiran mereka. Namun nelayan saat itu bersikeras melaksanakannya . Ia mencatat, Nyalamaq Dilauk tetap digelar pada 1943.
Memang belum ada keterangan pasti kapan pertama kali upacara tersebut mulai dilakukan oleh leluhur mereka. Namun diyakini tradisi tersebut sudah ada sejak 1907. Dari tahun ke tahun, waktu pelaksanaan sendiri bisa berbeda-beda. Tidak menentu. Tidak setiap tahun.
“Bisa lima tahun sekali, tiga tahun sekali, bahkan pernah tujuh tahun tidak pernah diselenggarakan,” terangnya.
Ia menjelaskan, terkadang selamatan laut bisa diselenggarakan sebagai sebuah event khusus dengan tidak menghilangkan warna aslinya. Hal itu pernah terjadi pada Juli 2007. Di mana saat itu pemerintah pusat melalui kementerian pariwisata memfasilitasi diselenggarakannya kegiatan tersebut.
Meskipun demikian, para tokoh adat dan sandro sudah membakukan rangkaian ritual nyelamaq dilauk. Di mana semua kelengkapan tidak berubah sejak tahun 1945 mulai dari Sarapo, Sandro laki-laki, Sandro perempuan, Bone-bone, Pangalantik dan lainnya.
Kini, Nyalamaq Dilauk diselenggarakan dalam rangkaian festival bahari yang sudah masuk dalam kalender event pariwisata Lombok Timur. Kendati menjadi sebuah event tetap, namun bukan berarti ritual tersebut serta-merta harus dilaksanakan setiap tahun.
Delapan Benda Pusaka dan Tempat Bersejarah
Saksi bisu yang masih dapat ditemui sampai hari ini adalah berupa benda pusaka dan tempat-tempat bersejarah yang menandakan tradisi ini sebagai peninggalan leluhur warga Desa Tanjung Luar yang terdiri dari berbagai suku.
Setidaknya ada delapan benda pusaka dan tempat bersejarah yang masih dapat ditemui sampai saat ini. Pertama, Bujjak bandrangah. Benda itu kata Saifullah merupakan tombak mata satu dengan alsesoris rambut. Tombak ini masih disimpan oleh tokoh adat Bajo bermama Baharuddin alias Wak Jaharia alias Wak Sandok di Dusun Toroh Selatan.
Selanjutnya yang kedua, ada Bujjak Sipik, atau tombak mata dua yang juga masih disimpan oleh tokoh adat Bajo. Ketiga, ada Bambu tua yang disebut Balok Langkau (Buyut Jangkung). Bambu pusaka itu disimpan keturunan Zainal di Dusun Toroh Tengah.
Keempat, ada sumur tua bernama Sumur Toraja (Lemboh Toraja, Bajo) yang terdapat di Lungkak. Kelima, Lemboh Mawar yang terletak di Desa Ketapang Raya.
Keenam, Lemboh Lancak yang terdapat di kebun Dusun Telaga Bagik Desa Ketapang Raya. Ketujuh berupa kain, panji-panji, dan benda pusaka lainnya yang dahulu sangat dikeramatkan, dan sampai saat ini masih disimpan oleh tokoh masyarakat Bajo di Desa Batu Nampar.
“Terakhir Balamang, sebuah pedang (kalebah,Bajo) yang digunakan untuk acara adat khusus seperti khitanan dan lain-lain. Waktu Nyalamaq, pedang ini dipakai “ngalantik” oleh Pangalantik,” terangnya.
Kepala Desa Tanjung Luar Daeng Saiful Rahman menjelaskan jika Desa Tanjung Luar merupakan desa dengan jumlah penduduk terpadat di Lombok Timur. Tak hanya itu, Tanjung Luar juga memiliki potensi besar. Keragaman suku yang disebut Bupati Lombok Timur Haerul Warisin sebagai ‘Indonesia kecil’ juga menjadi kekayaan desa Tanjung Luar.
Sejak ia memimpin Desa Tanjung Luar, Saiful berkomitmen untuk tetap dapat menyelenggarakan tradisi Nyalamaq Lauk. Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, ia berharap tradisi leluhur mereka tersebut dapat terus dilestarikan.
“Karena intisari dari tradisi ini adalah untuk mengingatkan pada warga agar tetap menjaga laut dan terumbu karang,” kata Saiful Rahman. (Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur/r3)
Editor : Pujo Nugroho