Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Yang Tak Pernah Pulang demi Membantu Korban sampai Proses Evakuasi Berakhir, Seketika Tergerak Dengar Banyak Jeritan dari Balik Puing Sudah di Lokasi

Lombok Post Online • Rabu, 8 Oktober 2025 | 16:13 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Sulitnya akses ke para korban yang membuat mereka harus merangkak di antara reruntuhan tiap tiga jam sekali menjadi kendala para relawan seperti Rusmin Effendi dan Arif Firmansyah serta para personel tim gabungan.

Mereka menjaga kondisi dengan banyak mengonsumsi air putih serta manajemen waktu yang baik.

BEGITU mendengar kabar ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo, Rusmin Effendi langsung bergegas ke lokasi. Dan, sejak Senin (29/9) jelang sore itu sampai dengan selesainya proses evakuasi Selasa (7/10), dia sukarela bertahan di sana, menjadi relawan yang membantu para korban.

“Demi kemanusiaan,” katanya ketika ditanya Jawa Pos Selasa (7/10) tentang apa yang menggerakkan dan membuatnya bertahan.

Padahal, proses evakuasi sangatlah tidak mudah. Sebelum alat berat digunakan tiga hari setelah bangunan ambruk, para relawan dan petugas harus bergantian merangkak di celah sempit di tengah oksigen yang terbatas dan terik menyengat untuk menolong para korban.

“Saya minum banyak air putih saja untuk menjaga kondisi,” tutur Rusmin.

Tim gabungan yang melakukan evakuasi terdiri dari personel lintas instansi serta para relawan. Rusmin termasuk yang pertama datang ke lokasi.

Dia mengaku, seketika tergerak karena begitu sampai dan menaiki reruntuhan mendapati beberapa santri terjepit. Dari balik puing juga terdengar banyak suara teriakan.

Effendi dipercaya membawa ambulans. Di jam-jam awal evakuasi, dia riwa-riwi tiga–empat kali dari lokasi menuju RSUD RT Notopuro Sidoarjo membawa para korban. Selain itu, dia juga membantu evakuasi langsung ke bawah reruntuhan.

“Tim gabungan masuk dengan merayap secara bergantian setiap tiga jam sekali,” kata warga Desa Ganting, Gedangan, Sidoarjo itu.

Effendi masih mengingat momen saat pertama kali masuk ke runtuhan. Di satu area, dia mendapati enam santri. Dua di antaranya meninggal. “Ada yang saling menumpuk. Yang bawah meninggal. Yang atas hidup, tetapi tangan dan kakinya terjepit material,” paparnya.

Struktur Bangunan Tak Stabil

Arif Firmansyah, relawan lain, juga menyebut sulitnya akses menuju para korban sebagai tantangan terbesar selama membantu proses evakuasi. “Kondisi struktur bangunan juga tidak stabil,” ujar koordinator Bonek Disaster Response Team (BDRT 27) itu.

Dia bersama 24 anggota ke lokasi sejak hari pertama. Mereka langsung menyesuaikan diri dengan personel tim gabungan. Mayoritas dari mereka juga tidak pernah pulang sampai proses evakuasi resmi berakhir kemarin.

“Yang pulang pergi biasanya karena urusan pekerjaan,” jelasnya.

DEMI KEMANUSIAAN: Usai apel pembubaran operasi SAR, tim Basarnas memanjatkan doa bersama untuk para korban bangunan musala roboh di Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.
DEMI KEMANUSIAAN: Usai apel pembubaran operasi SAR, tim Basarnas memanjatkan doa bersama untuk para korban bangunan musala roboh di Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.

BDRT 27 membawa tiga ambulans. Bojes, sapaannya, menjelaskan, bahwa timnya kemudian dipercaya sebagai penanggung jawab dekontaminasi, memastikan area steril dengan penyemprotan disinfektan. “Untuk menjaga kondisi lebih ke manajemen waktu. Tidak boleh memaksakan diri karena bisa membahayakan diri sendiri dan korban,” katanya. (Hasti Edi Sudrajat, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#Ponpes #bangunan #Sidoarjo #korban #evakuasi