Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

CKG Pemuncak Dua Kategori: Jateng Gelar Bareng Spesialis Keliling, Gorontalo Gubernur Turun Langsung ke Puskesmas

Lombok Post Online • Rabu, 5 November 2025 | 14:03 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

 

LombokPost - Menggandeng organisasi perangkat daerah, kampus, dan pondok pesantren menjadi salah satu kunci keberhasilan Jawa Tengah (Jateng) menjadi provinsi dengan jumlah penerima manfaat Cek Kesehatan Gratis (CKG) terbanyak.

Di Gorontalo, keterlibatan langsung gubernur dan wakil gubernur serta pelaksanaan kegiatan yang dikemas semenarik mungkin menempatkannya di posisi teratas provinsi dengan persentase cakupan tertinggi.

JATENG punya cara tersendiri sampai akhirnya tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kehadiran terbanyak di Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Provinsi yang dipimpin Ahmad Luthfi itu menjalankan program nasional tersebut sembari menggandeng berbagai pihak, seperti organisasi perangkat daerah (OPD), kampus, dan pondok pesantren.

“CKG kami integrasikan dengan program Speling (Spesialis Keliling) dan TB Xpress (Active Case Finding TBC Terintegrasi). Puskesmas diberi kewenangan mengatur sumber daya manusia sesuai kebutuhan lapangan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yunita Dyah Suminar kepada Jawa Pos Senin (3/11) lalu.

CKG mulai digulirkan 10 Februari 2025. Menurut data Kementerian Kesehatan, per 22 Oktober 2025, Jateng mencatat jumlah kehadiran sebanyak 10.237.832 orang. Di peringkat kedua, Jawa Timur dengan 8.423.371 penerima manfaat.

Inovasi pelaksanaan diperlukan karena Jateng berhadapan dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk besar.

Pemantauan dan evaluasi, lanjut Yunita, juga dilakukan secara rutin, baik luring maupun daring, dengan dukungan kuat dari surat edaran gubernur serta bupati/wali kota.

“Kami melakukan sosialisasi masif, online maupun offline. Selain itu, kerja sama dengan tim penggerak PKK (pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga) hingga tingkat dasawisma juga sangat membantu,” ucapnya.

Pendampingan dan evaluasi juga terus dilakukan ke kabupaten/kota. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan, mendapat pemahaman yang sama tentang pentingnya deteksi dini kesehatan.

Layanan CKG kini juga diperluas agar masyarakat dapat mengaksesnya kapan saja. “Dulu waktu pertama, kan, harus ulang tahun baru bisa. Nah, sekarang kapan saja boleh,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam kesempatan terpisah.

Hingga 30 Oktober, capaian nasional program CKG menunjukkan tren positif.

“Sudah 51 juta orang terdaftar dan 47 juta telah diperiksa. Targetnya tahun ini 50 juta orang diperiksa, dan saat ini capaian harian bisa mencapai 600 ribu orang,” ungkap Dante.

Di Jateng, dari CKG, potret kesehatan masyarakat pun tergambar jelas.

“Temuan terbanyak adalah karies gigi, hipertensi, diabetes melitus, serta gangguan kesehatan mental,” kata Yunita.

Bagi masyarakat yang ditemukan memiliki faktor risiko, pemeriksaan lanjutan dilakukan langsung di puskesmas.

“Jika kegiatan CKG terintegrasi dengan Speling, tindak lanjut bisa langsung dilakukan melalui konsultasi dengan dokter spesialis,” tambahnya.

PANTAU KEGIATAN: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau Program CKG di Gedung A Pemkab Kudus (22/10).
PANTAU KEGIATAN: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau Program CKG di Gedung A Pemkab Kudus (22/10).

Bukan Sekadar Formalitas

Kalau Jateng mencatatkan diri di posisi teratas dari sisi jumlah kehadiran penerima manfaat CKG, Gorontalo memuncaki kategori provinsi dengan persentase cakupan tertinggi. Provinsi yang dinakhodai Gusnar Ismail itu mencatat persentase 42 persen, di atas Sulawesi Tenggara yang berada di posisi kedua dengan 36 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S. Otoluwa menjelaskan, sejak awal pihaknya merancang CKG agar tidak berhenti pada pemeriksaan sesaat. “Dari data hasilnya, masyarakat bisa tahu manfaatnya dan mendapatkan tindak lanjut. Mereka juga jadi paham kalau program ini bukan sekadar formalitas,” ujarnya.

Keterlibatan langsung gubernur dan wakil gubernur juga berperan penting. Bahkan Gubernur Gusnar Ismail turut memeriksakan diri di puskesmas. “Begitu masyarakat melihat gubernur ikut, mereka percaya bahwa ini penting. Itu langsung kami beritakan, dan sampaikan ke masyarakat,” tutur Anang.

Setiap rapat evaluasi anggaran, capaian CKG juga selalu ditampilkan di hadapan para bupati dan wali kota. Sekretaris daerah memaparkan langsung kondisi masing-masing wilayah. “Kalau capaian suatu daerah rendah, bupati atau wali kota langsung menegur kepala dinasnya agar memperbaiki. Jadi, semua merasa ikut bertanggung jawab,” tambahnya.

Baca Juga: Deteksi Dini Kesehatan Pelajar Dimulai, Program CKG Sekolah Sasar Puluhan Juta Siswa se-Indonesia

Di provinsi yang terletak di bagian utara Sulawesi tersebut, capaian tertinggi justru dicatat kabupaten yang jauh dari pusat pemerintahan. “Kabupaten Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara itu cakupannya tinggi. Justru Kota Gorontalo yang paling rendah,” ungkap Anang kepada Jawa Pos Kamis (30/10) pekan lalu.

Untuk menambah semangat pelaksanaan, Dinas Kesehatan Gorontalo juga mengadakan lomba CKG antar-OPD. Penilaiannya berdasarkan cakupan pemeriksaan dan upaya pengendalian hasilnya.

Selain itu, kegiatan CKG dikemas seatraktif mungkin. Salah satunya melalui Safari Ramadan, dengan pemeriksaan kesehatan dijalankan seusai salat tarawih di masjid-masjid. Ada pula inovasi timbangan pintar yang menampilkan usia biologis seseorang. Dengan demikian, warga dapat membandingkan usia tubuhnya dengan usia di KTP.

Mirip Jateng, hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan mental menjadi temuan terbanyak CKG di Gorontalo. “Obesitas juga banyak ditemukan. Berdasarkan data tersebut, tindak lanjut segera kami lakukan melalui program pengendalian penyakit tidak menular,” kata Anang. (FERLYNDA PUTRI, Jakarta/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#cek kesehatan gratis #pedesaan #CKG #menteri #Perkotaan