Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Antonius Auwyang, Insinyur Indonesia yang Sukses Jadi Pengusaha Ekspor-Impor di Australia

Lombok Post Online • Jumat, 2 Januari 2026 | 11:39 WIB

 

 

GELUTI BISNIS F&B: Antonius Auwyang di salah satu warehouse miliknya di Lidcombe, New South Wales, Australia.
GELUTI BISNIS F&B: Antonius Auwyang di salah satu warehouse miliknya di Lidcombe, New South Wales, Australia.
 

LombokPost - Creating opportunity, not looking for opportunity. Itulah salah satu pesan yang bisa diambil dari kisah perjalanan bisnis Antonius Auwyang.

TUMPUKAN ratusan kardus menjulang tinggi memenuhi gudang yang terletak di Lidcombe, New South Wales (NSW), Australia.

Di antara tumpukan-tumpukan tersebut, nama-nama merek makanan dan minuman yang tertera cukup menarik perhatian.

Nama-nama itu sangat familiar. Biasa ditemukan di warung-warung dekat rumah ataupun minimarket di Indonesia.

Ada Astor, Hydro Coco, Teh Pucuk, Kopiko, Teh Kotak, Sukro, Selamat Wafer, Tango, bumbu masak Munik, dan masih banyak lagi lainnya.

Yang bikin pangling, kemasan makanan dan minuman tersebut banyak yang berubah. Hydro Coco misalnya.

Biasanya, minuman itu dibungkus kemasan warna biru. Di sana, bungkusnya warna putih. Mirip kemasan santan instan yang biasa digunakan sebagai pelengkap masakan.

Ada juga kopiko. Tapi berupa kopi bubuk siap saji dengan nama volcanic coffee. Sangat menarik. Tolak Angin juga berubah tagline jadi herbal syrup with honey and mint.

“Ini memang hanya untuk pasar Australia. Disesuaikan dengan market,” ujar Antonius Auwyang, owner Sony Trading PTY LTD ditemui di salah satu warehousenya di kawasan Lidcombe, NSW, Senin (17/11/2025) lalu.

Dia mengatakan, pengembangan ini menjadi penting guna menarik pembeli di negara yang dituju. Karena itu, tidak hanya me-recreate kemasan, dari segi ingredients pun dibuat sedikit berbeda.

Warga Australia disebutnya tidak terlalu suka manis. Sehingga, rasa minuman yang diimpor dari Indonesia  sudah dikurangi kadar gulanya. Begitu pula untuk rasa asin.

Tapi, mengubah hal itu tentu bukan perkara mudah. Pria kelahiran Jayapura, Papua, ini harus mati-matian meyakinkan perusahaan-perusahaan F&B di Indonesia untuk mau mengganti kemasan dan mengurangi rasa produknya. Padahal, di pabrik, resep itu sudah paten.

Tapi, Antonius tak menyerah. Dia menyodorkan market survey di Australia.

Hingga akhirnya, kedua belah pihak sepakat bahwa sasarannya bukan hanya WNI di Australia, tapi seluruh warga yang tinggal di sana.

Orang Tua (OT) Group jadi pabrik pertama yang menyetujui kerja sama ini dengannya.

“Kenapa bisa yakin begini? Karena kita Australia ini unik. Unik dalam arti apa? Barang murah belum tentu laku, tapi barang yang mahal bisa laku. Karena Australia income per capita tinggi. Jadi yang dicari kualitas,” paparnya.

Benar saja, saat ini, ia berhasil menggandeng sekitar 20 pabrik makanan dan minuman di Indonesia.

Setiap tahun dia membawa 970 kontainer produk Nusantara ke hampir seluruh wilayah Australia dan Pasifik. Rata-rata 1 kontainer memiliki berat 20-40 ton.

Kisahnya bukan dongeng bisnis instan.

Justru dimulai dari satu telepon yang mengubah takdir. Dia ingat betul, tiba-tiba teleponnya berdering.

Sang ayah yang berada di Australia menghubunginya. Antonius diminta terbang ke Australia dan pindah sepenuhnya.

Alumni Fakultas Teknik Sipil, Universitas Tarumanegara itu semula gamang. Saat itu dia tengah menikmati hidup nyaman di Indonesia.

Pada usia 28 tahun, dia sudah menjadi professional engineer dengan gaji lumayan. Semua kebutuhannya dipenuhi kantor.

Baca Juga: 1 Januari 2026, Petani di NTB Bisa Tebus Pupuk Bersubsidi dengan Mudah

Tapi kondisi sang ayah yang tengah sakit akhirnya meneguhkan pilihannya untuk pergi ke Australia.

Keputusannya yang berani meninggalkan segala kenyamanan sempat dikira bagian dari aksi “pembajakan” dari  korporasi pesaing.

“Kalau saya bilang tidak, orang tua pasti kepikiran. Jadi itulah akhirnya saya ada di sini,” kenangnya.

Setibanya di Australia, tak ada lagi kursi empuk kantor atau supir pribadi. Dia mulai kebingungan. Enam tahun pertama di Australia dihabiskan Antonius untuk bertahan hidup. Ia mencari pekerjaan apa pun hingga pada 2004 memberanikan diri memulai usaha kecil-kecilan di bidang perdagangan.

Dia mencari pekerjaan. Tapi sayangnya, mengandalkan ijazah S1-nya saja tidak cukup. Australia memiliki aturan ketat mengenai ketenagakerjaan di sana, apalagi soal engineering.

Akan tetapi, saat itu dirinya butuh jaminan untuk bisa tinggal lama di sana.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kuliah lagi di University of New South Wales (UNSW) di bidang Construction Management.

Di samping itu, dia memutuskan membuka usaha. Dia melihat peluang men-supply bisnis makanan dan minuman dari Indonesia.

Setahun setelah tiba di Australia, dia mendirikan perusahaan. Hanya bermodal beberapa ribu dollar Australia hasil tabungannya, dia memanfaatkan garasi rumahnya sebagai warehouse untuk barang-barang yang dibawanya dari Indonesia.

Saat itu, dia melihat Australia tidak punya pasar basah. Sehingga, ketika memasak kebanyakan menggunakan bahan jadi.

Karena itu ia nekat membawa Munik dengan aneka jenis bumbu, seperi rendang, ayam goreng, tom yam, dan lainnya. Siapa sangka, bumbu ini justru memenangkan hati warga setempat.

Selain itu, ada produk kopi instant kopiko yang juga sangat disukai.

“Orang ini sangat suka ngopi. Saya berpikir kalau sekali ngopi di luar lima dollar, maka kalau kopi instan dengan rasa yang enak bisa dimasukkan dan lebih murah pasti orang tertarik,” paparnya.

Tak ingin produk-produk tersebut hanya beredar di Sydney saja, ia mulai menggandeng rekanan-rekanan di beberapa negara bagian. Sejak awal dia menggunakan jurus lebih baik menjadi mitra ketimbang saingan di lapangan.

Sehingga, sekarang Sony Trading pun sukses menjadi distributor nasional. Barang-barang di bawah naungan Sony Trading sudah melanglangbuana ke shopping center di Melbourne, Brisbane, Adelaide, dan Perth. Bahkan ke New Caledonia, New Zealand.

Mimpinya agar semua produk ekspor yang dibawa olehnya digunakan di rumah-rumah pun akhirnya kesampaian.

Ada bumbu masak, kopi, biskuit, camilan, minuman kemasan, semua sudah tersedia dan digunakan di sana. Tak heran, omzet pertahunnya nyaris 3 digit dalam dollar Australia.

Sebagai importer, ia pun ikut bertanggungjawab atas semua hal. Tak hanya mendatangkan produk saja, ia juga kebagian promosi, rebranding, sales, service dan lainnya.

Diakuinya, standar Australia soal ekspor impor cukup ketat. Termasuk dalam hal F&B.

Ada lima lembaga yang mengawasi ketat soal ini. Mulai dari karantina, food authority, hingga national measurement yang mengawasi secara ketat makanan dan minuman yang beredar.

Dirinya pun pernah dipanggil atas complain pelanggan. Saat itu kasusnya adalah Candlenut atau kemiri yang diimpor olehnya.

Warga lokal mengira itu macadamia yang bisa langsung dikonsumsi.

“Digigit kan sama dia. Eh giginya patah. Komplain ke kita, Wah, gara-gara makan makanan kamu,” tuturnya menirukan complain yang disampaikan.

Namun, karena yakin sudah sesuai ketentuan, Tity, sapaan akrabnya dengan santai menjawab bahwa ada aturan penggunaan yang telah dicantumkan dengan jelas di kemasan.

Di sana, jelas tertera bahwa need process to cook. Bukan langsung dikunyah.

Tak berpuas diri, Antonius terus mengembangkan ini.

Dia menciptakan pasar baru. Dia mulai melirik singkong dan tempe untuk bisa dipasarkan di Australia.

Tentunya, dengan inovasi-inovasi ala Sony Trading.

“Karena kita harus creating opportunity, not looking for opportunity,” jelasnya.

Di tengah perjalanan bisnisnya, Antonius sempat berhenti trading selama 2010–2013.

Ayahnya meminta bantuan mengembangkan sebuah properti keluarga menjadi shopping center.

Latar belakang teknik sipil membuatnya mampu membangun ulang pusat perbelanjaan tersebut.

“Tiga tahun saya off dari trading, fokus ke situ,” ungkapnya.

Setelah beres, ia kembali ke dunia ekspor impor dengan visi lebih besar. Kerja kerasnya pun terbayar.

Pada 2021, kerja kerasnya mendapat pengakuan dari Pemerintah Indonesia melalui Primaduta Award, penghargaan untuk diaspora yang berjasa mempopulerkan produk Indonesia di luar negeri.

“Saya bangga. Itu bukti bahwa produk Indonesia bisa bersaing kalau digarap serius,” pungkasnya. (ALZILATUL HIKMIA, SYDNEY/oni/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida