LombokPost - Dari awalnya mengecil pada pengujung tahun lalu, Api Abadi Mrapen kemudian padam pada awal tahun ini.
Menurut Dinas ESDM Jawa Tengah, padamnya api bukan karena gas habis, tetapi jalurnya tertutup lumpur.
PENYAIR M. Aan Mansyur bisa “Melihat Api Bekerja”. Tapi, di Api Abadi Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), orang justru dapat menyaksikan bagaimana api “diperbaiki”.
Sebab, itulah tulisan yang terpampang di lokasi sumber api yang telah menyalakan obor beragam pesta olahraga tersebut:
“Maaf api sedang dalam perbaikan.” Meski, tentu saja, yang sedang diperbaiki adalah penyebab gangguan pada api.
Sejak 1 Januari lalu, sumber api di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, itu memang “sedang tidak baik-baik saja.”
“Tanggal 31 Desember malam masih hidup, tapi 1 Januari mati, nggak nyala. Saya kasih korek juga nggak nyala. Ada suara ‘utuk-utuk’, saya cek lagi tetap nggak bisa,” ungkap Petugas Api Abadi Mrapen Anas Rofiqi kepada Radar Kudus Grup Jawa Pos.
Dari Api Abadi Mrapen inilah obor untuk berbagai ajang olahraga dinyalakan. Mulai Ganefo 1963 sampai Asian Games 2018. Juga sejumlah edisi Pekan Olahraga Nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan Api Abadi Mrapen tidak padam secara permanen.
Penanganan teknis telah disiapkan melalui penanganan khusus pada sumber gas yang tersumbat lumpur, dengan target api kembali menyala normal dalam waktu sepekan.
Baca Juga: Pecahkan Rekor Muri, Menkum Resmikan 8.563 Posbankum Jateng
Awalnya Mengecil
Gangguan Api Abadi Mrapen mulai terdeteksi sejak 29 Desember 2025. Api yang biasanya menyala stabil mulai mengecil dan tidak normal.
Saat dilakukan pengecekan lapangan menggunakan pipa paralon sepanjang 10 meter, justru yang keluar adalah air, bukan gas.
Menurut Anas, dari lubang api juga tercium bau menyengat seperti telur busuk, meski kondisi lubang justru penuh air. Bahkan, dia sempat menyulut sumber api dengan korek.
Meski menyala, intensitasnya kecil dan hanya bertahan paling lama sekitar dua jam.
Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Provinsi Jawa Tengah Dwi Suryono menjelaskan, secara ilmiah kandungan gas Api Abadi Mrapen masih melimpah.
Padamnya api bukan disebabkan stok gas habis, melainkan karena jalurnya tertutup lumpur.
“Gas itu butuh celah untuk mengalir ke sumbernya. Sekarang posisinya tersumbat oleh lumpur. Maka harus di-treatment agar gasnya bisa normal kembali,” jelasnya.
Treatment yang dilakukan berupa proses flashing atau pembersihan pada sumber gas.
Lumpur yang menyumbat jalur aliran akan dibersihkan agar gas kembali mengalir ke permukaan.
“Untuk kandungan gasnya, berdasarkan penelitian tenaga ahli, gasnya masih melimpah dan masih cukup banyak,” katanya.
Ia juga menyebut, kondisi ini berpotensi berkaitan dengan peristiwa lima tahun silam ketika di sekitar kawasan Mrapen terdapat aktivitas pengeboran sumur yang menyebabkan kebocoran gas.
Namun, yang paling pasti, menurutnya, saat ini gas tertutup oleh media lumpur sehingga membutuhkan penanganan teknis.
Sekretaris Dispora Jateng Surya Deta berharap, Api Abadi Mrapen bisa segera kembali menyala.
“Api Abadi Mrapen ini merupakan ikon Jawa Tengah yang telah dikenal hingga mancanegara dan menjadi kebanggaan bersama,” katanya.
Ia menambahkan, pemulihan Api Abadi Mrapen tidak hanya berorientasi pada aspek teknis api, tetapi juga pada penguatan sektor pariwisata kawasan Museum Mrapen.
Dia juga memastikan, proses pemulihan ditargetkan rampung dalam waktu sepekan.
“Kami butuh waktu sepekan untuk bisa menyala lagi. Jadi, tidak ada istilahnya Api Abadi Mrapen padam permanen. Ini hanya gangguan teknis dan akan kita treatment untuk segera dipulihkan,” katanya. (INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida