Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Sosok Penjemput Mimpi Pelajar Berprestasi Imam Santoso, Sosok Dosen ITB Juga Konten Kreator

Redaksi • Kamis, 2 April 2026 | 09:16 WIB
SEBAR MOTIVASI: Imam Santoso dan tiga mahasiswa ITB yang dia ajak mudik ke kampung halamannya di Ambulu, Jember. (IMAM SANTOSO UNTUK RADAR JEMBER GRUP JAWA POS)
SEBAR MOTIVASI: Imam Santoso dan tiga mahasiswa ITB yang dia ajak mudik ke kampung halamannya di Ambulu, Jember. (IMAM SANTOSO UNTUK RADAR JEMBER GRUP JAWA POS)

LombokPost - Lahir dari keluarga bersahaja, Imam Santoso rutin berkeliling ke berbagai sekolah di banyak kota memotivasi anak-anak muda agar tidak takut mengejar pendidikan setinggi mungkin. Mudik kali ini, dia juga mengajak tiga mahasiswa ITB yang tak bisa pulang kampung karena mahalnya tiket pesawat.

PENGALAMAN mengharukan menjemput seorang siswa berprestasi di Jember itu masih basah dalam ingatan Imam Santoso. Afiq, siswa tersebut, merupakan putra seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anak dengan berjualan es capcin yang dititipkan di sejumlah sekolah.

Ketiadaan biaya nyaris membuat Afiq tak bisa berkuliah. Padahal, pelajar SMAN 1 Jember tersebut merupakan siswa berprestasi. Salah satunya, juara Olimpiade Sains Nasional Kebumian.

Baca Juga: Ramadan 2026 Bakal Beda Lagi? Matematikawan ITB Bongkar Rumus Trigonometri di Balik 'Sakti'nya Hilal dan Hisab!

"Waktu itu saya dapat informasi kalau siswa ini berprestasi. Akhirnya, saya bersama tim beasiswa Paragon menjemput langsung dia,” ujar Imam kepada Radar Jember Grup Jawa Pos tentang pengalamannya tahun lalu.

Afiq akhirnya bisa berkuliah di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB. Imam adalah dosen Teknik Metalurgi di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan kampus ternama di tanah air tersebut. Berburu siswa berprestasi adalah salah satu kegiatan yang rutin dia lakukan di berbagai kota di tanah air.

Mirip Afiq, Imam lahir dari keluarga sederhana di Ambulu, Jember. Orang tuanya buruh tani, namun ketekunan dan kegigihan yang berbuah prestasi membawanya ke titik sekarang: dosen, motivator, dan kreator konten dengan pengikut lebih dari 800 ribu orang.

Baca Juga: Anak Muda ITS dan ITB Sabet Juara Hackathon Sawit Nasional 2025, Ini Inovasi Keren Mereka!

Konten-konten Imam berfokus pada memotivasi siswa berprestasi berlatar belakang keluarga kurang mampu yang ingin berkuliah di ITB, namun terkendala biaya. Dia berbagi cerita dan pengalaman.

Manusia Beasiswa

Pada 2024 dan 2025, misalnya, Imam juga sempat roadshow ke beberapa SMA di kawasan Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Selain untuk memotivasi anak-anak muda melanjutkan kuliah, Imam juga memberikan informasi berbagai beasiswa yang tersedia, sembari menyebarkan jala untuk mencari anak muda seperti Afiq yang memiliki potensi, namun kurang mampu secara finansial.

Baca Juga: Ariel NOAH Jadi Dilan di Film Baru “Dilan ITB 1997” dan “Dilan Amsterdam”, Penggemar Heboh!

“Tahun lalu, saat saya roadshow ke SMA Ambulu, SMA 1 Jember, dan SMA 2 Jember, mereka sangat antusias bertanya tentang ITB. Tidak sedikit juga dari mereka takut karena passing grade ITB tinggi. Namun, selalu saya bilang, jangan takut, apalagi soal biaya,” jelasnya saat ditemui Radar Jember Grup Jawa Pos di Jember (20/3).

Soal beasiswa, Imam berbicara dari pengalaman. Dia sampai dijuluki “Manusia Beasiswa” karena pendidikannya dibiayai dari sana.

S-1 Imam di ITB ditempuh dalam waktu 3,5 tahun dan lulus pada 2007 dengan status cumlaude. Dia lalu melanjutkan pendidikan S-2 ke University of Queensland, Australia, dan lulus pada 2014. Imam juga mendapat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk S-3 di Aalto University, Finlandia, pada 2019.

“Kampus-kampus besar itu juga punya banyak jalur beasiswa. Tak hanya dari pemerintah, tetapi juga perusahaan,” katanya.

Ajak Mahasiswa Mudik

Imam tak mudik sendirian ke kampung kelahirannya di Desa Andongsari, Ambulu, Jember, dalam momen Lebaran yang baru berlalu. Ada tiga mahasiswanya di ITB yang diajaknya pulang kampung.

“Tiga mahasiswa saya ini tidak bisa mudik ke kampung halamannya di Riau dan Sumatera Barat karena terkendala tiket pesawat yang mahal. Jadi, saya ajak mudik ke Jember sekaligus liburan di sini beberapa hari,” ungkapnya.

Devit Febriansyah, Nauli Al Ghifari, serta Adhyaksa Yusuf Iskandar, ketiga mahasiswa tersebut, diajak Imam berkeliling ke sekitar kampung halamannya, termasuk ke Kota Jember. “Saya juga ajak anak-anak ini ke kawasan Blok M (pasar buku bekas di belakang Johar Plaza, Jember, red). Karena saya dulu juga sering membeli buku bekas di sana,” beber Imam.

Bagi Imam, mengajak beberapa mahasiswa yang tidak pulang kampung tersebut merupakan keberkahan tersendiri. Sebab, Imam tidak ingin pada momen libur Lebaran anak-anak didiknya tersebut tidak merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga. (MUCHAMMAD AINUL BUDI, JEMBER/*/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#Imam Santoso #Inspirasi Kuliah #Pemburu Prestasi #Sosok Dosen ITB #beasiswa pendidikan