LombokPost - Sabtu (24/4), langkah menyusuri rimbun Hutan Bukit Peramun terasa berbeda. Bukan sekadar trekking, melainkan pengalaman membaca “cerita” hutan secara langsung.
Berada di jantung segitiga pariwisata Belitung, destinasi ini menawarkan penggabungan pengalaman alam dan digital sekaligus.
Sejak 2006, kawasan itu dijaga masyarakat melalui Komunitas Arsel, sebelum memperoleh izin hutan kemasyarakatan pada 2013.
Bukit Peramun kemudian dibuka sebagai destinasi wisata pada 2017 dengan konsep community-based tourism.
Konsistensi tersebut berbuah pada 2023 dengan dinobatkan sebagai hutan digital berbasis masyarakat pertama di Indonesia oleh MURI, setelah sebelumnya meraih Green Gold kategori pelestarian lingkungan pada Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019.
Inovasi digital menjadi daya tarik utama. Titik hitam-putih di batang pohon yang tampak sederhana ternyata merupakan marker berbasis kode biner.
Baca Juga: Generasi Muda Dominasi Pasar Reksa Dana, BCA Digital Perkuat Layanan Investasi Digital
Dengan memindainya melalui ponsel, pengunjung langsung mengakses informasi pohon, mulai dari nama lokal hingga ilmiah, lengkap dengan visual dan audio dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
IT Support pengelola Bukit Peramun Wahyu Ramadhan menyebutkan, inovasi ini lahir dari kebutuhan di lapangan. “Guide paham, tetapi kadang kesulitan menjelaskan. Dengan aplikasi ini, cukup scan, informasi langsung muncul,” ujarnya.
Di balik inovasi itu, tersimpan upaya panjang menjaga hutan dari ancaman eksploitasi. Ketua pengelola Fahri Rizaldi mengingat masa ketika kawasan ini terancam tambang. “Kalau tidak dimulai sejak 2006, mungkin hutan ini sudah habis,” katanya. Belitung sendiri dikenal kaya sumber daya mineral seperti timah.
Baca Juga: Liburan Nataru Makin Seru, Nikmati Diskon 30 Persen Berwisata di Desa Bakti BCA
Riset internal menunjukkan wisata hutan sempat kurang diminati. “Tujuh dari sepuluh wisatawan menilai wisata hutan tidak menarik. Dari situ kami sadar harus berinovasi,” imbuhnya.
Perubahan besar terjadi pada 2023. Pengelola meninggalkan konsep wisata masal yang membebani ekosistem dan beralih ke wisata minat khusus berbasis reservasi. Hasilnya, pengalaman menjadi lebih personal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Transformasi ini juga mengubah profil pengunjung. Wisatawan mancanegara kini mendominasi, terutama dari Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Belanda. Dari Asia, Jepang dan Korea. Jumlahnya meningkat dari 387 orang pada 2023 menjadi 485 pada 2025. Wisatawan domestik juga naik dari 1.356 menjadi 1.648 orang.
Perjalanan Bukit Peramun turut didukung PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Desa Bakti BCA sejak 2018. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan program ini bertujuan mendorong desa binaan mengoptimalkan potensi lokal. “Harapannya, dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus perekonomian masyarakat,” ujarnya. (Ferlynda Putri, Belitung/dio/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online