Hobi mengoleksi diecast tidak ada matinya. Penghobi miniatur mobil itu muncul dari lintas generasi dan profesi. Di NTB, komunitas ini eksis melalui Lombok Diecast Crew.
Anggotanya merambah anak-anak remaja hingga Generasi X yang telah berusia 50-an tahun. Meski beda generasi, mereka disatukan oleh kegemaran yang sama.
UMAR WIRAHADI, Mataram
Coffee shop di Jalan Pejanggik, Kota Mataram, itu terlihat ramai, Minggu malam lalu (24/5). Puluhan orang duduk berkumpul mengitari meja panjang.
Di atas meja terpajang deretan miniatur mobil berbagai jenis bentuk dan warna.
Suasana makin hidup dengan diorama yang menggambarkan kehidupan kota besar.
Mobil-mobil diecast itu diparkir di tepi-tepi jalan kota. Lengkap dengan lampu jalan bak kota metropolitan.
Diorama khusus kian mempercantik pajangan koleksi mobil-mobilan imut itu.
Baca Juga: Diorama bikin Koleksi Jadi Lebih Realistis, Pembuatan Butuh Banyak Sentuhan Sentimental
"Suasana dalam diorama ini sangat hidup. Asyik sekali melihat deretan diecast diparkir di sini," kata Gede Ardhy yang tak lain adalah ketua komunitas Lombok Diecast Crew.
Anggota komunitas ini memang rutin menggelar pertemuan mingguan. Kegiatan "kopi darat" digelar setiap Minggu malam.
Ajang kumpul ini menjadi momen sesama anggota Lombok Diecast Crew untuk seru-seruan.
Pertemuan itu menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus pengembangan hobi.
"Obrolan menjadi hidup karena kami kan satu frekuensi," ujarnya.
Tidak ada diskusi formal dalam "kopi darat" itu. Obrolan santai dan ringan.
Semua pembicaraan berjalan alami dan mengalir begitu saja.
Tapi yang pasti, tema obrolan setiap pertemuan selalu membahas tentang koleksi terbaru dari setiap anggota komunitas.
Mereka juga berbagi informasi tentang diecast seri terbaru yang baru dirilis pabrikan.
"Dalam kopdar (kopi darat) kami biasanya bawa koleksi terbaru untuk dipajang di diorama. Asyik buat difoto-foto," tutur Gede.
Menariknya, setiap anggota memiliki koleksi mobil mainan lebih dari 100 unit. Gede Ardhy sendiri, contohnya, telah mengoleksi lebih dari 300 unit diecast. Jenisnya macam-macam.
Mulai dari mobil film Fast & Furious. Jenis ini saja Gede memiliki sekitar 50 unit untuk berbagai seri.
Selain itu ada juga mengoleksi hot wheels seperti mobil ikonik Jepang, Japanese Domestic (JDM), forsche serta muscle car.
Mobil-mobil imut itu disimpan dengan rapi di rumahnya di Lingkungan Gebang Baru, kelurahan Pagesangan Timur, Kota Mataram.
Baca Juga: Mimpi Masa Kecil Bertransformasi Jadi Cuan, Proses Impor Makan Waktu Lama
"Paling banyak saya pajang di ruang tamu. Sehingga kalau ada tamu sudah pasti nebak kalau saya penghobi diecast," ungkapnya pria kelahiran 23 Juni 1985 itu.
Meski sudah mengoleksi banyak mobil mainan, ayah dua anak itu tidak berencana untuk stop menambah koleksi.
Ia terus berburu miniatur mobil seri terbaru. Khususnya jenis kendaraan yang belum dimiliki. Sehingga jika berkunjung ke minimarket dan toko ritel, Gede selalu menuju rak tempat penjualan diecast.
"Meski diomeli istri tetap saja belanja terus," tambahnya kembali terbahak.
Menariknya, selain karena hobi, Gede juga punya obsesi khusus. Ia memiliki miniatur mobil karena termotivasi agar suatu saat bisa memiliki mobil benaran dalam wujud yang nyata.
"Jadi sebelum punya mobil riilnya minimal punya mobil mainan dulu. Jadi ada cita-cita yang terpendam. Inilah pemicunya membeli diecast," ungkap pria yang berstatus sebagai PNS di Lapas Kuripan itu.
Baca Juga: Seperti Nostalgia, Inilah Keseriuan Bermain Mobil Mini Tamiya di Lombok Tamiya Community
Dion, anggota komunitas lainnya menyebut Lombok Diecast Crew terbentuk sejak 2016.
Hingga kini anggotanya terus bertambah. Jumlahnya sudah lebih dari 100 orang. Selain di Lombok, anggotanya juga menyebar di Pulau Sumbawa.
"Kadang setahun sekali kami adakan pertemuan akbar yang dirangkai dengan event lomba balap diecast," jelas Dion.
Hingga kini, komunitas Lombok Diecast Crew berkembang dengan cepat.
Selain melalui jaringan media sosial (medsos), para penggemar terus bertambah karena sering mengikuti event balap mobil. Sehingga mereka saling bertukar informasi event dan masuklah menjadi anggota.
"Dari situ jumlah anggota berkembang terus menerus. Jadi kami ini disatukan oleh hobi yang sama. Meskipun ada peserta yang masih remaja sampai sudah punya cucu juga ada," ungkapnya.
Selain itu, pertumbuhan anggota komunitas juga terjadi secara tidak disengaja. Mereka bertemu kebetulan saat sama-sama sedang hunting diecast di minimarket dan ritel modern.
"Jadi seringkali nggak sengaja ketemu di dalam toko. Eh ternyata tujuan sama yaitu ke rak display yang menjual diecast. Di situlah pembicaraan langsung nyambung," tutur Dion lalu tertawa. (*/r3)
Editor : Kimda Farida