Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Komunitas Petani Punk yang Ubah Lahan Tidur di Gunungkidul Jadi Produktif, Berawal dari Kegelisahan Lihat yang ke Sawah Usianya 50–60 Tahun

Redaksi • Rabu, 3 Juni 2026 | 09:29 WIB
BUAH KERJA KERAS: Sejumlah anggota Komunitas Petani Punk Gunungkidul. (Jawa Pos)
BUAH KERJA KERAS: Sejumlah anggota Komunitas Petani Punk Gunungkidul. (Jawa Pos)

LombokPost  - Dengan pola tanaman organik, Komunitas Petani Punk Gunungkidul menanam padi dan palawija yang hasilnya juga dibagikan kepada warga sekitar. Mereka juga menjadi pendamping bagi anak-anak muda setempat yang menggarap lahan tidur hingga menjadi produktif.

DI Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, D.I. Jogjakarta, puluhan anak punk merobohkan stigma. Mereka terjun ke sawah dan berhasil menggarap lahan tidur menjadi produktif, lalu menghibahkan sebagian kepada ratusan anak muda setempat yang didampingi.

Mengutip Radar Jogja Grup Jawa Pos, lahan-lahan seluas 800 hingga 1.500 meter persegi itu pun menjadi mesin ekonomi mandiri bagi beragam kegiatan karang taruna. Acara 17 Agustusan, misalnya. Juga perayaan tahun baru.

Baca Juga: Rian Pratama, Petani Milenial di Lombok Tengah Raup Cuan dari Sayuran Hidroponik

“Misi kami sederhana, meyakinkan anak-anak muda bahwa rupiah bisa dipanen dari tanah sendiri tanpa harus mengadu nasib menjadi buruh di kota besar,” kata Pratisna Sibag, inisiator Komunitas Petani Punk Gunungkidul.

Raihan tersebut lahir dari kegelisahan. Ketika nongkrong di tepian sawah, Sibag dan kawan-kawannya gundah melihat pematang yang kian sepi dari gairah kaum muda.

“Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya sudah 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang,” ujarnya saat ditemui di Kota Jogja, Sabtu (11/4).

Baca Juga: Menangkan Pasangan Ganjar-Mahfud, ADIL GAMA Kota Bima Gelar Doa Bersama Petani dan Peternak Milenial

Gerakan itu dimulai pada 2018. Dari awalnya belasan yang terlibat, sekarang mencapai sekitar 40 anak punk yang terdaftar dalam komunitas tersebut.

Mereka yang biasanya akrab dengan debu knalpot kini diajak akrab dengan lumpur sawah.

Dan, kebaikan itu menular serta menyebar. Di Karangmojo, Sibag dan kawan-kawannya kini telah berhasil mendampingi 120 pemuda di Padukuhan Kalangan.

Baca Juga: Ada 200 an Petani Milenial di NTB

“Daripada habis waktu di kota tapi hasilnya tidak jelas, lebih baik garap lahan di dusun. Kami buktikan kalau bertani itu bisa menghidupi,” tuturnya.

Kepercayaan Warga

Ada beragam tanaman yang dibudidayakan komunitas tersebut. Mulai dari padi sampai palawija. Hasil panen tak semata untuk komunitas, tetapi juga dibagikan kepada warga sekitar.

Namun, sebelum sampai ke tahap panen, perjuangan Sibag dkk tak mudah. Dari anak punk yang akrab dengan debu knalpot dan debu jalanan, mereka harus beralih memegang alat-alat pertanian.

Tak sedikit yang salah cara menggunakan alat pertanian. Tak sedikit pula yang memandang sebelah mata. Meski demikian, untuk lahannya, sebagian warga mempersilakan Sibag dkk menggarap lahan mereka yang lama tak produktif.

Pelan tapi pasti, dengan pola pertanian organik, Sibag bersama belasan anak punk dari berbagai kota yang bergabung dalam komunitas mampu melewati rintangan itu. Tanaman tumbuh, menghasilkan panen, dan tanah menjadi produktif lagi.

“Gunungkidul itu punya lahan, tapi banyak warganya yang harus merantau. Padahal, kita bisa hidup dari lahan kita sendiri,” katanya.

Babak Baru

Kini sebuah babak baru dimulai. Kelompok Petani Punk memutuskan masuk ke dalam pusaran program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan keputusan yang mudah.

“Masak anak punk kok ikut program pemerintah,” demikian tanggapan yang sering terdengar. Namun, menurut Sibag, alasan yang mendasari dia dan komunitasnya adalah menjadi kontrol sosial di dalam program yang kerap menjadi sorotan tersebut.

“Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun,” bebernya.

Langkah Komunitas Petani Punk Gunungkidul itu mendapat dukungan dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Yayasan tersebut ingin berkolaborasi agar para petani lokal, khususnya di Gunungkidul, dapat menjadi penyuplai utama bahan pokok di dapur-dapur MBG.

“Ke depan akan ada lima dapur MBG yang ada di Gunungkidul dan itu akan tepat sasaran sehingga yang menjadi penyuplai atau yang ikut mencari rezeki di sana benar-benar petani lokal,” ucap Sekjen Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Teddy Anggoro. (RIZKY WAHYU ARYA HUTAMA, Gunungkidul /ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#tanaman organik #Mbg #Petani #kaum muda #gunungkidul