Dari Dusun Kumbak Dalem, Desa Setiling, Batukliang Utara, kisahnya akhirnya sampai ke telinga pemerintah setelah lebih dulu viral di media sosial. Kini, bantuan mulai diurai dari hal paling dasar, untuk memastikan Murnah kembali diakui negara.
----
SORE itu, suasana di Dusun Kumbak Dalem, Desa Setiling, Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng), terasa kian senyap. Matahari perlahan condong ke barat. Menyisakan bias cahaya kemerahan yang menerobos masuk melalui celah dinding rumah sederhana milik Murnah.
Di dalam ruangan yang jauh dari kata mewah itu, beberapa lembar tikar seadanya digelar di atas lantai. Tikar itu menjadi tempat duduk sejumlah wartawan dan jajaran Dinas Sosial Loteng yang datang berkunjung.
Baca Juga: Mengintip Uniknya Kawan KopiTiam Mandalika
Di atas tikar itu, Murnah duduk tenang. Namun, wajahnya menyiratkan ketegaran luar biasa. Perempuan itu mengenakan baju merah muda dipadu kain sarung. Jilbab abu-abu membingkai wajahnya. Di balik pakaian sederhananya, tersimpan kisah pilu yang mengiris hati siapa pun yang melihatnya.
Murnah dengan sabar dan perlahan mulai merajut kembali memori tentang garis hidupnya. Ia mengaku sudah didera sakit sejak kecil. Namun, petaka yang sesungguhnya baru dimulai pascagempa besar yang mengguncang Lombok beberapa tahun silam.
Kondisi fisiknya merosot tajam. Kulitnya melepuh. Sekilas menyerupai luka bakar hebat. Yang paling memprihatinkan, jemari tangannya perlahan mulai terputus satu demi satu akibat penyakit misterius yang menggerogoti tubuhnya.
Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru
Di tengah keterbatasan fisik yang kian parah, beban hidup keluarga ini terasa makin menghimpit. Sang suami yang seharusnya menjadi tulang punggung, kini tak berdaya karena didera penyakit jantung. Praktis, untuk menyambung hidup dan mengisi piring setiap hari, Murnah dan keluarganya hanya bisa pasrah menanti uluran tangan serta belas kasih dari tetangga sekitar.
“Sejak kecil sudah sakit-sakitan, tapi parahnya setelah gempa itu, ya seperti ini,” ucapnya pada wartawan.
Sementara itu, di sudut rumah yang lain, ada secercah harapan sekaligus kecemasan. Anak semata wayang mereka kini masih duduk di bangku SMP. Ia menatap masa depan yang masih sarat ketidakpastian.
Beruntung, jeritan senyap dari pelosok Batukliang Utara ini akhirnya pecah ke dunia maya. Begitu kabar mengenai kondisi memprihatinkan Murnah ramai diperbincangkan di media sosial, Pemkab Loteng langsung bergerak cepat.
Kepala Dinas Sosial Loteng Masnun yang memimpin langsung asesmen di lapangan menegaskan, kehadiran negara menjadi harga mati. Dari hasil pelacakan data, terungkap fakta miris. Murnah sebenarnya penerima bantuan PKH. Namun, haknya terputus akibat belenggu birokrasi kependudukan.
Kondisi jari-jemarinya yang rusak membuat ia mustahil melakukan perekaman sidik jari biometrik. Akibatnya, KTP elektroniknya tidak pernah terbit. Namanya pun otomatis terdepak dari sistem Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Baca Juga: Bersih-Bersih Aset, Motor Dinas Loteng Dilelang Mulai Rp 281 Ribu
Benang kusut itu mulai diurai. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang turut hadir langsung memberikan pelayanan khusus di tempat untuk menuntaskan masalah administrasi kependudukan Murnah.
Pada saat yang sama, tim medis Puskesmas Teratak langsung memberikan pemeriksaan intensif dan penanganan medis awal untuk meringankan luka pada kulitnya.
Saat senja mulai turun, Masnun mengakui, informasi ini baru sampai ke telinga pemerintah setelah viral. Baginya, ini menjadi cambuk agar ke depan, masyarakat dan pemerintah desa bisa lebih peka dan aktif melapor. Tanpa harus menunggu riuh di media sosial.
Baca Juga: Penertiban Indomaret Alfamart Bukan Demi KDMP, Wabup Loteng: Murni Penegakan Perda
“Ketika informasi sampai kepada kami, pemerintah akan hadir dan bergerak. Kolaborasi antarinstansi menjadi kunci agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh hak dan layanan yang semestinya,” pungkas Masnun.
Editor : Akbar Sirinawa