Mantan guru honorer di Praya, Lalu Muliadi Irman, sukses merintis budi daya selada hidroponik dengan memanfaatkan lahan sempit seluas 1,5 are di atap dan teras rumahnya. Dari kebun vertikal modern tersebut, ia kini mampu menyuplai restoran hingga program Makan Bergizi Gratis dengan omzet mencapai Rp 5 juta per bulan.
----
Mentari pagi baru saja menyembul di ufuk timur Kelurahan Tiwu Galih, Kecamatan Praya, Lombok Tengah. Langit bersih dan cerah. Hawa dingin sisa semalam masih terasa menusuk kulit.
Di tengah ketenangan pagi itu, suara air mengalir terdengar sayup dari sebuah rumah sederhana. Di depan teras, seorang pria menyambut kedatangan wartawan koran ini dengan senyum hangat dan jabat tangan erat. Ia Lalu Muliadi Irman.
“Mari Mas, Mbak, silakan masuk. Kita ngobrol di dekat green house saja biar lebih segar,” sapanya ramah, memecah hening pagi.
Muliadi menjadi potret keteguhan. Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan sebagai guru honorer lantaran tidak masuk dalam pemetaan PPPK paro waktu bisa memicu keputusasaan. Namun, bagi pria yang juga piawai mereparasi perangkat digital sebagai teknisi komputer ini, titik balik itu justru membuka babak baru.
Ia memilih memutar haluan menjadi petani modern. Bukan di sawah berlumpur, melainkan melalui sistem pertanian presisi dengan budi daya sayuran hidroponik.
Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan Praya tidak membuatnya menyerah. Bermodal lahan sempit seluas 1,5 are, Muliadi memeras otak. Ia memanfaatkan keahlian teknisnya untuk menyulap bagian depan dan dak rumah menjadi green house yang rapi dan fungsional.
Instalasi pipa paralon ia rancang sedemikian rupa. Air nutrisi mengalir ke akar tanaman. Di lahan mini itu, Muliadi kini merawat tak kurang dari 1.200 lubang tanam. Semuanya menghijau oleh selada segar.
Kebun di atas atap rumah itu kini menjadi penopang utama ekonomi keluarganya. “Awalnya coba-coba memanfaatkan ruang kosong, Alhamdulillah sekarang justru jadi penopang ekonomi keluarga,” terangnya sembari memeriksa lembar daun selada yang siap panen.
Kualitas selada hidroponik milik Muliadi berbeda. Daunnya renyah, bersih, dan bebas dari asupan pestisida kimia. Setiap kali masa panen tiba, Muliadi tidak pernah pusing memikirkan pasar. Pembeli justru datang ke rumahnya.
Mulai dari pengepul sayur, pemilik rumah makan, restoran lokal, hingga penjual kebab di sekitar Gumi Tatas Tuhu Trasna menjadi pelanggan setianya. Selada segarnya juga mulai dilirik untuk memasok kebutuhan bahan baku dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah.
Untuk setiap kilogram selada, Muliadi memasang harga Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Angka itu cukup menjanjikan untuk skala usaha rumahan.
Baca Juga: Rakib Petani Segala Anyar, Buktikan Pohon Kopi Bisa Tumbuh Subur di Lahan Tadah Hujan
Dari ketekunan mengalirkan air nutrisi di sela pipa paralon, mantan guru honorer ini kini mampu meraup omzet hingga Rp 5 juta setiap bulan.
Muliadi membuktikan satu hal. Keterbatasan lahan dan perubahan nasib pekerjaan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Di tangannya, ruang sempit di atas atap rumah bisa berubah menjadi ladang hijau yang menghidupi.
Editor : Akbar Sirinawa