Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Koleksi Tertua Fosil Kayu Berumur 254 Juta Tahun: Untuk Perawatan, Setahun Sekali Dilakukan Fumigasi

Redaksi • Rabu, 1 Juli 2026 | 09:20 WIB
TEMPAT EDUKASI: Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kemenhut Krisdianto menunjukkan beberapa koleksi di Perpustakaan Kayu Xylarium Bogoriense di Kota Bogor, Jumat (26/6). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
TEMPAT EDUKASI: Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kemenhut Krisdianto menunjukkan beberapa koleksi di Perpustakaan Kayu Xylarium Bogoriense di Kota Bogor, Jumat (26/6). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)

LombokPost - Koleksi lebih dari 238 ribu kayu tercatat rapi dalam buku sejak awal berdiri pada 1914 dan masih bisa dibaca hingga sekarang. Xylarium Bogoriense ditujukan untuk pendidikan, penunjang penelitian, bahan rujukan identifikasi, serta sumber informasi keanekaragaman hayati.

DI bagian luar gedung tampak sejumlah kayu yang sudah menjadi fosil. Ukurannya besar dan sulit dipotong karena telah membatu.

Meski ditempatkan di luar, fosil-fosil kayu itu tetap diberi pelindung agar tetap awet dan bisa dipelajari. Sebab, semuanya bagian dari koleksi Perpustakaan Kayu Xylarium Bogoriense.

Baca Juga: Ditpolairud Polda NTB Hadirkan Perpustakaan dan Klinik Terapung di Perairan Dompu

Perpustakaan yang menempati lantai tiga salah satu ruangan di Kompleks Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Kota Bogor, Jawa Barat, tersebut memiliki koleksi dari berbagai daerah.

Yang tertua adalah fosil kayu kamper/kapur dengan nama latin Dryobalanoxylon sp.

Fosil kayu tersebut ditemukan di Sungai Tantangan, anak Sungai Merangin, Desa Telun, Kecamatan Bangko Barat, Kabupaten Merangin, Jambi.

Baca Juga: Layanan Perpustakaan Keliling Belum Mampu Jangkau Sembalun

Analisis menggunakan Peta Geologi Lembar Sarolangun (1992) dan analisis data pada tabel International Chronostratigraphic Chart (2013) berhasil mengidentifikasi fosil kayu itu berumur 254–252 juta tahun lalu atau berasal dari Zaman Permian Akhir.

Permian adalah periode geologi terakhir dalam Era Paleozoikum yang berlangsung pada 299–252 juta tahun lalu. Periode ini ditandai dengan penyatuan seluruh daratan di Bumi menjadi superbenua Pangaea.

Meskipun diklaim sebagai perpustakaan kayu terbesar di dunia, tidak terlihat banyak rak yang berjejer. Rak yang ada hanya sekitar lima susun. Isinya untuk memajang aneka jenis bambu dan rotan.

Baca Juga: Kadis Arpus Lobar Bakal Sulap Sudut Perpustakaan Jadi Coffee Shop Instagramable

"Koleksi kayu utamanya ada di laci lemari-lemari ini," kata Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Krisdianto saat mengajak rombongan wartawan beserta tim Ditjen Pengelolaan Hutan Lestari Kemenhut berkeliling pada Jumat (26/6).

Ruangan Otentik

Di setiap lemari terdapat sejumlah laci yang telah disusun dan diberi nama berdasarkan famili kayu-kayuan. Di dalamnya disimpan koleksi kayu berbentuk trapesium sehingga dalam satu laci dapat memuat banyak koleksi.

Kris menjelaskan, ruangan utama di Xylarium Bogoriense merupakan ruangan otentik yang berisi koleksi kayu utama. Ruangan lainnya digunakan untuk menyimpan kayu duplikat atau cadangan.

Xylarium Bogoriense telah beroperasi sejak masa pendudukan Belanda, tepatnya pada 1914. Perpustakaan ini didirikan di bawah lembaga bernama Proefstation voor het Boschwezen.

Informasi tersebut ditegaskan melalui tumpukan buku pencatatan koleksi yang tersusun rapi dan masih dapat dibaca hingga sekarang. "Dicatat mulai dari tahun kapan sampel diterima, nama ilmiah, nama lokal, sampai siapa orang yang membawa sampelnya," jelas Kris.

Saat ini tim pengelola Xylarium Bogoriense sedang menyalin ulang seluruh data koleksi tersebut. Selain itu, juga dibuat daftar koleksi dalam bentuk digital.

Jumlah koleksi tercatat sebanyak 238.882 jenis kayu. Koleksinya lebih banyak dibandingkan Xylarium lain, seperti Naturalis Biodiversity Center di Leiden, Belanda (sekitar 125 ribu koleksi), U.S. Forest Products Laboratory di Madison, Amerika Serikat (105 ribu koleksi), serta Royal Museum for Central Africa di Tervuren, Belgia (sekitar 80 ribu koleksi).

Menurut Kris, manfaat keberadaan Xylarium Bogoriense adalah untuk pendidikan, penunjang penelitian, bahan rujukan identifikasi, serta sumber informasi keanekaragaman hayati.

Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu mereka berkolaborasi dengan tim Kemenhut yang terjun ke lapangan saat banjir bandang di Sumatera dan Aceh. Saat itu tim lapangan membawa sampel kayu yang sulit diidentifikasi karena kondisinya sudah tertutup lumpur. Sampel kayu dari lokasi bencana kemudian dibawa ke Xylarium Bogoriense untuk dicocokkan dengan koleksi yang identik sehingga dapat diidentifikasi.

"Contoh lainnya saat pembangunan Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta yang lama," tuturnya.

Koleksi di Xylarium Bogoriense merupakan kayu keras sehingga perawatannya tidak terlalu kompleks. "Biasanya setahun sekali dilakukan fumigasi. Seluruh jendela kami tutup," kata Kris.

Kayu Gaharu

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, rombongan juga mendapatkan paparan mengenai dunia kayu di Indonesia. Salah satu materi yang dipaparkan Prof. Maman Turjaman, ahli kayu gaharu dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, adalah mengenai kayu gaharu sebagai penghasil resin bernilai tinggi untuk bahan baku parfum.

"Untuk kualitas yang super, harga resin gaharu setara dengan emas murni," kata Maman.

Kebutuhan resin gaharu sangat tinggi. Salah satunya untuk kebutuhan "memandikan" Kakbah. Saat ini penyuplai resin gaharu terbesar di dunia masih dipegang Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.

Sementara itu, di Indonesia justru masih kerap muncul kasus perdagangan gaharu ilegal. "Perlu ada pembenahan kebijakan," tuturnya. (M. Hilmi Setiawan, Kota Bogor/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#kayu #fosil #koleksi #perpustakaan #hutan