Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Jalaludin Bawa Anyaman Ketak Janapria Tembus Pasar Global, Empat Kali Bertaruh Nyawa di Perbatasan Malaysia, Kini jadi Eksportir

Lestari Dewi • Kamis, 2 Juli 2026 | 08:47 WIB
Jalaludin menunjukkan deretan kerajinan anyaman ketak yang segera dikirim ke Perancis, Senin (29/6) lalu.
Jalaludin menunjukkan deretan kerajinan anyaman ketak yang segera dikirim ke Perancis, Senin (29/6) lalu.

 

Jalaludin, seorang mantan pekerja migran ilegal asal Janapria, sukses mengubah jalan hidupnya menjadi eksportir kerajinan ketak hingga ke benua Eropa dan Afrika. Dari teras rumahnya yang kini dipenuhi deretan tas anyaman cantik, ia mampu memberdayakan warga sekitar dan meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.

----

DERU mesin sepeda motor sesekali memecah keheningan siang di Desa Saba, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah. Di sela riuh rendah suara ayam peliharaan warga yang saling bersahutan, sebuah rumah produksi sederhana justru tengah sibuk merajut asa yang melintasi batas negara.

Baca Juga: Semangat Emak-Emak Ikut Pelatihan Anyaman Rotan Ketak di Lombok Tengah

Di dalam ruang pamer miliknya, ribuan tas ketak berderet rapi di atas rak-rak besi dan etalase kaca. Aroma khas tanaman ketak yang habis diasapi tercium lembut di udara. Dari sudut ruangan, pantulan cahaya matahari siang menembus celah jendela, menyinari lekukan anyaman tas-tas cantik yang siap dikirim ke berbagai belahan dunia, mulai dari Inggris, Prancis, Korea, hingga Afrika.

Siapa sangka, di balik deretan barang estetik bernilai ekspor tersebut, ada kisah air mata dan keteguhan seorang pria bernama Jalaludin. Pria lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) ini adalah nahkoda di balik layar suksesnya kerajinan ketak tersebut.

Baca Juga: Bocah-bocah Penakluk Sirkuit Mandalika di MRS 2026 Putaran Kedua, Resky YH, Pembalap Asal Jateng yang Garang di Lintasan namun Ramah di Balik Podium

Sebelum jemarinya lincah memilah hasil anyaman seperti sekarang, Jalaludin adalah seorang petarung nasib di negeri jiran. Terdesak kebutuhan ekonomi, ia sempat nekat keluar-masuk Malaysia melalui jalur ilegal menjadi buruh sawit. Tak tanggung-tanggung, empat kali ia bertaruh nyawa melintasi perbatasan demi mencari sesuap nasi.

“Dulu tidak ada pilihan lain. Menjadi TKI ilegal itu penuh ketakutan,” kenangnya, Senin (29/6).

Lelah hidup dalam bayang-bayang kejar-kejaran petugas, Jalaludin memilih pulang. Ia bertekad menyudahi petualangan ilegalnya. Bermodalkan sisa gaji buruh sawit yang tak seberapa, ia mencoba peruntungan di tanah kelahiran dengan menjadi pengecer bahan baku ketak.

Namun, takdir kembali mengujinya. Modal yang dikumpulkannya dengan tetesan keringat di Malaysia perlahan menipis karena banyak pembeli yang berutang bahan baku.

Di tengah keputusasaan itu, Jalaludin enggan menyerah. Melihat potensi perajin di desanya yang kesulitan memasarkan produk, ia memutar otak dan berbalik arah menjadi penampung kerajinan siap pakai.

Baca Juga: Bocah-Bocah Penakluk Sirkuit Mandalika di MRS 2026 Putaran Kedua, Pembalap Muda NTB Gian Gibran Rebut Podium Perdana di IJTC

Berbekal gawai sederhana dan memanfaatkan media sosial, keajaiban itu akhirnya datang. Pesanan besar pertama justru hadir dari seorang pembeli di Bali yang langsung memborong dua ribu buah tas ketak miliknya.

Kini, didampingi sang istri tercinta dan dua orang karyawan, Jalaludin tidak lagi harus bersembunyi di balik pohon sawit Malaysia. Dari ruang tamu rumahnya yang kini disulap menjadi ruang pamer penuh barang-barang cantik, mantan buruh migran ini mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan.

Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru

Jalaludin adalah bukti nyata, bahwa untuk menjemput rezeki yang berkah dan mendunia, seseorang tidak harus selalu meninggalkan tanah air tercinta secara sembunyi-sembunyi. Cukup dengan ketekunan, sekeping harapan, dan anyaman ketak di halaman rumah sendiri. 

Editor : Akbar Sirinawa
#eksportir #Kerajinan Ketak #mantan #luar negeri #pekerja migran Indonesia (PMI)