Langkah kaki Cidomo berirama santai menyusuri hamparan hijau tembakau di Desa Pajangan. Di kejauhan, Gunung Rinjani berdiri megah menyambut fajar dan senja yang memesona.
----
Bunyi lonceng di leher kuda memecah kesunyian pagi di Desa Pajangan, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Di atas cidomo, kereta kuda tradisional Sasak, Lombok Post diajak menyusuri jalan desa yang bersih.
Di kanan dan kiri jalan, lanskap hijau membentang luas. Bukan padi. Melainkan hamparan tanaman tembakau yang tumbuh subur dan berjejer rapi seperti permadani hijau raksasa.
Di ujung cakrawala, Gunung Rinjani berdiri anggun. Awan tipis memanjang menyelimuti puncaknya. Pemandangan itu menjadi latar kemegahan desa ini.
Pajangan kini tak mau sekadar menjadi penonton di tengah geliat pariwisata Gumi Tatas Tuhu Trasna. Desa ini sedang bersolek. Menggali setiap jengkal potensinya untuk menjelma menjadi destinasi wisata baru yang memikat.
“Kami ingin wisatawan yang datang ke sini bisa merasakan roh pedesaan Lombok yang sebenarnya. Alami, tenang, dan bersahaja,” ucap penggerak wisata lokal Wawan Sugandika sembari memandu perjalanan, Selasa (30/6).
Baca Juga: Lima Pejabat Eselon II Pensiun, Pemkab Loteng Siapkan Skema Mutasi dan Manajemen Talenta
Mengitari spot-spot wisata di Pajangan menggunakan cidomo memberi sensasi melambat yang mewah. Ritme langkah kaki kuda berpadu dengan embusan angin sejuk. Aroma khas daun tembakau ikut terbawa sepanjang perjalanan.
Bagi wisatawan yang ingin sedikit berkeringat, bersepeda melintasi pematang sawah dan jalur setapak menjadi pilihan menarik. Beberapa pria paro baya tampak asyik mengayuh sepeda. Sesekali mereka berhenti untuk berswafoto dengan latar Rinjani yang ikonik.
Pajangan juga mendapat bonus geografis yang jarang dimiliki desa lain. Wisatawan tidak perlu berburu tempat berbeda untuk mengejar momen magis alam.
Dari titik pandang yang sedang dikembangkan, hamparan hijau tembakau menyuguhkan siluet emas matahari terbit pada pagi hari. Dari tempat yang sama, garis horizon melukis langit menjadi jingga kemerahan saat matahari bergerak ke peraduan.
Upaya memoles potensi ini bukan mimpi di siang bolong. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan kesadaran kolektif warga, perangkat desa mulai mematangkan penataan rute jelajah dan edukasi agrowisata. Warga lokal juga bersiap menyulap rumah-rumah mereka menjadi tempat singgah yang ramah.
Kepala Desa Pajangan Samiun mengatakan, pemetaan potensi wisata desa menggandeng jajaran Poltekpar Lombok selama empat bulan terakhir. Program itu dimulai dari pelatihan hingga penerapan program wisata yang dicetuskan perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Pariwisata.
Baca Juga: VIRAL! Java Lo Resto & Coffee, Kafe Kekinian Berlatar Sawah dan Perbukitan
“Kami ingin mengenalkan budaya Bejango, di Bukit Bale Atas bisa melihat langsung pemandangan desa baik itu lembah, sungai dan perbukitan kecil. Kami juga mengajak melihat langsung pembuatan kerajinan tangan anyaman ketak dan rotan,” paparnya.
Matahari mulai meninggi. Namun, kesejukan di Desa Pajangan seolah enggan beranjak.
Editor : Akbar Sirinawa