Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Emma Feik, Mahasiswi Jerman Temukan Cara Belajar Baru di Unram, Pengalaman di Lombok Ubah Cara Pandangnya tentang Pendidikan  

Jay • Jumat, 10 Juli 2026 | 10:04 WIB

 

PENGALAMAN BARU: Emma Feik (tengah), mahasiswi Jerman program Changes: Exploring Critical Sustainable Development Education from Global Perspectives bersama temannya usai mengikuti perkuliahan di Unram, belum lama ini.
PENGALAMAN BARU: Emma Feik (tengah), mahasiswi Jerman program Changes: Exploring Critical Sustainable Development Education from Global Perspectives bersama temannya usai mengikuti perkuliahan di Unram, belum lama ini.

LombokPost -  Bagi banyak mahasiswa internasional, belajar di luar negeri bukan sekadar mengejar nilai akademik. Ada pengalaman, budaya, dan cara pandang baru yang ikut membentuk perjalanan hidup.

 Sejak 1 April hingga 31 Juli 2026, Emma Feik mengikuti program Changes: Exploring Critical Sustainable Development Education from Global Perspectives di Universitas Mataram (Unram).

Mahasiswi Program Primary School Teaching dari University of Kassel, Jerman, itu mengikuti perkuliahan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Baca Juga: Belvana Rolanda Vindia Kurniawan Menukar Gemerlap Panggung Modeling dengan Disiplin Paskibraka Nasional

Bagi Emma, sapaan karibnya, keputusan menjadi mahasiswa Jerman di Unram bukan hanya mengenal sistem pendidikan Indonesia. Ia juga ingin merasakan secara langsung bagaimana keberagaman budaya, nilai-nilai keberlanjutan, dan kehidupan kampus di Indonesia berjalan dalam keseharian.

"Saya ingin mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri, terutama di universitas yang berada dalam budaya yang sangat berbeda dengan negara asal saya. Saya juga ingin mempelajari bagaimana sistem pendidikan di Indonesia diterapkan," ujar Emma, Selasa (7/7).

Di ruang kelas FKIP Unram, Emma menemukan pengalaman yang berbeda dari kampusnya di Jerman. Salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya adalah Intercultural Understanding.

Baca Juga: Meksiko Gagal Mengulang Raihan Terbaik 1970 dan 1986: Kekalahan Tak Hentikan Fans Meksiko untuk Tetap Bertepuk Tangan dan Nge-Chant

Pelajaran ini membuka wawasannya mengenai keberagaman budaya, komunikasi lintas budaya, hingga cara masyarakat Indonesia memandang pendidikan. Setiap diskusi di kelas menjadi ruang bertukar perspektif.

Bukan hanya teori yang dipelajari, tetapi juga pengalaman hidup dari dosen dan mahasiswa yang memperkaya cara berpikirnya. “Saya belajar banyak tentang bagaimana pendidikan dipandang di Indonesia dan bagaimana peran seorang guru di masyarakat. Selain itu, saya juga memperoleh pengalaman pertukaran budaya yang sangat berharga melalui berbagai diskusi mengenai nilai, komunikasi, dan cara pandang yang berbeda," katanya.

Emma melihat ada perbedaan cukup mencolok antara sistem pendidikan di Jerman dan Indonesia. Di negaranya, jadwal kuliah sudah ditetapkan sejak awal semester dan mahasiswa lebih mandiri dalam mengatur proses belajar.

Baca Juga: Keseruan Jelajah Desa Pajangan di Kopang, Lombok Tengah, Menganyam Potensi Wisata di Bawah Bayang Gunung Rinjani

Sebaliknya, di Unram ia menemukan suasana belajar yang lebih kolektif. Hubungan antara dosen dan mahasiswa terasa lebih dekat sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih hangat.

Menurut Emma, justru kedekatan tersebut membuat dirinya lebih nyaman mengikuti setiap perkuliahan. Ia menyadari bahwa proses belajar tidak selalu harus dipenuhi tekanan mendapatkan hasil yang baik.

Di Unram ia merasakan suasana belajar yang lebih santai, tetapi tetap produktif. Hubungan antara dosen dan mahasiswa juga sangat dekat.

Baca Juga: Bocah-bocah Penakluk Sirkuit Mandalika di MRS 2026 Putaran Kedua, Resky YH, Pembalap Asal Jateng yang Garang di Lintasan namun Ramah di Balik Podium

“Para dosen selalu memastikan mahasiswa merasa nyaman selama mengikuti perkuliahan," ucapnya.

Bagi mahasiswa Jerman itu, ruang belajar tidak berhenti ketika kuliah selesai. Setelah mengikuti perkuliahan, Emma kerap mengerjakan tugas di perpustakaan maupun kafe sekitar kampus.

Bersama mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional lainnya, ia menghabiskan waktu bermain bulu tangkis, berlari di kawasan kampus, hingga menikmati keindahan pantai-pantai di Lombok.

Baca Juga: Inspirasi dari Ali An Nuur, Mahasiswa Unram Pemenang Swift Student Challenge 2026

Pengalaman yang paling membekas justru datang dari kegiatan sosial. Emma bergabung bersama Gugah Nurani Indonesia dan Jage Kastara Foundation untuk mengajar, berinteraksi dengan anak-anak, serta mengenal kehidupan masyarakat Lombok dari dekat.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui buku ataupun ruang kuliah.

“Pada akhir pekan, kami juga menjelajahi desa-desa tradisional, sekolah-sekolah, hingga menikmati keindahan bawah laut Lombok,” tuturnya antusias. (ALI ROJAI, Mataram)

Editor : Kimda Farida
#Emma Feik #Mahasiswi Jerman #Mahasiswa internasional Unram #Unram #Universitas Mataram