Si jago merah meluluhlantakkan 150 rumah adat di Desa Wisata Sade hanya dalam waktu 15 menit. Warga yang panik tak sempat menyelamatkan harta benda. Hanya pakaian melekat di badan yang tersisa.
----
AROMA asap tipis dan sisa bahan bakar kayu yang hangus masih membekas pekat di udara Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, Minggu (23/8) pukul 09.00 WITA. Puing-puing hitam dari 150 unit rumah adat (bale) kini dikelilingi garis polisi. Pecahan piring, gelas, hingga perabotan rumah tangga yang gosong menumpuk nestapa di sudut-sudut sisa hunian bersejarah tersebut.
Baca Juga: Kemenpar RI Akan Kawal Rekonstruksi Desa Wisata Sade
Di antara barisan sisa abu, tampak sejumlah personel aparat gabungan bersama warga bahu-membahu memadamkan sisa-sisa bara api yang masih mengepul. Mereka menyisihkan sisa barang milik warga yang barangkali masih layak dipakai, sembari memastikan area aman dari ancaman api susulan.
Tak ada yang tersisa dari kemegahan dusun adat yang melegenda ini—sekitar 150 bangunan luluh lantak hanya dalam kurun waktu 15 menit akibat hembusan angin malam dan material atap ilalang yang mudah terbakar.
Neman, salah seorang warga setempat, menjadi satu dari ratusan korban yang terpukul mendalam. Pagi itu, ia bersama anak dan istrinya duduk terdiam di atas lantai rumah mereka yang kini tak lagi beralaskan tanah liat, melainkan hamparan abu hitam.
Baca Juga: Pulihkan Desa Wisata Sade, The Dudas-1 Gelontorkan Bantuan Donasi Rp Satu Miliar
Tatapannya kosong memandang sekeliling, di mana rumah-rumah tetangganya bernasib sama. Mengenang tempat tinggal yang dulu dinaungi rasa aman dan kenyamanan, kini berubah total 360 derajat hanya dalam sekejap mata.
“Habis semua, tidak ada yang tersisa. Hanya pakaian yang melekat di badan. Tapi kami tetap bersyukur anak dan istri selamat. Ini yang paling penting, alhamdulillah,” ungkap Neman penuh rasa haru.
Di sela-sela pemadaman yang masih dilakukan petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) dari kejauhan, Neman menceritakan detik-detik mencekam malam itu. Saat peristiwa, ia sudah hendak terlelap bersama anak dan istrinya. Namun, kepulasan tidur malam mereka mendadak pecah oleh teriakan histeris Rembun, tetangga sebelah rumahnya.
“Saya kaget langsung bangun. Anak dan istri langsung saya bangunkan. Pas lihat ke samping, api sudah membumbung besar di tembok bagian kiri rumah,” tutur Neman dengan suara bergetar.
Baca Juga: Melihat Oven Tembakau Listrik Pertama di Indonesia
Terkejut menyaksikan si jago merah yang begitu cepat melahap separuh huniannya, Neman tak berpikir panjang. Fokus utamanya hanya satu, menyelamatkan anak dan istri keluar dari kepungan api. Harta benda tak lagi dihiraukan. Hanya helai pakaian di badan yang tersisa.
Kini, Neman beserta keluarganya berencana mengungsi sementara waktu ke rumah salah seorang anaknya yang berada di luar Dusun Sade. Kerugian materiil yang ditanggungnya ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Bukan sekadar bangunan, mata pencaharian utamanya pun sirna. Kain songket khas Sasak yang baru saja selesai ditenun dan siap diserahkan kepada pemesan kini sudah menjadi abu. Usaha galeri kerajinan (artshop) miliknya pun ludes. “Ratusan lembar kain songket hangus tak tersisa,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Kebakaran Sade, Polisi Tunggu Hasil Olah TKP dan Labfor Bali
Nasib serupa dialami Rembun, sosok yang pertama kali menyadari musibah tersebut. Rumah adat miliknya diduga kuat menjadi titik awal kemunculan kobaran api.
Rembun menuturkan, usai melaksanakan salat Isya, istrinya langsung tertidur lelah setelah seharian beraktivitas. Sementara dirinya masih terjaga di dalam rumah sembari menonton pertandingan sepak bola. Tak lama ia pun mengisi daya handphone (dicas), pesan sang istri sebelum tertidur pulas.
“Usai menerima telepon, saya colok isi daya hape. Lalu saya masuk ke dalam kelambu sekitar pukul 22.05 WITA untuk tidur. Belum lama terpejam, saya merasa hawa sangat panas. Pas saya cek, tembok bambu tempat charger hape sudah terbakar hebat. Tembok bagian belakang sudah habis,” beber Rembun.
Baca Juga: RSUD NTB Turunkan Tim Medis, Atasi Kesehatan Korban Kebakaran Sade
Dalam kepanikan luar biasa, Rembun spontan berteriak membangunkan istrinya, lalu berlari keluar rumah sambil berteriak sekuat tenaga memberi peringatan kepada para tetangga. Api dengan sangat cepat merembet dan melahap tiga rumah beratap ilalang di sekitarnya. Merembet ke ratusan bangunan lain yang berbahan serupa.
“Kaki saya yang awalnya sakit spontan saya paksakan lari keluar. Cuma pakai sarung dan baju yang terpasang di badan. Semua isi rumah terbakar—sertifikat, surat-surat penting, dan lain-lain habis semua karena api sudah terlanjur membesar,” pungkas Rembun menahan duka.
Kini, Dusun Sade yang biasanya riuh oleh kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara mendadak hening berbalut duka. Garis polisi yang melingkari sisa-sisa arang menjadi saksi bisu betapa cepatnya si jago merah melumat warisan budaya dan tempat bernaung warga Sasak dalam hitungan menit.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post