Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melihat Oven Tembakau Listrik Pertama di Indonesia

Supardi
Penulis: Supardi❯
OVEN TEMBAKAU: Ketua Kelompok Tani  Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang Mansur saat melihat tembakau yang sudah matang di oven listrik.
OVEN TEMBAKAU: Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang Mansur saat melihat tembakau yang sudah matang di oven listrik.

Advertisement

LombokPost-Alat dan mesin pertanian setiap hari terus mengalami perkembangan cukup signifikan. Terbaru, sebuah oven tembakau listrik tengah diuji coba di salah satu kelompok tani di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim). Keberadaan oven tembakau ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus membuat proses produksi lebih efektif.

SEBUAH bangunan mirip boks kontainer berdiri di tengah persawahan yang dikelilingi tanaman tembakau siap panen. Bangunannya tidak terlalu besar. Namun, keberadaannya dalam beberapa hari terakhir cukup menyedot perhatian masyarakat, terutama para petani tembakau.

Bangunan dengan ketinggian sekitar 3-4 meter itu merupakan oven tembakau listrik. Oven ini menjadi yang pertama di Lombok, bahkan di Indonesia. Produk ini dikembangkan perusahaan asal China dan saat ini masih dalam tahap uji coba.

Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang, Kecamatan Terara Mansur menyampaikan, keberadaan oven listrik ini cukup memudahkan proses produksi. Oven juga mampu menekan biaya produksi dibandingkan menggunakan oven tembakau manual.

“Hasil produksinya cukup bagus. Matangnya merata, tidak ada daun tembakau yang masih mentah seperti yang biasa kita temukan di oven biasa,” beber Mansur kepada Lombok Post, Minggu (23/8).

Advertisement

Kapasitas oven ini masih terbatas. Hanya mampu menampung 2,5 hingga 3 ton tembakau dengan jumlah 150 gelantang atau tembakau yang diikat pada bambu berukuran 1,5 meter. Sementara oven manual mampu menampung 4 hingga 5 ton dalam sekali produksi.

Namun, keberadaan oven listrik ini mampu memangkas biaya operasional sekaligus membuat pekerjaan pengovenan tembakau lebih efektif. Misalnya pada proses gelantang. Oven ini sudah memiliki gelantang khusus yang cukup praktis sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

“Sekarang ongkos gelantang saja Rp 5.000 per tiga gelantang. Kalau oven listrik ini bisa kita gelantang sendiri di sawah langsung. Sehingga tembakau yang dibawa pulang yang sudah siap dimasukkan ke oven,” katanya.

Oven ini juga tidak membutuhkan tenaga kerja untuk menunggu api seperti pada oven biasa. Tenaga kerja itu biasanya dikontrak dengan gaji hingga Rp 6 juta per musim tembakau. Sebab, oven listrik dioperasikan dan dikontrol melalui aplikasi di HP android dari jarak jauh.

Suhu panas oven juga sudah otomatis. Tingkat panas akan menyesuaikan dengan kondisi daun dan kebutuhan tembakau. Bahkan, saat tembakau sudah matang, oven bisa mati sendiri secara otomatis.

Advertisement
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

DBHCHT Rp 32 Miliar Difokuskan Dukung Produktivitas Petani Tembakau NTB

DBHCHT Rp 32 Miliar Difokuskan Dukung Produktivitas Petani Tembakau NTB

Pemprov NTB pastikan sebagian besar DBHCHT dimanfaatkan membantu petani tembakau dan menjaga produktivitas komoditas unggulan daerah.

Pusat Gelontorkan DBHCHT Rp 312 Milyar, DPRD NTB Dorong Berpihak ke Petani Tembakau

Pusat Gelontorkan DBHCHT Rp 312 Milyar, DPRD NTB Dorong Berpihak ke Petani Tembakau

Komisi II DPRD NTB menerima aduan kelompok masyarakat soal pemanfaatan anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun ini.

Pemkab Lotim Dorong Hirilisasi Tembakau

Pemkab Lotim Dorong Hirilisasi Tembakau

Pemkab Lotim mendorong hilirisasi tembakau untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dorongan itu dilakukan melihat potensi yang ada di Lotim

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer