Menenun Asa di Desa Wisata Sade Rembitan, Senyum Anak-anak dan Rajutan Harapan di Tenda Darurat

Lestari Dewi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:10 WIB
TRAUMA HEALING: Puluhan anak-anak korban kebakaran Desa Wisata Sade antusias menggambar rumah impian di tenda darurat di Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Loteng, Rabu (26/8).
TRAUMA HEALING: Puluhan anak-anak korban kebakaran Desa Wisata Sade antusias menggambar rumah impian di tenda darurat di Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Loteng, Rabu (26/8).

 

Di seberang kawasan wisata yang dilanda kebakaran, tenda darurat di pinggir jalan raya menjadi ruang aman bagi puluhan anak Desa Wisata Sade untuk menyembuhkan luka batin. Bersama ibu-ibu Bhayangkari, keceriaan Septi dan teman-temannya kembali dirajut melalui kegiatan menggambar, bercerita, dan bernyanyi bersama.

----

DI balik terik yang menyengat di pinggir jalan raya depan Desa Wisata Sade, Dusun Rambitan, suara gelak tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan. Di dalam tenda darurat sederhana yang berdiri tepat di seberang puing-puing kampung adat, puluhan bocah berkumpul melingkar. Debu jalanan dan lalu lalang kendaraan seolah kalah riuh oleh antusiasme kecil yang sedang dirajut kembali.

Siang itu, tenda tak sekadar menjadi tempat berteduh dari terik mentari, melainkan ruang aman untuk menyembuhkan luka batin. Puluhan anak korban bencana berhimpun mengikuti kegiatan trauma healing yang diselenggarakan ibu-ibu Bhayangkari.

Baca Juga: Gerindra NTB Perjuangkan Anggaran Rekonstruksi Desa Wisata Sade ke Pusat

Di sudut tenda, Septi duduk memegang selembar kertas dan krayon warna-warni. Bocah kelas 5 sekolah dasar itu sesekali mengulum senyum saat menggoreskan garis pensil di atas kertas putihnya. Bagi Septi dan teman-temannya, momen ini menjadi jeda yang amat berharga di tengah ketidakpastian kondisi pascabencana.

“Senang sekali ikut acara ini. Tadi diajak bercerita sama ibu-ibu, terus diajak menggambar juga. Gambar rumah impian,” tutur Septi polos.

Melalui metode yang komunikatif dan hangat, ibu-ibu Bhayangkari mengajak anak-anak bernyanyi, mendengarkan cerita interaktif, hingga mengekspresikan emosi lewat gambar. Pendekatan perlahan ini dihadirkan untuk mengikis bayang-bayang trauma yang sempat hinggap di benak para buah hati.

Baca Juga: Selamatkan Tanah Pecatu Rp 21,8 Miliar, Kejari Loteng Siapkan Jurus Keroyokan

Desa Wisata Sade yang tersohor dengan tradisi menenun kain khasnya kini sedang menenun hal lain yang tak kalah penting, harapan anak-anaknya. Di balik kepulan debu pinggir jalan, keceriaan Septi dan puluhan anak lainnya menjadi simbol kuat bahwa asa di Desa Sade belum padam, melainkan sedang dirajut kembali hingga utuh.

Ketua Bhayangkari NTB Widhy Kalingga turun langsung mendampingi dan memeluk duka warga. Ia turut prihatin atas musibah yang menghanguskan permukiman tradisional itu. Untuk mengobati trauma para korban, khususnya anak-anak, Bhayangkari NTB menghadirkan sesi edukasi dan ajakan bermain bersama.

“InsyaAllah bertahap kita terus berikan perhatian kepada mereka,” ujar Widhy Kalingga di lokasi.

Ia meyakini musibah ini dapat menjadi titik balik kebangkitan bersama jika semua pihak saling membantu dan mendukung. Saat mendampingi anak-anak, rasa haru tak dapat ia sembunyikan.

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026, Riders Parade Lombok Hadirkan hingga 10 Pembalap

“Trauma healing ini kami melihat anak-anak masih ceria walau di dalam hatinya pasti ada kesedihan, karena bagaimanapun tempat tinggal mereka ludes terbakar,” tambahnya lembut. 

 

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Bhayangkari NTB Kebakaran Sade widhy kalingga anak-anak trauma healing