Setahun sekali, pesisir Pantai Kuta Mandalika berubah menjadi perkampungan kecil. Warga Desa Rembitan mendirikan tenda, menginap berhari-hari, lalu turun ke laut saat air surut untuk berburu ikan, cumi, hingga gurita. Inilah Madak Mare, tradisi yang mempertemukan keluarga, persaudaraan dan rezeki laut.
----
ANGIN laut berembus pelan menyapu pesisir Pantai Kuta Mandalika. Di atas gulungan ombak yang memecah, beberapa wisatawan asing tampak asyik memacu papan selancar. Sementara di sepanjang tepi pantai, suasana hangat menyelimuti hamparan pasir putih.
Baca Juga: Tinjau Sade, Menpar Pastikan Penanganan Darurat dan Pemulihan Jangka Panjang Berjalan Baik
Warga duduk santai menikmati sinar mentari yang nyaris di atas kepala, tak menghalangi anak-anak yang asyik berlarian bermain air. Beberapa wisatawan asing berjalan pelan menyusuri garis pantai. Di antara riuh aktivitas wisatawan itu, berjejer deretan tenda sederhana berbahan anyaman daun kelapa berlapis terpal.
Setahun sekali, berdasarkan penanggalan bulan Sasak, warga Desa Rembitan memadati kawasan pesisir untuk menggelar tradisi turun-temurun bernama Madak Mare. Yaitu menginap di pesisir pantai untuk berburu hasil laut.
Baca Juga: Merger Batal, SMPN 5 Praya Timur Diprioritaskan Direhab
Selama sepekan, warga akan memilih menginap di tepi pantai. Atap tenda darurat itu menjadi rumah sementara yang menampung dua hingga tiga keluarga sekaligus. “Kami sudah menginap sekitar seminggu di sini,” ucap Baiq Humaiyah, salah satu warga, Senin (31/8).
Kehangatan Madak makin terasa saat mentari mulai condong ke barat. Saat air laut surut jauh ke tengah di Pantai Kuta Mandalika, ribuan warga beramai-ramai turun melangkah ke area karang yang mendadak dangkal hingga ratusan meter.
Berbekal penerangan dan alat tangkap seadanya, aksi berburu hasil laut dimulai menjelang sore hingga malam hari. Kerang, ikan kecil, cumi-cumi, rumput laut, hingga gurita menjadi incaran.
Bagi masyarakat setempat, momen sekali setahun ini bak ajang memanen rezeki laut yang melimpah. “Hasil tangkapan sebagian dijual, sebagian lagi dimasak,” tutur Humaiyah.
Selama menginap ini, warga membawa perlengkapan sederhana dari rumah. Tikar, selimut, perlengkapan solat, beras, air galon hingga kompor dan alat dapur ditata rapi di dalam tenda. Tidak ada larangan khusus bagi warga, sebab kegiatan ini merupakan tradisi yang dijaga kelestariannya.
Senada, Baiq Menep mengaku sengaja datang membawa suami, kedua anaknya, serta lima anggota keluarga lainnya untuk menginap dan mencari ikan di pinggir pantai. Wanita paruh baya ini menuturkan, selama delapan tahun terakhir, ia selalu mengikuti tradisi Madak.
Baca Juga: DPRD Beri Lampu Hijau Pinjaman Rp 200 Miliar, Minta Proposal Pinjaman PT SMI Segera Diajukan
Biasanya ia mengajak semua anggota keluarganya untuk bermukim selama lima hingga tujuh hari di Pantai Kuta Mandalika. “Kami memang sengaja datang dan menginap mendirikan tenda hanya untuk mencari ikan. Biasanya kesini karena air laut surut,” ungkapnya.
Selama menginap, Menep dan keluarganya beraktivitas layaknya di rumah. Ia pun mengaku senang berada di pantai untuk mengikuti tradisi ini. “Ya, memasak pun di dalam tenda. Kalau mandi kan bisa ke toilet umum Masjid Nurul Bilad, di Bazaar Mandalika juga ada (kamar mandi, red),” tambahnya.
Baca Juga: Ulang Tahun ALL - Accor Live Limitless, Pullman Lombok Ajak Member Nikmati Kehangatan Nuansa Pantai
Tradisi Madak bukan sekadar urusan berburu gurita atau ikan saat air laut surut. Lebih dari itu, Madak Mare adalah simbol kebersamaan, tempat ikatan kekeluargaan dan rasa persaudaraan warga Sasak terus dirawat di tengah indahnya pesisir Mandalika. “Seru di sini sambil kumpul, senda gurau,” tutup ibu dari dua anak itu.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post