Secangkir Kopi, Bidak Catur, dan Cerita Sore

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 23:30 WIB
Sejumlah warga menikmati sore dengan bermain catur dan ngopi di kawasan Jalan Lingkar Kota Mataram, kemarin (21/10).
Sejumlah warga menikmati sore dengan bermain catur dan ngopi di kawasan Jalan Lingkar Kota Mataram, kemarin (21/10).

 

 

DI sisi timur kantor DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) NTB, kawasan Jalan Lingkar Selatan Kota Mataram menjadi tempat menghabiskan waktu menjelang petang. Bagi Rama dan kawan-kawannya, kegiatan tersebut sudah menjadi cara sederhana menikmati sore.

“Biasanya kami main sama teman-teman mulai jam empat sampai Magrib. Paling sudah selesai menjelang Magrib,” ujar Rama, kamis (21/10).

Mereka tidak membutuhkan tempat khusus untuk bermain. Papan dan perlengkapan catur dibawa sendiri oleh teman-teman yang berkumpul di sana.

Sesampainya di lokasi, permainan bisa langsung dimulai. Kopi menemani obrolan, sementara papan catur menjadi pusat perhatian.

“Kalau sudah kumpul begini, kami bisa main sambil ngobrol. Jadi, tidak terasa waktu berjalan,” kata Rama.

Catur bukan permainan yang bisa dijalankan sembarangan. Setiap langkah memiliki konsekuensi. Pemain harus memperhitungkan posisi bidak sendiri sekaligus membaca kemungkinan gerakan lawan.

Satu bidak yang berpindah bisa membuka peluang serangan. Namun, keputusan yang keliru juga dapat membuat pertahanan mudah ditembus.

Di tengah permainan, suasana terkadang hening. Masing-masing pemain berkonsentrasi. Percakapan baru kembali terdengar ketika permainan memberi jeda.

 

Baca Juga: KSB Tembus 6 Medali Emas, Cabor Catur Beregu Bikin Kejutan di Porprov XII NTB 2026

Bagi mereka, tantangan seperti itulah yang membuat catur menarik. Ada strategi yang harus disusun, ada lawan yang harus dibaca, dan tentu saja ada kepuasan ketika berhasil menemukan langkah yang tepat.

“Yang penting bisa main bareng. Menang atau kalah itu bagian dari permainan,” ujar Rama.

Suasana lingkungan yang sejuk juga menjadi alasan mereka memilih tempat tersebut. Menjelang sore, kawasan itu memberi ruang bagi mereka berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Tidak ada keharusan buru-buru pulang. Selama permainan belum selesai dan waktu belum mendekati Magrib, mereka masih bisa menikmati kebersamaan.

Di tengah kota, tempat berkumpul tidak selalu harus berupa kafe atau ruang hiburan khusus. Bagi kelompok ini, papan catur yang dibawa dari rumah sudah cukup menghadirkan suasana santai. Mereka bisa bertemu, bertukar cerita, sekaligus menguji kemampuan berpikir.

Kopi menjadi pelengkap. Percakapan menjadi penghubung. Sementara catur menyediakan tantangan.

“Teman-teman ojol juga banyak yang bergabung di sini. Daripada mereka suntuk menunggu orderan, lebih baik olah raga otak,” katanya.

Kegiatan sederhana ini memperlihatkan bagaimana ruang di sekitar jalan dapat menjadi tempat interaksi sosial. Warga tidak harus mengeluarkan banyak biaya menikmati waktu bersama.

Selama tetap tertib dan tidak mengganggu aktivitas umum, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang tumbuhnya komunitas. “Siapa saja, bisa bermain di sini,” pungkasnya.

 

Baca Juga: Bulog NTB Bakar Semangat Hari Pangan! 400 Kali Pasar Murah Diguyur Ribuan Ton Beras dan Minyak

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Komunitas catur Mataram Aktivitas warga Mataram jalan lingkar selatan