LombokPost-Family time atau waktu bersama keluarga memiliki kedudukan yang sangat penting dan merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam.
Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri (me time) dan waktu bersama keluarga, demi menjaga keharmonisan, mempererat hubungan, serta mendidik anggota keluarga sesuai dengan nilai-nilai Islam.
TGH Supardi Ramli Reme menjelaskan pentingnya family time dalam Islam. Pertama, waktu bersama keluarga adalah momen yang tepat untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga, membangun komunikasi yang baik, dan menciptakan kebersamaan.
Sebagai pendakwah, dia pun butuh waktu kebersamaan dengan keluarga. Sebab, baik buruknya kualitas waktu kebersamaan dengan keluarga akan mempengaruhi aktivitas dia sebagai pendakwah. Belum lagi, kesibukkannya menempuh pascasarjana di IAI Qamarul Huda saat ini.
“Baik buruknya waktu kebersamaan dengan keluarga ini akan mempengaruhi kegiatan yang lain,” ungkapnya.
Mengutip hadits Rasulullah SAW, ibda’ bi nafsik artinya mulailah dari dirimu sendiri, maka segala sesuatu atau aktivitas harus dimulai dari keluarga yang baik. “Jika ini sudah baik maka akan menghasilkan sesuatu yang positif ketika berkegiatan di luar,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Darul Atqia Lombok Jonggat ini.
Mempraktikan family time ini, kata Tuan Guru Reme sapaannya, bisa dilihat bagaimana dari sosok Rasulullah SAW yang sangat dekat dengan keluarga. Padahal kekasih Allah SWT ini, kata dia, sangat sibuk dengan dakwahnya, tanggung jawab dalam keumatan.
“Namun disisi lain, sosok Rasullah SAW menjadi contoh yang sangat terbaik dalam membina keluarga, selalu menyempatkan diri dan menempatkan diri dalam keluarga. Itulah mengapa Sakinah, Mawaddah, Warahmah sangat penting dalam sebuah keluarga,” terang ayah dari empat orang anak ini.
Kedua, family time bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak-anak, serta menjadi contoh bagi mereka dalam menjalankan ajaran Islam. Ketiga, dengan meluangkan waktu bersama, anggota keluarga dapat lebih memahami satu sama lain, mengurangi potensi konflik, dan menciptakan suasana rumah yang harmonis.
Keempat, family time dapat mencegah anggota keluarga merasa terasing atau kesepian, serta memastikan bahwa setiap anggota keluarga merasa diperhatikan dan dihargai. Kelima, kebersamaan dalam keluarga dapat meningkatkan kebahagiaan dan kegembiraan seluruh anggota keluarga, serta memberikan rasa aman dan nyaman.
“Saya melihat orang-orang belakangan ini, dalam waktunya bersama keluarga tergantung dari latar belakang. Yakni, pahamkah mereka, sudah selesaikah mereka belajar Islam yang baik dan benar. Jika sudah sesuai kadar, saya kira kegiatan di luar apapun tidak akan mengganggu keluarga dan sebaliknya,” papar alumnus Dauroh Ta’siliyah Tahta Ri’ayah Jami’ah Al-Qassim Burayadh Saudi Arabia ini.
Lantas seperti apa contoh family time dalam Islam? Tuan Guru Reme menuturkan, makan bersama keluarga, terutama di saat sahur dan berbuka puasa, dapat menjadi momen yang penuh keberkahan dan kebersamaan. Kemudian, melakukan shalat berjamaah di rumah, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, dapat mempererat hubungan keluarga dan meningkatkan ketakwaan.
Selanjutnya, membaca Al-Quran dan tadarus bersama dapat menjadi sarana untuk mendalami ajaran Islam dan mempererat tali silaturahmi. Kemudian, mengobrol, bercerita, dan berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan agama, dapat mempererat hubungan dan meningkatkan pemahaman.
Berikutnya, meluangkan waktu untuk berlibur bersama keluarga dapat menjadi momen menyenangkan dan mempererat hubungan. Dengan meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga, umat Islam dapat meraih keberkahan dunia dan akhirat, serta menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
“Jadi bagaimanapun kita mencari kebahagiaan, jika kondisi rumah dalam keadaan tidak baik-baik saja, saya kira tidak ada ketenangan. Sebesar apapun masalah di luar, jika keluarga ditata dengan baik, sebesar apa pun masalah di luar akan menjadi kecil. Keluarga itu jantung kebahagiaan yang hakiki,” tutup Tuan Guru Reme. (ewi/r3)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin