LombokPost - Datang saat matahari belum tinggi, berfoto ketika kabut masih menggantung, lalu bergegas turun sebelum surya tenggelam.
Ritmenya cepat, singkat, dan padat seperti menggulir layar media sosial. Inilah fenomena baru anak muda Lombok: berburu puncak bukit dalam sehari.
Tren “tektok naik turun bukit” kian marak di sejumlah perbukitan Lombok.
Anak muda dan komunitas hobi mendatangi beberapa titik secara bergiliran menikmati panorama sejenak, membuat konten, lalu berpindah ke lokasi berikutnya.
Gaya wisata serba cepat ini tak hanya mencerminkan perubahan cara menikmati alam, tetapi juga memperlihatkan kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk pola perjalanan dan konsumsi ruang terbuka.
Sekitar pukul 05.00 Wita, Indra Bangsawan 35 tahun berangkat dari Mataram menuju Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Jalanan pagi masih lengang, udara dingin menyelimuti perjalanan.
Sekitar pukul 06.30 Wita, ia tiba di Suela. Sarapan sederhana di warung pinggir jalan menjadi pengganjal perut sebelum membeli logistik seperlunya.
Dari sana, Indra langsung menuju basecamp Bukit Pal Jepang. Setelah membayar tiket masuk sekitar Rp20 ribu per orang, langkah pertama pendakian pun dimulai.
Bukit Pal Jepang yang berada di ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) dikenal memiliki jalur panjang dengan tanjakan konsisten.
Sekitar pukul 09.00 Wita, Indra mulai menapaki jalur setapak yang perlahan membawa tubuhnya menjauh dari permukiman warga. Satu jam berjalan, jalur mulai memasuki hutan rimba.
Kabut tipis turun perlahan, membuat suasana terasa lembap dan sejuk. Dengan hydropack di punggung, Indra berjalan stabil, menjaga ritme napas.
Tanjakan demi tanjakan dilalui tanpa banyak keluhan. Savana terbuka menyuguhkan pemandangan yang indah, meski medan terus menanjak tanpa jeda.
“Nggak ada bonus, menanjak terus,” katanya sambil tersenyum. Indra memang terbiasa mendaki seorang diri. Pemilik akun YouTube @LoncengAlam ini kerap merekam perjalanannya sendiri. Sesekali ia berhenti, duduk sejenak di jalur, bukan karena kelelahan, melainkan untuk menikmati pemandangan dan mengabadikannya dalam rekaman video.
Sekitar empat jam setelah pendakian dimulai, Indra akhirnya tiba di puncak. Keringat mengucur, namun wajahnya tetap tenang. Kabut masih menyelimuti kawasan puncak, membuat suhu terasa dingin.
Ia berjalan perlahan menuju tanah lapang di bibir jurang.
Dari dalam hydropack, tumbler berwarna silver dikeluarkan. Kopi yang sudah dingin dituangkan.
Kabut perlahan bergerak, membuka celah demi celah. Di baliknya, lautan awan muncul, membentang luas di bawah kaki Bukit Pal Jepang.
Pemandangan itulah yang menjadi daya tarik utama bukit ini.
“Biar dingin tapi masih enak. Terbayar sama keindahan alam ini,” ujarnya sambil menatap ke kejauhan.
Dianggap Lebih Praktis
Indra Bangsawan mulai aktif mendaki kembali sejak 2023. Sebelumnya, ia terbiasa camping dan bermalam di gunung.
Namun seiring berjalannya waktu, kesibukan membuatnya tak lagi memiliki waktu luang seperti dulu. Dari situlah ia mulai mengenal tektok.
“Karena waktu sudah tidak seluang dulu, makanya saya mulai tektok,” katanya.
Tektok kemudian menjadi pilihan ideal. Pendakian ini dianggap lebih praktis karena tidak perlu membawa tenda atau alat masak.
Bagi banyak orang, tektok menjadi solusi liburan singkat di akhir pekan untuk tetap dekat dengan alam.
Namun awal tektok Indra tidak langsung mulus. Setelah lama vakum mendaki, ia bahkan tidak memiliki outfit gunung yang memadai. Dua kali pendakian pertama dijalani dengan menyewa perlengkapan. Setelah itu, rasa ketagihan muncul. “Setelah dua kali, saya akhirnya beli sendiri,” katanya.
Keputusan itu membuatnya mengoleksi perlengkapan yang tak bisa dibilang murah.
Enam pasang sepatu gunung kini tersusun rapi di rumahnya, dengan total harga mencapai belasan juta rupiah, belum termasuk jaket, tas, dan perlengkapan lainnya.
Menurut Indra, naik gunung bukanlah hobi murah, karena berkaitan langsung dengan keamanan dan kenyamanan saat mendaki.
Pengalaman Indra di jalur tektok juga bukan main-main. Ia telah menuntaskan pendakian tektok Seven Summit Rinjani seperti Bukit Pergasingan, Anak Dara, Nanggi, Sempana, Kondo, Gedong, Bao Ritip/Daya dan beberapa bukit Sembalun yang belum termasuk seven summit seperti Amben Hill, Lincak, Dan Daun, Jaran Kurus, dan Loang Dares.
“Saking banyaknya saya lupa,” katanya sambal berusaha mengingat.
Tapi, yang paling berkesan bagi Indra tektokan di jalur selatan Rinjani seperti puncak Timbanuh, Timbesi, Orplas, Sangar.
Dan satu lagi, Stampol di Bayan, Lombok Utara juga salah satu jalur yang ekstrem dan melelahkan untuknya.
Selain itu ia menjelajahi sejumlah bukit di Lombok Barat dan Lombok Utara seperti Bukit Sasak dan Bukit Keteri.
Tak hanya itu, jalur-jalur menuju tempat wisata air terjun yang dikenal panjang dan menguras tenaga pun telah ia lalui.
Menurut Indra, tektok tidak melulu soal naik bukit atau gunung. Selama perjalanan dilakukan dalam satu hari, memakan waktu panjang, dan membutuhkan effort lebih, eksplorasi alam tersembunyi pun bisa disebut tektok.
“Buat saya, tektok itu soal perjalanan. Entah bukit, gunung, atau air terjun, kalau effort-nya besar dan pulang di hari yang sama, itu tektok,” katanya.
Bukan Sekadar Tren
Awal perkenalannya dengan istilah tektok pun sempat diselimuti salah paham. Saat pertama kali diajak teman, ia justru menolak.
“Saya kira diajakin joget-joget TikTok,” akunya sambil tertawa.
Baru setelah teman-temannya pulang dari Bukit Kondo dan memperlihatkan foto pendakian, Indra menyadari bahwa tektok berarti naik dan turun gunung di hari yang sama. Bagi pendaki lama, konsep ini memang terasa asing.
Dulu, Lombok identik dengan Gunung Rinjani dan budaya camping. Baru sejak 2014, setelah Bukit Pergasingan dibuka, bukit-bukit lain di kawasan Sembalun mulai dikenal dan ramai dikunjungi wisatawan.
Sekitar pukul 14.00 Wita, setelah makan, ngopi, dan beristirahat sejenak di puncak, Indra bersiap turun. Kabut masih menggantung, udara tetap sejuk, jauh dari kesan panas menyengat.
Jalur yang sama kembali dilalui dengan langkah mantap. Empat jam kemudian, Indra tiba kembali di basecamp.
Satu hari penuh dihabiskan untuk tektok ke Bukit Pal Jepang.
Tanpa menginap, tanpa perlengkapan berlebih, namun cukup untuk mengobati rindu pada gunung. Bagi Indra Bangsawan, tektok bukan sekadar tren, melainkan cara baru menikmati alam singkat, sederhana, dan tetap berkesan. (rur/van/r3)
Editor : Kimda Farida