Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Media Sosial Jadi Akselerator Utama, FOMO Tidak Memiliki Batas

Ali Rojai • Sabtu, 18 April 2026 | 10:54 WIB
Sosiolog Universitas Mataram Dr Dwi Setiawan Chaniago (DOK/LOMBOK POST)
Sosiolog Universitas Mataram Dr Dwi Setiawan Chaniago (DOK/LOMBOK POST)

LombokPost - FOMO semakin menguat di tengah masyarakat modern. Secara sosiologis, FOMO anak muda tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga dipengaruhi media sosial, teknologi, hingga gaya hidup konsumsi yang membentuk identitas sosial.

Sosiolog Universitas Mataram Dr Dwi Setiawan Chaniago menjelaskan, FOMO anak muda tumbuh seiring perubahan karakter masyarakat modern yang semakin cair.

Fenomena ini sejalan dengan konsep Zygmunt Bauman tentang liquid modernity, yakni kondisi ketika identitas, nilai, dan struktur sosial terus berubah secara dinamis.

Baca Juga: FOMO Geser Pola Konsumsi Masyarakat, Ciptakan Tantangan bagi Pelaku UMKM

Dalam kondisi tersebut, masyarakat, terutama anak muda mengalami ketidakstabilan dalam banyak aspek, mulai dari karier, relasi, hingga identitas diri.

Di sisi lain, kebebasan berekspresi dan derasnya arus informasi membuat FOMO anak muda semakin mudah berkembang.

“Pemicu paling kuat dari FOMO bisa dilihat dari pola konsumsi,” ujar Dwi.

 Baca Juga: Eksis atau Stres? Orang yang FOMO Cenderung Ingin Instan

Ia menjelaskan, konsumsi dalam masyarakat modern tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi bagian dari identitas, citra, dan eksistensi sosial.

Hal ini membuat FOMO anak muda semakin kuat, karena ada dorongan untuk selalu tampil up to date, mengikuti tren, bahkan menjadi trendsetter di lingkungan sosialnya.

Media sosial menjadi akselerator utama dalam mempercepat FOMO anak muda. Platform digital menciptakan standar sosial baru yang terus berubah, menyebarkan tren secara masif, dan mendorong individu untuk ikut terlibat agar tidak merasa tertinggal.

Baca Juga: Fenomena FOMO di Kalangan Pendaki Pemula, Pelaku Usaha Kebanjiran Rezeki

Dalam perspektif sosiologi kata Dwi, kondisi ini disebut sebagai simulacra atau realitas semu, di mana tren dan gaya hidup dibentuk untuk menstimulasi konsumsi. Akibatnya, FOMO tidak memiliki batas, karena tren yang diikuti seringkali hanya berupa hyperreality, realitas yang dikonstruksi tanpa dasar kebutuhan nyata.

Dampaknya tidak hanya pada perilaku sosial, tetapi juga finansial dan kesehatan mental. Anak muda yang terjebak FOMO anak muda yang cenderung mengalami ketergantungan pada validasi sosial, risiko keuangan seperti konsumsi berlebihan, hingga potensi terjerat utang paylater atau pinjaman online.

Secara psikologis, kondisi ini dapat memicu kecemasan (anxiety), kelelahan mental (burnout), bahkan berujung pada masalah sosial yang lebih kompleks.

Sebagai solusi, Dwi mendorong anak muda untuk mengembangkan konsep Joy of Missing Out (JoMO), yakni kemampuan untuk tidak selalu mengikuti tren. Dalam konteks ini, penting membangun kesadaran konsumsi reflektif agar keputusan membeli didasarkan pada kebutuhan, bukan tekanan sosial.

Dengan membangun kontrol diri, FOMO dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi pola hidup yang merugikan. Pada akhirnya, kesadaran ini menjadi kunci agar generasi muda tetap sehat secara mental, sosial, dan finansial di tengah arus modernitas yang serba cepat. (jay/r3)

Editor : Redaksi
#kesadaran konsumsi #pinjaman online #media sosial #relasi #fomo