LombokPost - FOMO juga dirasakan kalangan pelajar di era digital saat ini. Rindiani, pelajar berusia 17 tahun menjelaskan, FOMO banyak dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan yang dekat dengan anak muda.
Rindiani menyebutkan FOMO tidak muncul dalam satu bidang saja, melainkan merambah berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Ia menuturkan, “FOMO sering muncul dalam gaya hidup, hiburan, teknologi, dan aktivitas sosial,” ujar dia.
Menurutnya, berbagai bidang tersebut saling terhubung dan diperkuat oleh arus informasi yang sangat cepat di media sosial. Rindiani mengungkapkan dorongan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi pola belanja dan gaya hidup.
Baca Juga: Media Sosial Jadi Akselerator Utama, FOMO Tidak Memiliki Batas
“FOMO dapat membuat anak muda menjadi lebih konsumtif karena terdorong untuk mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan,” ujarnya.
Adapun peran media sosial juga dinilai sangat besar, dalam memicu munculnya FOMO di kalangan pelajar. Rindiani menjelaskan arus informasi yang tidak pernah berhenti membuat pengguna terus terpapar berbagai tren baru.
“Karena media sosial menyajikan informasi secara cepat dan terus-menerus, sehingga membuat pengguna merasa harus selalu mengikuti perkembangan tersebut,” jelasnya.
Baca Juga: FOMO Geser Pola Konsumsi Masyarakat, Ciptakan Tantangan bagi Pelaku UMKM
Dalam menghadapi fenomena ini, Rindiani menekankan pentingnya sikap bijak agar tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial digital.
Ia menyarankan agar penggunaan media sosial dibatasi serta tetap mengutamakan prioritas utama. Pelajar dapat menyikapi FOMO dengan membatasi penggunaan media sosial, fokus pada prioritas seperti belajar dan pengembangan diri, serta menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti,” tuturnya.
Ia juga menambahkan, tidak semua tren di media sosial relevan dengan kebutuhan setiap individu. “Karena tidak semua tren sesuai dengan kebutuhan atau kondisi diri, dan terlalu mengikuti tren bisa mengganggu fokus belajar serta keuangan,” ungkapnya.
Baca Juga: Eksis atau Stres? Orang yang FOMO Cenderung Ingin Instan
Ketika ditanya mengenai perasaan cemas akibat melihat kehidupan orang lain di media sosial, Rindiani mengingatkan pentingnya perspektif yang sehat dalam bermedia sosial.
“Cobalah untuk mengingat bahwa media sosial hanya menampilkan sisi terbaik orang lain, kurangi waktu penggunaan, dan fokus pada pencapaian diri sendiri,” tegasnya.
Untuk mengurangi dampak negatif FOMO dalam kehidupan sehari-hari, ia menyarankan langkah sederhana namun konsisten, seperti mengatur waktu penggunaan gawai dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata.
“Dengan membuat jadwal penggunaan media sosial, memperbanyak aktivitas di dunia nyata, dan membangun rasa percaya diri tanpa bergantung pada validasi orang lain,” jelasnya.
Menurutnya, kemampuan mengendalikan FOMO akan memberikan dampak positif bagi kehidupan pelajar. “Seseorang akan lebih tenang, fokus pada tujuan pribadi, lebih hemat, dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik,” tandasnya.
Beri Tekanan pada Individu
Fomo juga turut dirasakan dalam dunia kerja. Hal ini diungkapkan Widya Santika, seorang pegawai swasta berusia 27 tahun. FOMO kini menjadi salah satu tekanan psikologis yang kerap dialami oleh para pekerja di era digital.
Dalam konteks profesional, FOMO muncul dalam bentuk ketakutan tertinggal dari peluang dan perkembangan karier. “FOMO dalam dunia kerja adalah rasa takut ketinggalan peluang, tren, atau perkembangan profesional yang membuat pekerja merasa harus selalu mengikuti segala hal yang sedang popular,” bebernya.
Menurutnya, kondisi ini sering muncul ketika seorang pekerja melihat rekan lain mendapatkan pencapaian tertentu, baik melalui promosi jabatan, pelatihan, maupun kesuksesan yang dibagikan di media sosial.
“FOMO muncul ketika pekerja melihat orang lain mendapat promosi, mengikuti pelatihan, atau sukses di media sosial sehingga merasa tertinggal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Widya menyoroti dampak yang ditimbulkan FOMO terhadap kinerja pekerja. Ia menilai, tekanan untuk terus mengikuti perkembangan dapat mengganggu fokus dan menurunkan produktivitas.
“FOMO dapat membuat pekerja kehilangan fokus, mudah stres, kurang produktif, dan merasa tidak puas dengan pekerjaan yang sedang dijalani,” jelasnya.
Tidak hanya berdampak pada kinerja, FOMO juga dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental pekerja. Widya mengungkapkan kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis yang cukup serius.
Dalam menyikapi fenomena ini, ia menekankan pentingnya kesadaran individu untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang berlebihan. Menurutnya, setiap pekerja perlu kembali pada tujuan karier masing-masing.
“Dengan fokus pada tujuan karier pribadi, tidak membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain, serta memilih peluang yang benar-benar relevan,” katanya.
Widya juga mengingatkan, tidak semua kesempatan harus diambil. Ia menilai penting bagi pekerja untuk selektif dalam menentukan peluang agar tidak berujung pada kelelahan.
“Karena tidak semua peluang sesuai dengan kemampuan atau rencana karier, dan terlalu banyak mengambil kesempatan bisa menyebabkan kelelahan dan stres,” tandasnya. (yun/r3)
Editor : Redaksi