LombokPost - Di tengah gempuran tren konten FOMO demi mengejar viral, pasangan suami istri (pasutri) yang juga konten kreator, Mahir dan Nuraini memilih jalan berbeda.
Mereka membuktikan bahwa keseharian jujur sebagai petani dan kekuatan bahasa ibu justru punya daya pikat yang lebih magis di mata netizen.
Pasutri asal Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) itu telah lama menjadi selebritas lokal.
Baca Juga: FOMO Rambah Berbagai Aspek Kehidupan, Tidak Semua Hal Cocok dengan Kita
Di dunia nyata, mereka kerap dicegat penggemar hanya untuk sekadar berswafoto. Kepada koran ini, Mahir menuturkan bahwa pekerjaan ini lahir dari sebuah ketidaksengajaan saat mengisi waktu luang di sela-sela bertani.
Menariknya, di saat banyak konten kreator terjebak dalam fenomena Fear of Missing Out (FOMO) berlomba-lomba mengikuti tren musik atau tantangan yang sedang hype demi angka engagement Mahir dan Nuraini justru bergeming.
Mereka tidak merasa perlu memaksakan diri tampil glamor atau mengikuti gaya hidup urban yang asing bagi mereka.
Baca Juga: Media Sosial Jadi Akselerator Utama, FOMO Tidak Memiliki Batas
Bagi mereka, konten terbaik adalah kejujuran. Mereka lebih memilih memotret realita di pematang sawah ketimbang mengejar tren yang cepat basi. Identitas lokal lewat bahasa Sasak logat Pujut tetap menjadi "nyawa" dalam setiap unggahan.
“Walau bahasa Sasak, tapi kami sengaja pakai logat asli Desa Pujut. Kami ingin penonton juga paham kekayaan bahasa kita,” ujar bapak dua anak ini.
Dengan tetap berpijak pada keseharian sebagai petani, mereka justru menciptakan ceruk pasar tersendiri yang lebih organik dan setia. Meski kontennya sukses, proses produksinya dilakukan secara total mandiri alias otodidak. Tanpa bantuan kru kamera, mereka hanya mengandalkan tripod dan melakukan penyuntingan sederhana langsung melalui smartphone.
Baca Juga: Eksis atau Stres? Orang yang FOMO Cenderung Ingin Instan
“Semua belajar sendiri. Karena hanya berdua, ya tidak ada kameramen. Saat ada adegan pindah tempat, ya kami cut sendiri,” kata Mahir.
Nuraini pun menimpali dengan nada rendah hati. “Kami berdua tetap petani biasa. Bikin video komedi itu hanya untuk seru-seruan,” ucapnya.
Hebatnya, meski kini telah memiliki lebih dari 378 ribu pengikut dengan penghasilan yang memuaskan, Mahir menegaskan tidak akan pernah meninggalkan cangkulnya. Baginya, bertani adalah marwah untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Sementara konten kreator hanyalah wadah untuk merayakan identitas mereka sebagai orang Sasak.
“Tetap jadi petani. Menjadi konten kreator itu hanya sampingan saja,” pungkas Mahir. (ewi/r3)
Editor : Redaksi