LombokPost - Di tengah harga pakaian baru yang terus merangkak naik, rak-rak berisi baju dan sepatu bekas justru makin ramai diserbu. Dari kaos band lawas, jaket vintage, hingga sneakers branded, semua diburu dengan satu tujuan: tampil keren tanpa bikin kantong kering.
Thrifting kini bukan sekadar alternatif belanja, tapi sudah menjelma menjadi gaya hidup yang melekat kuat di kalangan anak muda.
Sore itu, deretan lapak thrift di Pasar Karang Sukun Kota Mataram dipenuhi pengunjung. Tangan-tangan sibuk mengaduk tumpukan pakaian, mata jeli mencari “harta karun” tersembunyi di antara baju bekas.
Baca Juga: Tindakan Keras Menkeu Purbaya Soal Thrifting Baju Bekas: Siapa yang Tolak, Saya Tangkap!
Bagi mereka, thrifting bukan soal barang lama melainkan soal menemukan gaya yang unik, murah, dan kadang tak bisa diulang. Dari pasar tradisional hingga toko online, tren ini terus tumbuh, membawa cerita tentang kreativitas, peluang usaha, sekaligus perdebatan yang tak pernah benar-benar usai.
Salah satu peminat setia tren ini adalah Rina Anaya. Warga Kota Mataram ini mengatakan dirinya memilih pakaian bekas karena pertimbangan ekonomi sekaligus selera fashion.
“Kalau jeli milihnya, baju bekas itu masih banyak yang bagus. Yang penting kita tahu cara pilih dan bersihin dengan benar,” ujarnya.
Baca Juga: Aktivitas Pasar Baju Bekas Karang Sukun Belum Normal
Harga Miring, Banyak Variasi
Selain faktor harga, sebagian pembeli juga menilai bahwa pakaian bekas menawarkan variasi yang sulit ditemukan di toko biasa. Banyaknya pilihan model dan gaya membuat thrifting semakin diminati, terutama oleh anak muda.
Pengunjung lain mengungkapkan alasan serupa terkait daya tarik harga yang lebih murah dibandingkan pakaian baru. “Alasan pertama sudah pasti hemat uang! Hehehe. Baju di sini memiliki harga lebih rendah daripada harga yang dijual di mall atau butik,” katanya.
Peluang menemukan barang berkualitas dengan harga miring menjadi daya tarik tersendiri. “Aku biasanya nih bisa menemukan baju baru dengan harga jauh lebih rendah dari harga pasar. Kalau bisa beli baju inceran dengan model dan ukuran yang sama seperti di mall tapi bisa dapet harga jauh lebih murah, kenapa nggak,” bebernya.
Selain itu, keragaman model pakaian di pasar thrifting juga menjadi alasan masyarakat semakin tertarik berbelanja pakaian bekas. “Mulai dari model yang bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari sampai dengan model aneh yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya,” jelas dia.
Pengalaman memilih pakaian bekas juga bisa menjadi sarana menemukan gaya baru. Rina mengaku menemukan gaya berpakaian baru lewat thrifting.
Penggemar thrifting lainnya adalah Zaeva, warga Kota Mataram. Dalam dua tahun terakhir, kecintaannya terhadap sepatu thrifting telah membuahkan koleksi sedikitnya lima pasang sepatu dari merek ternama.
Bagi Zaeva, daya tarik utama thrifting terletak pada nilai barang yang didapat dibandingkan dengan harga yang dibayarkan. “Maksimal saya menyiapkan budget itu Rp 500 ribu untuk sepasang sepatu," ujarnya.
Meski belanja daring sedang marak, Zaeva mengaku lebih memilih berburu langsung di toko-toko fisik yang tersebar di wilayah Kota Mataram.
Ia menekankan pentingnya memeriksa kondisi fisik secara mendalam sebelum melakukan transaksi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan maksimal melalui layar ponsel.
“Belum pernah beli di toko online karena saya harus mengecek dulu semuanya secara langsung,” tambah Zaeva.
Teliti sebelum Membeli
Baginya dalam membeli sepatu thrifting, ada beberapa aspek krusial yang perlu diperhatikan agar tidak kecewa. Kualitas jahitan itu rapi atau kasar, kekuatan lem, kondisi insole, hingga tingkat keausan sol luar menjadi indikator utama kelayakan sepatu.
Mengenai keaslian barang, konsumen disarankan untuk tidak terlalu terpaku pada label original. Mengingat banyaknya barang tiruan atau KW di pasar thrift, fokus utama sebaiknya dialihkan pada kenyamanan dan kelayakan pakai.
Selain itu, aspek higienitas tetap menjadi prioritas; mencuci bersih sepatu segera setelah dibeli adalah prosedur wajib sebelum digunakan. “Di rumah juga udah saya lengkapi sih buat cuci sepatunya, lihat tutorial dari tiktok,” katanya.
Zaeva mengatakan motivasi setiap orang dalam berburu sepatu bekas sangat beragam. Beberapa konsumen adalah penggemar yang mencari model langka atau yang sudah tidak diproduksi, sementara yang lain mungkin membutuhkan opsi terjangkau untuk penggunaan sehari-hari.
“Kalau saya sih karena memang harganya terjangkau untuk saya gunakan sehari-hari, kalau kita rawat bagus ya hasilnya pun mengikuti,” jelas dia.
Namun, berburu sepatu thrift bukan tanpa kendala. Menemukan model yang disukai dengan ukuran yang pas sering kali menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan kesabaran ekstra.
“Sudah pernah cari tapi ukurannya tidak ada yang pas. Itu tantangannya, tapi saya akan cari lagi ke toko-toko lain,” ujarnya.
Meski terkadang sulit mendapatkan ukuran atau model yang diinginkan, hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri dalam aktivitas berburu sepatu thrifting yang kini semakin digemari. “Suka aja, sekalian lihat-lihat barang yang baru datang juga di toko itu,” tandasnya. (yun/r3)
Editor : Redaksi