GIRI MENANG-Video pertikaian antara kepala desa dan warga yang disinyalir di wilayah Kecamatan Lingsar beredar di media sosial. Seorang warga mendapat pukulan saat menyampaikan pendapat di sebuah forum resmi yang disinyalir berada di lokasi Aula Kantor Camat Lingsar.
Terkait video yang beredar tersebut, Camat Lingsar Jamaludin dan Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Lobar TGH Subki Sasaki yang ada di lokasi, akhirnya memberikan klarifikasi.
"Yang memukul itu adalah Kades Gegelang Husnu Mukhtar dan korban (warga yang dipukuli) adalah iparnya sendiri," jelas TGH Subki Sasaki, Kamis(14/5).
Persoalan antara Kades Gegelang dan warga diawali imbauan peniadaan salat Jumat dan Tarawih sementara di masjid. Diganti dengan salat di rumah. Imbauan inilah yang tak diterima sebagian warga termasuk korban yang diketahui bernama Senan.
Korban kemudian melalui speaker masjid mengumumkan ke masyarakat protes atas imbauan ini. "Ia berkata bahwa kades yang melarang warga Jumatan dan Tarawih adalah PKI. Ucapan ini menyulut masyarakat demo ke kades," jelasnya.
Kades akhirnya menjadi korban provokasi warga. Kondisi ini bahkan hampir menyebabkan terjadi bentrok fisik antara massa pendukung kades dan masyarakat yang kontra. Untuk meredam gejolak di Desa Gegelang, pemerintah kecamatan menggandeng FKUB, MUI, dan semua pihak mengadakan sosialisasi kepada warga.
"Pada saat acara sosialisasi (di Aula Kantor Camat Lingsar) kemarin, di akhir acara korban menyampaikan permohonan maafnya ke kades dan masyarakat. Tetapi karena pak Kades sangat emosi dan marah, mungkin dia tidak sadar langsung memukul korban," jelas TGH Subki.
Dalam video yang beredar, Senan terlihat memegang microphone menyampaikan permohonan maaf. Kades Gegelang yang duduk di samping kiri Senan kemudian tiba-tiba melayangkan pukulan ke arah wajah dengan tangan kanan. Pertikaian tersebut langsung dilerai oleh warga dan tokoh yang hadir di sana.
"Mereka sudah damai. Korban adalah ipar pak Kades sendiri dan kejadiannya di Kantor Camat Lingsar," jelas TGH Subki Sasaki.
Mempertegas pernyataan TGH Subki Sasaki, Camat Lingsar Jamaludin yang ada di lokasi juga membenarkan video peristiwa pertikaian tersebut. Ia mengakui persoalan dipicu akibat perbedaan pemahaman antara warga dan pemerintah desa. Kaitannya dengan imbauan MUI dan Pemda Lobar terkait penggantian salat Jumat dan tarawih di masjid dilaksanakan di rumah.
"Tapi mohon diperjelas bahwa mereka sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan insiden itu lagi. Supaya di bawah tidak ribut lagi," pungkasnya. (ton/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online