"Sejak resmi kita buka, masyarakat pun sudah mulai datang berjualan," terang salah seorang Pengelola Purekmas Desa Sesaot, Imam S.
Padahal sebelumnya, seluruh lapak pedagang makanan minuman nyaris tidak berani ambil risiko untuk berjualan. Lantaran wabah Korona yang beberapa bulan terakhir cukup meresahkan. Namun Sabtu (4/7) lalu, ada 13 lapak pedagang sudah mulai berjualan di sekitar destinasi wisata Sesaot.
Imam mengaku, pihaknya sendiri sudah bisa tersenyum dengan kondisi saat ini. Mengingat hampir empat bulan penuh, warga sekitar dibuat menganggur karena tempat ini ditutup. "Sekarang sudah lumayan. Rata-rata per hari kemarin bisa dapat antara lima sampai enam ratus ribu dari karcis masuk. Hari ini (Sabtu) insya Allah bisa dapat sejuta," harap Imam.
Maklum, kunjungan di hari Sabtu Minggu biasanya cukup ramai. Wisatawan yang datang ke Sesaot tidak hanya dari Lobar, tetapi juga Mataram dan Lombok Tengah. Kondisi serupa juga terlihat di Taman Narmada. Pengunjung sudah mulai berdatangan sejak dibuka per tanggal 24 Juni lalu.
"Kita sudah mulai menerima pengunjung, meski masih sedikit. Kemarin malah cuma dua orang yang mandi," tutur Manajer Operasional di Taman Narmada, Kamaruddin.
Kondisi saat ini, imbuhnya, belum sepenuhnya bisa normal seperti sedia kala. Ia mencontohkan para pedagang sate bulayak. "Dari enam belas, baru dua yang mulai berjualan. Bahkan pusat kuliner kita di pintu keluar kolam besar, masih kosong. Belum ada yang mau berjualan," kata Kamaruddin.
Meski belum stabil, dengan dibukanya tempat wisata, geliat ekonomi mulai berangsur hidup lagi. "Masyarakat sekitar berangsur kembali menjalankan usahanya," terang Kepala Dinas Pariwisata Lobar H Saiful Ahkam.
Namun Ia mengingatkan, dibukanya tempat-tempat wisata jangan hanya demi urusan ekonomi dan melupakan protokoler Covid-19. Apalagi masih ada ditemukan kasus positif Covid 19.
"Dua hari ini kami hanya monitoring, tapi mulai Minggu depan kita akan supervisi. Kita tidak akan main-main dengan protokol. Jika tidak dijalankan, kita langsung tegur agar diketatkan lagi," tegas Ahkam.
Khusus untuk tempat wisata yang jelas pengelolanya, pihaknya menerapkan standar evaluasi. Bahkan bila terlalu longgar, bisa saja ditutup lagi. (ton/r3)
Editor : Administrator