Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mau Liburan Sehat di Masa Pandemi, ke Gili Nanggu Saja!

Administrator • Minggu, 19 Juli 2020 | 16:08 WIB
TERAPKAN PROTOKOLER KESEHATAN: Seorang wisatawan diwajibkan mengenakan masker dan mencuci tangan dengan sabun saat baru tiba di Gili Nanggu, Desa Sekotong Barat, Rabu (24/6).( TONI/LOMBOK POST)
TERAPKAN PROTOKOLER KESEHATAN: Seorang wisatawan diwajibkan mengenakan masker dan mencuci tangan dengan sabun saat baru tiba di Gili Nanggu, Desa Sekotong Barat, Rabu (24/6).( TONI/LOMBOK POST)
GIRI MENANG-Banyak yang menganggap masa transisi new normal sebagai kondisi normal. Akibatnya, masyarakat mengabaikan protokoler Covid-19. Tak ingin hal itu terjadi, pemerintah desa, kecamatan, hingga pelaku wisata di Sekotong menerapkan protokoler yang ketat bagi wisatawan.

Di setiap pintu dermaga menuju gili yang ada di Sekotong Barat, petugas berjaga ketat. Salah satunya di Dermaga Tawun. Mulai dari petugas Dinas Perhubungan, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas hingga masyarakat pelaku wisata ikut terlibat.

Semua pengunjung yang akan menyeberang dengan tujuan beberapa gili yang ada di Desa Sekotong Barat harus mengikuti protokoler kesehatan. "Kami sudah sepakat untuk menerapkan aturan ini. Tidak berani kami langgar," jelas Hendra, salah seorang Boat Man atau pemilik perahu yang akan menyeberangkan wisatawan ke sejumlah gili di desa tersebut.

https://www.youtube.com/watch?v=-cgewIz8Mwc

Oleh para pelaku wisata dan petugas Dinas Perhubungan Lobar yang berjaga di dermaga, wisatawan yang datang dicek kelengkapan maskernya. Jika tidak memakai masker, mereka tak akan dilayani.

Pengunjung terlebih dulu diminta wisatawan membeli masker dari warung atau retail modern terdekat. Setelah menggunakan masker, baru mereka dilayani membeli tiket penyeberangan.

Biaya tiket penyeberangan ke Gili Nanggu Rp 250 ribu orang. Untuk touring ke tiga gili yakni Nanggu, Kedis, dan Sudak ada tambahan biaya Rp 10 ribu. Sehingga total harga tiket Rp 260 ribu per perahu. Karena lokasinya cukup dekat.

Dalam satu perahu minimal ada enam penumpang. Maksimal 10 orang. Namun karena kondisi pandemi Korona, pemerintah desa dan kecamatan setempat membatasi penumpang yang ada di dalam perahu.

"Kita batasi dari yang semula sepuluh maksimal sekarang tujuh atau delapan. Agar memberi jarak di dalam perahu agar tidak berdekatan," jelas Camat Sekotong Lalu Pardita Utama kepada Lombok Post.

Di dalam perahu, sudah disiapkan tanda silang agar wisatawan yang akan menyeberang tak sembarangan duduk. Mereka harus duduk berjarak. Sebagai bentuk antisipasi penularan wabah. "Ini salah satu upaya kami menerapkan psycal distancing yang merupakan protokoler Covid-19," jelas Camat.

Di samping itu, di setiap tempat pusat keramaian juga diberlakukan hal yang sama. Baik di pasar maupun tempat ibadah. "Kami sudah sosialisasi untuk itu," cetusnya.

Pemerintah kecamatan dan desa juga mengumpulkan semua pelaku wisata. Di setiap pantai dan gili yang banyak dikunjungi wisatawan, wajib menyiapkan sarana cuci tangan.

Camat meyakini, protokoler Covid-19 yang ketat, tak akan membuat wisatawan enggan datang. Justru mereka senang karena tempat yang akan mereka kunjungi dijaga tetap steril dan aman dari Korona. Jangan heran jika kemudian melihat wisata Gili Nanggu atau gili lain yang ada di Sekotong ramai setiap hari. Terutama akhir pekan.

Pantauan Lombok Post, di Gili Nanggu, pengelola wisata memang sudah menyiapkan sarana prasarana protokoler Covid-19. Misalnya sabun cuci tangan dengan air mengalir. Mereka juga menyiapkan disinfektan.

"Wisatawan yang datang wajib kami minta mencuci tangan ketika tiba di Gili Nanggu. Kemudian mereka juga disemprot disinfektan untuk mensterilkan gili ini," jelas Wayan Rifa Budiarta selaku pengelola wisata di Gili Nanggu kepada Lombok Post.

Kemudian untuk wisatawan yang menginap, mereka harus dilengkapi dengan surat keterangan hasil rapid test atau keterangan sehat dari fasilitas kesehatan. Baik Puskesmas maupun rumah sakit.

Pengelola penginapan dikatakannya tak ingin mengambil risiko membiarkan wisatawan menginap tanpa memastikan mereka bebas Covid-19. "Kami menjaga Anda, Anda juga jaga kami," ujarnya meminta wisatawan yang ingin datang ke Gili Nanggu mentaati protokoler Covid-19.

Pelaku wisata khususmya penyedia jasa penginapan tak ingin mengabaikan protokoler Covid-19 hanya karena ingin mendapat keuntungan. Bagaiamanapun, mereka bertekad kesehatan dan keselamatan wisatawan atau masyarakat adalah yang utama.

Sementara Zahroni salah seorang pimpinan salah satu rombongan wisatawan yang datang ke Gili Nanggu mengaku siap mengikuti protokoler Covid-19. Guru Ponpes Baitul Quran, Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi ini datang dengan 20 santri.

"Kami senang dengan protokoler Covid-19 ini karena tujuannya kita sama-sama menjaga kesehatan. Kami semua membawa masker dan bahkan membawa hand sanitizer sendiri," jelasnya.

Ia juga mengapresiasi karena di Gili Nanggu dan beberapa dermaga pintu masuk menuju gili yang ada di Sekotong sudah menyiapkan sarana protokoler Covid-19. "Ini menyadarkan masyarakat agar tetap melaksanakan protokoler kesehatan," tandasnya. (ton/r3)

 

  Editor : Administrator
#liburan #Gili naggu #Sekotong #Pariwisata