”Sudah mulai dilakukan, untuk kondisi darurat, sementara waktu,” kata Kepala Dinas PUPR NTB H Ridwan Syah, Selasa (23/11).
Ridwan mengatakan, pembangunan jembatan sementara bertujuan untuk kelancaran aktivitas dan transportasi masyarakat. Sebelum jembatan permanen dibangun tahun 2022 dengan menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik, dengan perkiraan anggaran mencapai Rp 5 miliar.
Di akhir tahun ini, PUPR bakal langsung melakukan lelang. Sehingga proses pembangunan jembatan baru bisa dilakukan pada awal tahun. Dengan target bisa tuntas di pertengahan 2022 dan bisa digunakan masyarakat.
”Bentangan jembatan lama itu 12 meter, rencananya kita tambah 15 meter,” tuturnya.
Jembatan sementara yang dibangun untuk merespons keluhan masyarakat atas kondisi infrastruktur. Banjir yang terjadi di wilayah Lombok Barat pada 12 November lalu, membuat jembatan di Dusun Bengkang putus. Sekitar satu pekan setelahnya, badan jembatan hanyut, akibat derasnya air sungai.
Kondisi jembatan, disebut Kepala Dinas PUPR Lombok Barat Made Arthadana sudah tidak layak. Jembatan dibangun pada tahun 1983, artinya sudah berumur 38 tahun. ”Kondisinya sudah tua dan sudah waktunya ada pembaruan sebenarnya,” kata Made.
Sementara itu, Kadus Bengkang Dirawan menyebut, lebatnya hujan menjadi sebab derasnya aliran air di sungai. Tidak saja membuat badan jembatan hanyut, tapi tiga dusun di sekitar kawasan tersebut terendam banjir. Antara lain, Dusun Kebeng, Pengantap, dan Bengkang. ”Tiga dusun ini yang paling parah,” katanya.
Di sisi jembatan, yang mengarah ke wilayah Lombok Tengah, terdapat lima dusun yang terisolir akibat peristiwa tersebut. Seperti Dusun Kebeng, Pangsin, Pengantap, Meang, dan Bange. Diperkirakan ada 1.300 kepala keluarga dari kelima dusun tersebut yang tidak bisa beraktivitas ke arah barat, akibat putusnya jembatan.
”Jembatan ini satu-satunya jalur yang bisa dilewati. Penghubung Lobar dan Loteng. Kita bersyukur kalau jembatan darurat dibangun segera,” ujar Dirawan. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita