"Kebijakan sekarang ini sangat memberatkan kami," kata Korlap H Zulfikri saat masih berada di Gerung, kemarin (22/2).
Menurut mereka, tarif penyeberangan tidak sesuai dengan jumlah barang yang diangkut. Yang mana sebelumnya 30 kubik dan saat ini hanya dibatasi 8 kubik barang bawaan atau elektronik.
"Adapun keinginan tuntutan kami meminta duduk bersama dengan instansi terkait dan minta kebijakan untuk dikaji kembali UU ODOL yang dianggap memberatkan para sopir," terangnya.
Sementara itu, Jajaran Polres Lombok Barat melakukan pendekatan secara humanis, terkait aksi protes Komunitas Driver Batur Sasak yang akan ke Kantor DPRD Provinsi NTB. Pihaknya melakukan pengamanan ketat atas aksi ini di Gerung.
"Kami di sini memberikan pengamanan dan imbauan," kata Kapolres Lombok Barat AKBP Wirasto Adi Nugroho melalui Kabag Ops Dhafid Shiddiq.
Aksi Protes yang meminta kebijakan untuk dikaji kembali tentang Undang-undang ODOL ini, Polda NTB tidak menerima pemberitahuan. Bahkan tidak ada permakluman dari komunitas tersebut ke aparat.
"Jadi Komunitas DBS ini bukan hanya dari Lombok Barat saja, tapi gabungan dari Lombok Tengah dan Lombok Timur, dan mereka berkumpul di Giri Menang Square (GMS) sebelum ke Mataram," pungkasnya.
Namun demikian, untuk memastikan situasi Kamtibmas tetap kondusif, masa aksi ini tetap mendapatkan pengawalan ketat dari Kepolisian. Sehingga tidak sampai mengakibatkan kerumunan.
"Apabila tetap melaksanakan aksi, kita imbau untuk membatasi jumlah peserta aksi dan mengurangi truk maksimal 5 unit," imbuhnya.
Terkait dengan perkembangan situasi, Wakapolres Lobar Kompol Taufik didampingi Kabag Ops, Kasat Intelkam Polres Lobar dan Kapolsek Gerung memberikan pengertian kepada peserta aksi ini. Dengan pertimbangan masih dalam masa pandemi. "Terkait jumlah peserta maupun kendaraan yang akan digunakan dibatasi," ungkapnya.
Sebelumnya, sopir ini akan melakukan aksi demo di Mataram dengan menggunakan truk sebanyak 95 unit. Pihaknya meminta jangan semua ke Mataram.
"Alhamdulillah kita dapat memberikan pengertian kepada mereka agar beberapa truck saja, juga dengan pertimbangan bila semua truck ke Mataram akan membuat kemacetan," imbuhnya.
Menurutnya, bila itu terjadi yang dirugikan adalah masyarakat banyak. Karena akan terganggu aktivitas dengan kegiatan demo tersebut. Tidak hanya menyanggupi untuk mengurangi jumlah kendaraan yang akan digunakan, Ketua Komunitas DBS (Driver Batur Sasak) bersedia membatasi jumlah massa aksi. "Jadi perwakilan aksi hanya sekitar 80 orang saja, katanya. (nur/r3) Editor : Redaksi Desain Grafis