"Radius sampai 500 meter lebih tetap menyengat baunya," ungkap Kepala Desa Perampuan HM Zubaidi.
Bau tak sedap itu kerap muncul ketika musim hujan. Zubaidi mengaku, dampak dari bau menyengat itu sangat mengganggu. "Khawatir berdampak buruk terhadap kesehatan," terangnya.
Bau sampah tersebut dikeluhkan warga karena saat ini masyarakat sedang melaksanakan acara peringatan Maulid Nabi di masjid masing-masing. "Warga sering menyampaikan keluhan kepada saya. Warga merasa tidak nyaman dengan para undangan maulid yang datang. Para tamu tidak mau menyantap hidangan karena bau sampah ini," kata dia.
Karena itu, Zubaidi berharap kepada pihak-pihak terkait, terutama pemerintah daerah segera mengambil sikap. Perlu ada langkah mencegah munculnya bau tak sedap itu. "Saya dapat informasi bahwa sudah ada teknik mengurangi polusi udara TPA ini," ujarnya.
Zubaidi mengaku, dari informasi yang diperolehnya, teknik mengurangi bau dan polusi TPA itu hasil studi banding ke luar negeri. Tapi kenyataannya, hingga sekarang belum diaplikasikan. "Sampai sekarang ini malah tambah parah," keluh dia.
Jika tidak segera ada penanganan, Zubaidi mengancam akan melakukan aksi protes, hingga menutup akses ke TPA Kebon Kongok. Aksi protes yang direncakan, warga akan diarahkan membuang sampah ke kantor desa.
"Kami sudah berkali-kali pihak bersuara terkait hal ini, tetapi belum ada respon. Kompensasi dampak negatif (KDN) yang dijanjikan terhadap desa setempat yang terdampak TPA regional, juga belum ada kepastian," pungkas Zubaidi. (cr-bib/r3) Editor : Administrator