LombokPost-- Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung memiliki potensi alam yang indah dengan kondisi geografis di bawah kaki gunung yang masih asri.
Desa ini sedang mencoba untuk mengeksplorasi potensi yang dimilikinya dengan membuat spot wisata, salah satunya adalah wisata Batu Palar.
“Kita sedang coba buat wisata Batu Palar ini. Agar menjadi desa wisata seperti desa desa yang lainnya. Karena potensi alam kita besar,” kata Kepala Desa Banyu Urip Selamat Riadi saat ditemui di ruangannya.
Masyarakat Desa Banyu Urip mayoritas perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian.
Diharapkan modal sumber daya alam yang dimiliki mampu menggerakkan perekonomian masyarakat tanpa menggeser potensi yang sudah ada. Seperti halnya dalam program desa wisata.
“Desa sudah memiliki potensinya. Tinggal tunggu bantuan dari pemkab atau investor,” kata Selamet.
Ia mengatakan, dirinya sempat menunjukkan kepada kepala dinas pariwisata mengenai potensi-potensi yang ada pada Desa Banyu Urip.
Selain Jembatan Pelangi, ia juga menunjukkan bahwa ada Batu Palar yang memiliki potensi untuk menikmati alam dari ketinggian. Kemudian air terjun, yang ada diantara tiga bukit.
“Dispar sudah turun, tapi masih belum ada tindak lanjut sampai saat ini,” terangnya.
Jika dalam hal ini pemkab masih belum bisa memberikan dukungan, pihaknya sangat terbuka untuk menerima investor jika ada yang berkenan untuk membangun karena jika hanya mengandalkan desa akan terlalu susah.
“Kalau harapkan kades yang kesana kemari kan agak susah. Pemkab bisa jadi jembatan untuk itu,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banyu Urip Mawardi mengatakan, konsep yang akan dikembangkan di Batu Palar adalah wisata alam atau kafe sawah.
Mereka melibatkan masyarakat setempat sebagai penjual kulinernya.
“Tempat modern, makanan tradisional,” kata Mawardi.
Saat ini, fasilitas yang ada hanya ada satu gazebo dengan spot foto seperti jembatan yang memperlihatkan keindahan alam Banyu Urip.
Banyak masyarakat dari luar desa yang datang untuk berfoto atau sekadar menikmati pemandangan.
“Untuk sementara tidak ada tiket masuk, sayang kan fasilitas hanya itu,” terangnya.
Ia mengharapkan ada bantuan dari pemkab ataupun pihak ketiga. Karena membuat spot kecil di Batu Palar pun sudah menghabiskan sekitar kurang dari Rp 20 juta yang anggarannya dari desa.
Jika ada dukungan anggaran dari pemkab atau investor ia akan membuat flying fox.
Dia memperkirakan dana yang dibutuhkan mencapai Rp 228 juta lebih untuk bentang 50 meter dua tower. Sudah termasuk dengan asuransi untuk keamanan.
“Kami akan membuatkan tempat duduk sampai bawah. Ada jalur sepeda juga dunhill. Cuma karena anggaran kita yang sangat terbatas,” bebernya. (chi)
Editor : Kimda Farida