LombokPost-Ratusan hektare lahan sawah di Lombok Barat (Lobar) terdampak kekeringan panjang.
Akibatnya 106 hektare sawah di Kecamatan Kuripan, Lobar mengalami kerusakan dan gagal panen.
”Dari jumlah tersebut hanya 56 hektare yang mendapatkan bantuan dari asuransi usaha tani. Saat ini masih dalam proses klaim untuk mendapatkan bantuan,” ujar Kepala Dinas Pertanian (Distan) Lobar Damayanti Widyaningrum, Senin (15/7).
Menurut Damayanti, hal ini sekaligus menjadi pelajaran bagi petani di Lobar, terutama yang ada di wilayah langganan kekeringan dan kerap gagal panen.
Agar mereka mengikuti asuransi usaha tani tersebut. Lantaran, sejauh ini masih banyak petani yang belum ikut asuransi.
”Kita terus imbau petani ikut asuransi, karena sangat bermanfaat,” pesannya.
Distan sudah menggencarkan sosualisasi melalui para penyuluh pertanian. Terlebih iuran untuk asuransi tersebut hanya Rp 36 ribu per musim tanam per hektare.
”Tapi ketika terjadi gagal panen, kembali diganti semua biaya yang dikeluarkan petani,” katanya.
Hingga saat ini, kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Kuripan, Sekotong, dan Lembar.
Namun beberapa titik sudah bisa teratasi, tinggal wilayah Giri Sasak yang masih ditangani.
”Wilayah yang lain masih aman. Kekeringan masih bisa diatasi,” ucapnya.
Untuk menangani kemarau berkepanjangan ini, Distan Lobar sudah mengajukan permintaan bantuan ke pusat agar irigasi perpompaan itu tidak hanya air yang disedot.
Namun juga bisa untuk menyedot sumur tanah dalam atau sumur bor untuk disedot.
”Kita sedang mengusulkan untuk anggaran belanja tambahan untuk itu. Kita sudah mengusulkan sebanyak 20 unit sumur lengkap dengan pompanya. Mungkin kita akan dapat 19 unit nanti,” jelasnya.
Lebih lanjut, Damayanti mengatakan untuk mengatasi masalah kekeringan sebenarnya tidak perlu banyak imbauan kepada petani. Karena petani telah diberikan Sekolah Lapang Iklim (SLI).
Tetapi memang anomali cuaca saat ini sangat tidak menentu sehingga petani tidak mampu memprediksi cuaca.
”Sebetulnya mereka sudah diajari, sudah paham. Bulan ini akan terjadi hujan dan sebagainya,” terangnya.
Anomali cuaca ini yang membuat adanya pergeseran musim tanam periode lalu.
Yang awalnya musim tanam jatuh pada Februari, mundur menjadi April ini.
”Ini kan yang membuat harga beras kemarin naik,” tandasnya. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida