LombokPost-Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Lombok Bara (Lobar) Untuk membantu warga terdampak kekeringan, Damkar mendistribusikan bantuan air bersih.
”Kita baru distribusikan 30 ribu liter air bersih untuk warga terdampak,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Lobar M. Sahlan.
Sahlan menyebutkan beberapa daerah yang masih terdampak kekeringan seperti wilayah Sekotong, Lembar, Gerung, Kuripan dan Batulayar.
Bantuan tersebut disalurkan untuk enam kali pendistribusian. Dengan satu tangki air yang didistribusikan berkapasitas 5 ribu liter.
Pendistribusian bantuan air bersih ini melalui anggaran pada Dinas Damkar. Bukan khusus dari penanganan bencana atau BTT bencana.
Sehingga pihaknya berharap ada alokasi dana khusus untuk penanganan kekeringan. Seperti biaya transportasi, dan konsumsi petugas.
”Syukur-syukur ada diupayakan untuk honor tenaga yang turun mendistribusikan air bersih,” cetusnya.
Selain kekeringan, daerah juga dihadapkan pada kejadian kebakaran yang cendrung meningkat di tengah kondisi kemarau ini.
Lobar saat ini dihadapkan pada musim kemarau, dengan cuaca dingin dan angin kencang. Namun tidak ada hujan, sehingga memicu bencana kekeringan dan kebakaran.
Untuk penanganan warga terdampak kekeringan, Pemkab Lobar membentuk tim penanggulangan kekeringan yang bertugas menyalurkan air bersih.
OPD yang terlibat sudah dijadwalkan penyaluran air bersih, yakni Damkar, BPBD, dan Dinsos.
Begitu juga dengan PMI, Polres Lobar dan PTAM Giri Menang. Damkar mendapatkan tugas penanganan air bersih di kecamatan Lembar, terdiri dari Dusun Pelepok, Dusun Lendang Andus dan Kesambik Rempek.
Menurut Sahlan, perlu ada teknis dan teknologi untuk menyedot air ke daerah yang terdampak kekeringan khususnya wilayah yang berada di dataran tinggi.
Sehingga ini bisa menjadi solusi jangka panjang agar tidak tiap tahun untuk penanganan melalui distribusi air bersih ke warga terdampak.
Lebih lanjut, Sahlan mengatakan selain kekeringan musim kemarau juga memicu kejadian kebakaran. Dimana sampai saat ini terjadi 40 kasus kebakaran.
”Sejak Januari sudah 40 lebih kejadian. Tapi banyak terjadi akhir-akhir ini,” tuturnya.
Damkar mengimbau warga jangan memanfaatkan kondisi kemarau ini untuk bercocok tanam dengan membakar lahan.
Sebab lahan yang kerap terbakar itu di areal pembuktian atau pegunungan sangat membahayakan.
Sementara itu, Kabid Pengendalian dan operasional Dinas Damkar Lobar M. Subaidi mengatakan meski tidak musim kemarau, peristiwa kebakaran memang kerap terjadi.
Ini disebabkan kelalaian manusia seperti konsleting listrik. Beberapa juga disebabkan putung rokok yang dibuang sembarangan. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida